Lewati ke konten

Ecoton Temukan Mikroplastik 10 Mikron pada Ikan Kali Surabaya

| 6 menit baca |Mikroplastik | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Ecoton menemukan mikroplastik berukuran 10 mikron pada ikan Kali Surabaya. Lima jenis ikan menyimpan 159 partikel plastik yang tersembunyi di dalam lambung.
  • Sampah plastik di Kali Surabaya ternyata tak berhenti di bantaran. Ecoton menemukan 159 partikel mikroplastik dalam lambung lima jenis ikan sungai.
  • Mikroplastik berukuran 10 mikron ditemukan dalam tubuh ikan Kali Surabaya. Dari 71 ikan yang disensus, 80 persen teridentifikasi berkelamin betina.
  • Dari Palung hingga Jendil, lima jenis ikan Kali Surabaya ditemukan mengandung mikroplastik. Total 159 partikel teridentifikasi dalam pemeriksaan organ lambung.
  • Sebanyak 71 ikan disensus Ecoton di Kali Surabaya. Jendil mendominasi tangkapan, sementara 80 persen ikan yang diperiksa berkelamin betina.

PARTIKEL mikroplastik berukuran 10 mikron ditemukan dalam sampel air dan spesimen ikan di Kali Surabaya. Temuan diperoleh tim peneliti Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), melalui analisis laboratorium menggunakan Mikroskop CX 33.

Partikel berukuran 10 mikron setara dengan 0,01 milimeter atau 1/100 milimeter. Karena ukurannya sangat kecil, keberadaannya tidak dapat diamati dengan mata biasa. Mikroskop CX 33 ini, digunakan membantu mengidentifikasi partikel mikroplastik yang ditemukan dalam sampel.

“Temuan kami ini menunjukkan kalau pencemaran plastik di Kali Surabaya ini, tidak hanya sampah yang menumpuk di bantaran sungai saja, seperti yang kita lihat. Plastik yang masuk ke badan air dapat terfragmentasi menjadi partikel berukuran mikro. Kemudian kami temukan dengan menggunakan Mikroskop CX 33 pada organisme (ikan) di perairan,” ujar Prigi Arisandi, peneliti senior sekaligus pendiri Ecoton, Ahad, 4 Oktober 2026.

Prigi menjelaskan, mikroplastik termasuk kelompok senyawa. Menurut kajian penelitiannya dapat mengganggu sistem hormon. Keberadaannya di perairan, kata dia, sangat berpotensi memengaruhi proses pertumbuhan dan pembentukan kelamin ikan.

BACA JUGA:  Bukan Sekadar Teori Kampus: Cerita Nadhira Meneliti Mikroplastik hingga Edukasi Isi Ulang

“Mikroplastik masuk kategori senyawa pengganggu hormon. Keberadaannya di air sungai akan berpengaruh pada terbentuknya kelamin ikan, dan bila masuk ke dalam organ tubuh akan memengaruhi pertumbuhan ikan,” ujar Prigi.

159 Partikel Mikroplastik Ditemukan dalam Lambung Ikan

Temuan Ecoton ini diperoleh antara lain, melalui pembedahan organ lambung lima jenis ikan hasil tangkapan di Kali Surabaya. Dari lima spesies tersebut, peneliti menemukan 159 partikel mikroplastik.

Kelima jenis ikan itu adalah Palung, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, dan Jendil.

Data pemeriksaan lima jenis ikan di Kali Surabaya menunjukkan temuan 159 partikel mikroplastik. Jendil memiliki temuan terbanyak, yakni 50 partikel, disusul Rengkik 40 partikel dan Bader Merah 27 partikel. | Sumber: Ecoton

Dari total 159 partikel, mikroplastik didominasi jenis fragmen atau serpihan plastik sebesar 78,61 persen. Berikutnya adalah fiber atau serat sebesar 20,12 persen, sedangkan film atau lembaran plastik tipis mencapai 1,25 persen.

Temuan mikroplastik pada organ ikan menjadi perhatian Ecoton. Karena ikan merupakan bagian penting dari ekosistem perairan. Keberadaan partikel di dalam tubuh ikan menunjukkan bahwa pencemaran plastik tidak berhenti pada lingkungan fisik saja. Tetapi telah masuk ke organisme yang hidup di dalam ekosistem sungai.

Mikroplastik dan Sistem Reproduksi Ikan

Menurut Prigi, persoalan mikroplastik juga perlu dilihat dari sisi reproduksi ikan. Pada banyak jenis ikan, proses pembuahan berlangsung di luar tubuh. Sel sperma dan telur dilepaskan ke lingkungan perairan sebelum terjadi pembuahan.

“Kalau kita mau detail memahami, sistem pembuahan ikan atau bertemunya sperma dan sel telur itu terjadi di air, atau di luar organ tubuh ikan. Mikroplastik di perairan ini berperan sebagai senyawa pengganggu hormon yang mendorong terbentuknya kelamin betina, karena ikan menganggap mikroplastik sebagai hormon estrogen,” terang Prigi.

Meski demikian, Prigi mengatakan bahwa temuannya masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara paparan mikroplastik dan perubahan komposisi jenis kelamin ikan.

BACA JUGA:  Tak Masuk Pemenang GENKBZ, Refilin Konsisten Bangun Greenpreneur Muda

“Kita tetap memerlukan pembuktian melalui penelitian eksperimental dan analisis selanjutnya atau lebih mendalam,” ucapnya.

Karena itu, data mikroplastik dan komposisi jenis kelamin ikan dalam penelitian Ecoton menjadi temuan awal. “Tapi ini masih perlu kami tindaklanjuti dengan penelitian eksperimental yang lebih mendalam, “ lanjut Prigi.

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menunjukkan ikan jendil hasil tangkapan dalam kegiatan Sensus Ikan Kali Surabaya. | Foto: M Iffan

71 Ikan Disensus, 80 Persen Berkelamin Betina

Temuan mikroplastik yang dilakukan Ecoton ini, merupakan bagian dari kegiatan Sensus Ikan yang digelar pada 12–13 September 2026. Dalam kegiatan itu, tim menangkap dan mengidentifikasi 71 ekor ikan dari tujuh jenis, yakni Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem/Muntho, dan Muraganting.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Jendil menjadi jenis ikan dengan jumlah tangkapan terbanyak, yakni 44 ekor atau sekitar 62 persen dari total ikan yang diamankan.

Dari keseluruhan ikan yang diperiksa dalam sensus tersebut, 80 persen teridentifikasi berkelamin betina.

Komposisi ikan menjadi perhatian Ecoton. Menurut Prigi, komposisi jenis kelamin merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk membaca kondisi suatu populasi ikan.

“Dalam Sensus Ikan yang kami lakukan, kami menangkap dan mengidentifikasi 71 ekor ikan dari tujuh jenis. Komposisi jenis kelamin merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan melihat kondisi dan kesehatan suatu populasi ikan di Kali Surabaya,” ujar Prigi.

Namun, tingginya proporsi ikan betina dalam sensus tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa mikroplastik menjadi penyebab utama, perubahan komposisi jenis kelamin. Diperlukan penelitian lanjutan, menguji hubungan antara paparan mikroplastik, gangguan hormonal, perkembangan gonad, dan jenis kelamin ikan.

BACA JUGA:  Meredam Metana dari Dapur: Bagaimana Riset Sampah di Kota Batu Mempercepat Target Emisi Nol?
Dua ikan jendhil hasil tangkapan nelayan diukur panjang tubuhnya dalam Sensus Ikan Kali Surabaya 2026. | Foto: Fully Syafi

Tata Kelola Sampah dan Limbah Dipersoalkan

Sementara itu, Koordinator Pendidikan Lingkungan Ecoton, Erica Damayanti mengatakan, tingginya mikroplastik ini, tidak dapat dilepaskan dari persoalan tata kelola sampah dan pencemaran di sepanjang Kali Surabaya.

Menurut Erica, persoalan ini sangat berkaitan dengan pengawasan terhadap aktivitas industri, serta kebiasaan masyarakat membuang sampah ke Kali Surabaya.

“Bisa jadi karena lemahnya pengawasan, pembiaran limbah industri, dan pembuangan sampah oleh warga di sepanjang Kali Surabaya,” ujarnya.

Kali Surabaya melintasi sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Surabaya. Sepanjang alirannya, sungai menghadapi tekanan dari aktivitas permukiman, industri, pertanian, serta timbulan sampah.

Erica mengatakan persoalan pencemaran tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Pengelola sungai, pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran memiliki peran dalam menjaga kualitas ekosistem.

“Fenomena kepunahan massal fauna di Kali Surabaya sebenarnya sudah disadari khalayak. Hanya saja, belum ada komitmen bersama, baik dari stakeholder pengelola Kali Surabaya, industri pembuang limbah, maupun masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai tersebut,” kata Erica.

Temuan mikroplastik berukuran 10 mikron yang Ecoton, menunjukkan bahwa pencemaran Kali Surabaya, terjadi tidak mudah dilihat.

“Persoalannya di sini kemudian tidak berhenti pada keberadaan sampah di sungai. Tetapi ketika partikel masuk ke tubuh ikan, pencemaran plastik menjadi bagian dari persoalan ekologis yang perlu dipantau melalui penelitian dan pengawasan kualitas sungai, “ jelas Erica.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *