Lewati ke konten

Dilema Pasokan Sampah PLTSa Benowo: Solusi Pengolahan Justru Memicu Pencemaran Mikroplastik

| 5 menit baca |Mikroplastik | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Supriyadi
  • PLTSa Benowo butuh pasokan sampah terus-menerus untuk beroperasi. Namun, studi Ecoton dan mahasiswa Unesa, justru mengungkap ancaman baru: udara sekitarnya kini tercemar mikroplastik dan partikel berbahaya melebihi ambang batas WHO.
  • Tak hanya mengatasi timbulan sampah, fasilitas pengolahan kini memicu dilema baru. Penelitian menemukan mikroplastik hingga PM2.5 melayang di udara Surabaya. Apakah udara yang kita hirup masih aman?
  • Fasilitas berteknologi tinggi PLTSa Benowo haus akan sampah, namun dampaknya justru mencemari udara dengan mikroplastik. Saatnya mengevaluasi kebijakan pengelolaan sampah dari hulu sebelum menjadi beban lingkungan.
  • Sebanyak 137 partikel mikroplastik terdeteksi di udara sekitar PLTSa Benowo. Ketika teknologi pengolahan sampah justru melepas polutan tak kasat mata, masihkah hilirisasi menjadi solusi tunggal penanganan sampah?
  • Sampah tak berhenti saat diolah. Di balik megahnya PLTSa Benowo, mikroplastik dan partikulat PM2.5 mengintai udara permukiman. Sebuah dilema besar antara kebutuhan operasional dan hak bernapas lega.

UDARA di sekitar fasilitas pengolahan sampah ternyata tidak hanya mengandung partikulat seperti PM2.5 dan PM10. Penelitian Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama mahasiswa Bilogi Univesritas Negeri Surabaya (Unesa) ini, menemukan partikel mikroplastik di udara sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo, Surabaya.

Dalam penelitian yang dilakukan pada Mei-Juni 2025 ini, ditemukan sebanyak 137 partikel mikroplastik pada seluruh titik pengambilan sampel. Sampel udara diambil di enam titik dengan mempertimbangkan jarak dari PLTSa dan arah angin dominan untuk melihat pola sebaran mikroplastik.

Kepala Laboratorium Ecoton Rafika Aprilianti mengatakan, enam titik sebagai lokasi penelitian terdiri atas titik paling jauh dari PLTSa sebagai pembanding (T1), titik dengan jarak sedang (T2), serta dua titik yang berada dekat PLTSa (T3 dan T4).

BACA JUGA:  Mikroplastik Menginvasi Otak Manusia, Riset Global Ungkap Bahaya Baru yang Tak Terlihat

“Sementara titik crosswind di sisi samping arah angin utama yang kami namai T5, serta titik kontrol yang berjarak lebih dari satu kilometer dari PLTSa di kawasan permukiman, yang kami namai T6,” ujar Rafika, Selasa (6/10/2026).

Hasil penelitian, lanjut Rafika, menunjukkan mikroplastik ditemukan di seluruh lokasi pengamatan.

“Partikel yang ditemukan terdiri atas fiber, fragmen, dan film. Fiber dan film menjadi jenis yang paling dominan. Ukuran partikelnya juga beragam, mulai dari 8,1 mikrometer hingga 1.821 mikrometer,” jelasnya.

Peta titik pengambilan sampel udara di sekitar PLTSa Benowo, Surabaya, menunjukkan sebaran lokasi penelitian mikroplastik atmosferik serta pengukuran konsentrasi PM2.5 dan PM10. | Dok. Ladya Dwi Kurnia Putri

PM2.5 mencapai 36 µg/m³

Selama penelitian, tim juga mengukur konsentrasi partikulat udara di sekitar PLTSa. Konsentrasi PM2.5 tertinggi ditemukan pada titik dengan jarak sedang dari PLTSa, yakni mencapai 36 µg/m³.

Sementara konsentrasi PM10 tertinggi ditemukan pada salah satu titik yang berada dekat PLTSa, mencapai 44 µg/m³.

Sebagai pembanding, nilai panduan WHO untuk PM2.5 dalam paparan rata-rata 24 jam adalah 15 µg/m³. Dengan demikian, angka PM2.5 tertinggi yang terukur dalam penelitian tersebut berada lebih dari dua kali nilai panduan tersebut.

Temuan mikroplastik juga diperkuat dengan analisis menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Pada sampel dari area terdekat dengan PLTSa, analisis mengidentifikasi polyethylene (PE), khususnya low-density polyethylene (LDPE).

PE merupakan jenis plastik yang banyak digunakan dalam kantong plastik, kemasan, dan berbagai produk plastik sekali pakai.

“Temuan kami menunjukkan bahwa keberadaan sampah plastik tidak berhenti ketika sampah dikumpulkan dan dibawa ke fasilitas pengolahan. Karena dalam rangkaian pengelolaan sampah, terdapat potensi munculnya partikel plastik berukuran kecil yang tidak bisa dilihat mata kita. Kemudian benda ini menyebar di lingkungan,” urai Rafika.

Mikroplastik sudah ditemukan di 18 kota

Di tempat yang sama, Koordinator Pendidikan Ecoton Erica Damayanti mengungkapkan, temuan di Benowo ini, bisa dibilang merupakan bagian dari konteks persoalan yang lebih luas. Ecoton sendiri dalam penelitiannya, telah menemukan mikroplastik di udara di 18 kota di Indonesia.

“Artinya, keberadaan mikroplastik di udara ini (PLTSa Benowo), tidak hanya menjadi persoalan di sekitar satu fasilitas pengolahan sampah saja. Tetapi pencemaran ini telah ditemukan di berbagai wilayah dan dapat berkaitan dengan beragam aktivitas manusia, termasuk pengelolaan dan pembakaran sampah yang tidak tepat,” ucap Erica.

Karena itu, lanjut Erica, persoalan mikroplastik tidak cukup dilihat hanya dari bagaimana sampah yang sudah dihasilkan dapat diolah atau dihabiskan.

“Tetapi ada persoalan lain yang harus dituntaskan, yaitu di bagian hulu. Mengapa sampah tersebut terus diproduksi dan bagaimana menguranginya sejak dari sumber? Di situlah pertanyaannya,” ucap Erica.

Pembakaran sampah secara terbuka menghasilkan asap pekat di sekitar tumpukan sampah. Praktik ini berpotensi melepaskan berbagai polutan ke udara dan mencemari lingkungan. | Dok. Ecoton

Ketika PLTSa membutuhkan sampah

PLTSa selama ini diposisikan sebagai salah satu teknologi menangani timbulan sampah. Namun, yang terjadi, fasilitas yang dibangun atas biaya negara itu, juga membutuhkan pasokan sampah secara terus-menerus agar dapat beroperasi.

Di titik inilah muncul pertanyaan mengenai arah kebijakan pengelolaan sampah. Semakin banyak sampah yang tersedia untuk dibakar, semakin besar pula kebutuhan terhadap pasokan sampah.

“Kondisi ini perlu dilihat bersama, sejauh mana prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, yang menempatkan pengurangan timbulan sampah berjalan, sebagai bagian penting dari pengelolaan sampah,” kata Erica.

“Dengan kata lain, persoalannya bukan semata bagaimana mengolah sampah yang sudah ada. Tetapi juga bagaimana mengurangi sampah, sebelum menjadi beban lingkungan. Ini kan dilema, kan?,” kata Rafika menandaskan.

BACA JUGA:  Ngobrol Santai bareng Natasya: Awalnya "Buntu", Sekarang Hafal Nama Ikan Kali Surabaya

Temuan mikroplastik ini justru memperluas pertanyaan tentang kualitas udara di sekitar PLTSa Benowo. Jika partikel plastik berukuran sangat kecil telah ditemukan di udara sekitar aktivitas pengelolaan sampah, maka persoalan sampah tidak lagi berhenti pada tempat pembuangan, pengangkutan, maupun teknologi pengolahannya.

“Hal ini harus menyentuh pada sesuatu yang jauh lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari, yaitu udara yang kita hirup. Sebab pada akhirnya, persoalan yang sebenarnya sederhana ini, juga memunculkan pertanyaan, bagaimana memastikan kita bisa bernapas tanpa khawatir ikut menghirup mikroplastik?” pungkas Erica.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *