DARI sebuah desa yang lebih sering terdengar suara mesin pencacah plastik daripada gemericik sungai, seorang pelajar SMP bernama Aeshnina Azzahara Aqilani, yang biasa disapa Nina, berani menulis surat protes ke pemimpin dunia. Suara kecilnya justru menggema lebih keras dari pidato para diplomat.
Keberaniannya menegur negara-negara maju soal sampah membuatnya diundang hingga Konferensi Perubahan Iklim PBB di Skotlandia pada pada 31 Oktober – 12 November 2021. Dari Wringinanom, ia melangkah ke forum internasional sambil membawa cerita tentang desa yang dijejali sampah impor dan mimpi sederhana menjaga sungai tetap hidup.
#Remaja Desa yang Menyentil Belanda dan Donald Trump

Dalam usia 14 tahun, (waktu itu) wajar jika kebanyakan anak sibuk memikirkan tugas sekolah atau drama percintaan remaja. Tapi Nina justru memilih aktivitas yang berbeda, menulis surat protes ke negara-negara maju yang doyan mengekspor sampah plastik ke Indonesia. Salah satu suratnya yang paling viral adalah untuk Kedutaan Besar Belanda.
Surat itu berbunyi tegas: “I’m sure the Netherlands have far better ability to provide proper facilities to recycle plastic waste. If you ship the plastic to Indonesia, it will not be treated properly, “ tulis Nina yang ia baca dalam sebuah wawancara dengan TRANS7 Lifestyle dalam program Redaksi Pagi, 3 Desember 2021.
Kalimatnya sederhana, tapi rasanya seperti tamparan diplomatis bersarung sopan. Tidak berhenti di situ, Nina juga mengirim surat ke Donald Trump, Kanselir Jerman, hingga Joe Biden. Semua tujuannya sama, mengingatkan bahwa sampah negara maju tidak hilang secara ajaib hanya karena dikirim ke negara berkembang. Ia menulis karena, seperti katanya sendiri, “Saya prihatin. Desa saya tercemar karena sampah impor.”
#Dari Sungai Tercemar ke Ruang Rapat COP26
Ketegasannya membuat banyak lembaga internasional melirik. Hingga akhirnya, Icha diundang ke Conference of the Parties COP26 di Skotlandia, sebuah forum yang bahkan pejabat senior pun belum tentu dapat undangannya. Di sana, ia mewakili suara korban langsung dari kebijakan limbah global.
Selain Skotlandia, Nina juga pernah menjadi pembicara di acara lingkungan di Amsterdam. Bahkan, ia bermain sebagai salah satu tokoh dalam “Girl for Future”, film dokumenter tahun 2022, perkisahan empat remaja yang menghadapi krisis iklim. Tanpa disengaja, popularitasnya pun menembus media internasional, termasuk Jerman.
Tapi di balik sorotan itu, Nina tetap merasa dirinya biasa saja. “Saya cuma ingin sungai di desa saya bersih. Kalau saya bisa berbicara di forum besar, itu hanya cara untuk menyampaikan apa yang kami rasakan di sini,” ujarnya saat itu.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Lingkungan Keluarga yang Menumbuhkan Keberanian
Keberanian Nina bukan muncul tiba-tiba. Ia tumbuh di keluarga yang terbiasa bicara soal sungai, sampah, dan hak warga atas lingkungan yang sehat. Kedua orang tuanya aktivis lingkungan, tapi mereka mengaku tidak pernah memaksakan Nina mengikuti jejak mereka.
Daru Setyorini Ibunya berkata, “Kami tidak pernah memaksa. Setiap anak punya bakat dan minat sendiri. Kalau Nina memilih peduli lingkungan, itu murni keinginannya.”
Juga ayahnya Prigi Arisansdi mengatakan, “Yang penting mereka hidupnya bermanfaat untuk banyak orang. Kalau mau meneruskan perjuangan kami, tentu kami senang. Tapi pilihan tetap di tangan mereka.”
Meski aktivitas kampanye dan undangan forum internasional cukup padat, Nina tetap menjalani kehidupan remaja seperti biasanya. Ia masih sekolah, masih main dengan teman-temannya, dan masih tinggal di desa yang ia perjuangkan kebersihannya.
Keberaniannya menegur dunia mungkin terdengar besar, tapi baginya itu sederhana saja. Ia hanya ingin masa depan yang tidak dibanjiri plastik. Dan dari Wringinanom, suaranya kini melampaui batas negara.***