Lewati ke konten

Kelas Pintar Banyu Urip Surabaya Semai Generasi Unggul

| 4 menit baca |Ide | 40 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

Inisiatif pemuda Karang Taruna Banyu Urip menghadirkan ruang belajar alternatif bahasa Inggris bagi anak-anak, menjawab keresahan orang tua, sekaligus membangun karakter dan percaya diri sejak dini.

Kelurahan Banyu Urip, Surabaya, dikenal dengan kepadatannya. Namun di kelurahan itu ada sebuah acara sederhana yaitu di Gedung Remaja Balai RW 06 berubah fungsi setiap dua kali dalam sebulan.

Bukan untuk rapat warga atau pertemuan rutin, melainkan menjadi kelas bahasa Inggris bagi anak-anak sekitar. Program itu diberi nama “Kelas Pintar”.

Penggagasnya adalah Karang Taruna Banyu Urip. Para pemuda ini menangkap kegelisahan yang sama dari banyak orang tua: waktu luang anak-anak yang kian tak terarah. Gawai menjadi teman setia. Konten digital tak selalu ramah. Aktivitas produktif di luar sekolah terasa terbatas.

Alih-alih mengeluh, mereka memilih bertindak. Diskusi demi diskusi digelar. Pilihan akhirnya mengerucut pada pendidikan non-formal berbasis bahasa Inggris. Bahasa ini dianggap sebagai bekal dasar menghadapi persaingan yang kian terbuka.

Program yang tak hanya mengenalkan kursus tambahan, seperti kebanyak terjadi. Tapi Kelas Pintar itu dirancang sebagai ruang belajar alternatif yang santai namun terstruktur.

Anak-anak dari berbagai RW di Banyu Urip bisa ikut serta tanpa biaya tinggi. Waktu pelaksanaan dipilih setiap Minggu pada pekan kedua dan ketiga, agar tidak berbenturan dengan sekolah formal.

Dukungan datang dari kelurahan dan tokoh masyarakat setempat. Fasilitas ruangan disediakan. Para pengajar berasal dari anggota Karang Taruna sendiri yang memiliki kompetensi dan bersedia mengajar secara sukarela. Gotong royong menjadi tulang punggung program ini.

#Belajar Tanpa Rasa Takut

Dari sudut kelurahan, generasi kecil mulai menatap dunia dengan percaya diri dan bahasa Inggris. | Foto: Ulung

Di dalam kelas, suasana jauh dari kesan formal. Anak-anak duduk melingkar. Lagu berbahasa Inggris diputar. Permainan kelompok menjadi bagian dari metode belajar. Tawa terdengar lebih sering daripada teguran.

Vania Sholehah, Koordinator Pengajar Kelas Pintar, mengatakan pendekatan ini sengaja dirancang untuk menghapus rasa takut anak pada bahasa asing.

“Kami tidak ingin Kelas Pintar menjadi beban baru bagi anak-anak setelah mereka lelah dengan tugas sekolah. Di sini, kami belajar sambil bermain. Fokusnya adalah agar mereka berani bicara dulu, berani mencoba dulu. Materi yang kami berikan sangat aplikatif untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Vania saat ditemui di sela-sela kegiatan, aRabu, (12/2/2026).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Metode interaktif menjadi kunci. Media visual, kartu kosakata, dialog sederhana, hingga simulasi percakapan sehari-hari dipakai untuk memperkenalkan struktur kalimat. Tata bahasa tidak diajarkan sebagai rumus yang harus dihafal, melainkan dipraktikkan secara alami.

Pendekatan ini menjawab hambatan klasik pembelajaran bahasa Inggris di sekolah: ketakutan melakukan kesalahan. Di Kelas Pintar, salah bukan aib. Salah adalah proses.

Beberapa anak yang semula hanya berbisik kini mulai berani memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Mereka menyebut nama, usia, dan hobi dengan kalimat sederhana. Perubahan itu mungkin kecil, tetapi signifikan bagi rasa percaya diri mereka.

#Membangun Fondasi Karakter

Tawa, lagu, dan kosa kata baru berpadu dalam suasana belajar tanpa takut salah di Banyu Urip. | Foto: Ulung

Bagi Karang Taruna Banyu Urip, bahasa Inggris hanyalah pintu masuk. Tujuan yang lebih besar adalah pembentukan karakter. Vania menjelaskan tiga pilar utama program ini.

Pertama, peningkatan kemampuan akademik. Anak-anak dibekali dasar bahasa Inggris agar tidak tertinggal di sekolah formal. Kedua, wadah sosialisasi positif. Kelas ini mempertemukan anak-anak dari berbagai RW sehingga tercipta jejaring pertemanan yang lebih luas. Ketiga, pembangunan kepercayaan diri.

Melalui presentasi singkat dan sesi tanya jawab dalam bahasa Inggris, mentalitas “berani tampil” dipupuk. Anak-anak didorong untuk berdiri di depan teman-temannya, menyampaikan kalimat sederhana tanpa rasa malu.

“Program ini kami harapkan bisa menjadi pondasi awal bagi mereka. Tantangan pendidikan di masa depan akan semakin berat, dan persaingan global sudah di depan mata. Jika mereka punya rasa percaya diri dan kemampuan dasar yang kuat, mereka tidak akan kaget saat melangkah ke jenjang yang lebih tinggi,” tambah Vania dengan nada optimis.

Ke depan, Karang Taruna Banyu Urip berencana memperluas jangkauan Kelas Pintar ke RW lain di kelurahan tersebut. Harapannya, lebih banyak anak dapat merasakan manfaatnya. Program ini menjadi contoh bahwa perubahan tidak selalu menunggu kebijakan besar atau anggaran raksasa.

Di tengah wacana nasional tentang kualitas pendidikan dan bonus demografi, inisiatif kecil di tingkat kelurahan ini menunjukkan arah berbeda. Dari ruang sederhana, para pemuda menanam benih. Benih itu adalah anak-anak yang kini lebih percaya diri menyapa dunia dengan “Hello!”—sebuah kata pembuka yang mungkin menjadi awal perjalanan panjang mereka.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *