Lewati ke konten

Era Semua Orang Jadi Kreator, Tapi Siapa yang Sungguh Didengarkan

| 9 menit baca |Etalase | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Dulu, kalau ada orang bikin konten lalu masuk TV atau dimuat di koran, itu momen langka. Ada rasa tercatat, seperti namanya ditulis kecil di sejarah. Sekarang, setiap orang bangun tidur sudah bisa jadi produser, editor, sekaligus talent, hanya dengan buka kamera depan dan aplikasi favoritnya.

Masalahnya sederhana dan pahit, produksi konten naik, tapi kapasitas otak manusia untuk memperhatikan tetap segitu segitu saja. Di titik ini, konten bukan lagi soal siapa yang bisa bikin, tetapi siapa yang masih sanggup didengar.

Kita hidup di era ketika semua orang punya mikrofon, tetapi jumlah telinga tidak pernah bertambah.

Sekelompok anak muda membuat konten di ruangan apartemen yang remang
Studio konten hari ini bisa berupa ruang tamu sempit yang tidak pernah benar benar sepi layar

#Era ketika konten lahir tanpa antre

Dulu, bikin konten butuh modal dan akses. Butuh kamera yang bukan sekadar kamera ponsel, butuh software yang tidak gratis, butuh komputer yang kuat, butuh jaringan distribusi. Ada antrean tak kasatmata yang memisahkan penonton dan pembuat.

Sekarang, antrean itu hampir habis. Aplikasi edit video jalan di ponsel kelas menengah, musik bisa digarap pakai template, thumbnail bisa jadi dalam hitungan menit, dan semua itu bisa dikirim ke jutaan orang dengan satu tombol kirim.

Ini kabar baik dan kabar buruk dalam satu paket.

Kabar baiknya, orang yang dulu tidak punya akses kini bisa bercerita. Ada suara suara baru yang sebelumnya tidak mungkin terdengar. Tidak perlu menunggu stasiun televisi, tidak perlu mengetuk pintu penerbit. Cukup jempol, kuota, dan sedikit keberanian.

Kabar buruknya, kalau semua orang bisa siaran, linimasa berubah dari jalan kampung yang sepi menjadi jalan raya jam pulang kantor. Penuh. Bising. Kadang bikin pusing.

Konten yang lahir tanpa antre membuat dunia terasa lebih ramai, tetapi juga lebih susah didengarkan dengan seksama.

#Algoritma bukan jahat, hanya lapar data

Banyak orang marah pada algoritma, seolah ia makhluk gelap yang hobi memilih pemenang dan mengubur sisanya. Padahal kalau dilihat agak dingin, algoritma hanya punya satu tugas, menjaga orang tetap bertahan di aplikasi selama mungkin.

Supaya tugas itu berhasil, algoritma harus belajar satu hal, apa yang membuat kita tetap menatap layar. Suka atau tidak, itu artinya ia diberi insentif untuk menyajikan hal hal yang memicu reaksi, bukan sekadar hal yang bermanfaat.

Konten yang memancing emosi akan naik, konten yang datar akan tenggelam. Kadang, manfaat ikut naik bersama emosi. Tapi sering juga, manfaat tertinggal di bawah.

Masalahnya bukan cuma pada kreator, tetapi juga pada penonton yang diam diam ikut mendidik algoritma. Setiap kali kita berhenti lebih lama di satu video, setiap kali klik bagikan, setiap kali marah marah di kolom komentar, kita sedang mengisi formulir diam diam, seperti berkata ke sistem, tolong kirim lebih banyak seperti ini.

Di tengah semua ini, konten bagus bukan berarti konten menang. Konten yang didengar belum tentu konten paling berkualitas, ia hanya yang paling cocok dengan kebiasaan jari dan mata manusia yang lelah dan ingin hiburan cepat.

Meja kerja remang dengan layar yang menampilkan AI dan timeline video
Sebagian kerja kreatif kini dikerjakan senyap oleh jendela AI di sudut layar

#AI masuk panggung, biaya produksi jatuh bebas

Beberapa tahun lalu, butuh waktu berjam jam untuk menulis artikel, menyiapkan naskah video, merapikan caption, mencari ide. Sekarang, banyak bagian dari proses itu bisa dipercepat oleh AI.

Ide judul bisa digodok dalam hitungan detik. Kerangka artikel bisa muncul tanpa harus menatap layar kosong terlalu lama. Naskah video bisa dirapikan dari catatan acak. Bahkan wajah dan suara bisa diganti dengan model digital.

Biaya produksi turun, bukan hanya dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk energi dan waktu. Hal yang dulu mengerikan karena butuh usaha besar, kini bisa dicoba sekadar untuk iseng.

Kalau dulu hanya sebagian orang yang sanggup konsisten membuat konten, sekarang hampir semua orang bisa ikut antre mengisi linimasa. AI bukan hanya menambah jumlah kreator, tapi juga memperbanyak volume konten dari kreator yang sama.

Yang dulu sanggup unggah seminggu sekali, kini bisa setiap hari. Yang dulu setiap hari, sekarang bisa beberapa kali sehari. Mesin kreatif tidak lagi berhenti karena lelah, karena sebagian tugasnya sudah dialihkan ke algoritma yang tidak pernah mengantuk.

Di sinilah paradoksnya, alat yang dimaksudkan untuk membantu kreator bersinar, justru ikut membuat panggung semakin penuh sesak.

#Dari kelangkaan ke banjir, nilai konten bergeser

Ketika sesuatu langka, manusia cenderung menghargainya lebih tinggi. Dulu, menunggu video mingguan dari kreator favorit terasa seperti menunggu jadwal tayang serial televisi. Ada jeda yang menciptakan rindu kecil.

Sekarang, jeda itu menghilang. Kreator dituntut terus hadir, terus mengisi, terus muncul, karena kalau berhenti sebentar, algoritma bisa dengan cepat menggantikan dengan yang lain. Penonton jarang menunggu, mereka hanya pindah.

Nilai konten pelan pelan bergeser. Dari sesuatu yang dinikmati sampai habis, menjadi sesuatu yang dicicip sebentar lalu diganti. Seperti tester makanan di supermarket, dicoba satu gigitan, lalu pindah ke stan berikutnya.

Dalam kondisi ini, kreator bukan hanya berkompetisi pada tingkat kualitas, tetapi pada kecepatan dan frekuensi. Konten tidak lagi dinilai satu per satu, melainkan sebagai arus yang tidak boleh putus.

Pertanyaannya, seberapa lama manusia sanggup hidup di dalam banjir yang mereka buat sendiri.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Seorang kreator duduk lelah di depan ring light dalam kamar kecil
Di balik konten ringan sering ada seseorang yang sudah lama tidak benar benar istirahat

#Kreator di tengah treadmill tanpa tombol stop

Di balik video yang tampak ringan, sering ada seseorang yang berlari di atas treadmill tak terlihat. Setiap hari memikirkan, hari ini harus unggah apa, besok konten apa, kapan harus kolaborasi, kapan harus ganti format.

Ada ketakutan yang pelan pelan tumbuh, kalau berhenti sebentar, nanti hilang dari peredaran. Bukan cuma masalah angka, tetapi identitas. Ketika kalimat gue ini kreator jadi bagian besar dari siapa diri kita, menurunkan frekuensi konten bisa terasa seperti mundur dari panggung.

AI yang seharusnya mengurangi beban kadang malah menambah standar. Kalau mesin saja bisa bantu bikin tiga konten per hari, kenapa kamu cuma satu. Kalau orang lain sudah pakai AI untuk mempercepat, kenapa kamu masih pelan.

Treadmill ini tidak punya tombol stop global. Setiap kreator harus menemukan cara berhentinya sendiri, dan tidak semua berhasil. Ada yang pelan pelan kehabisan tenaga, ada yang tetap lari sambil pura pura santai.

Di tengah kejar tayang ini, kualitas bisa bertahan sebentar, tetapi sulit dipertahankan kalau semua hal harus selalu cepat. Konten yang seharusnya lahir dari pengamatan dan kedalaman, berubah menjadi sesuatu yang lahir dari rasa takut ketinggalan.

#Media dan brand ikut antre di satu layar kecil

Tidak hanya kreator individu yang berdesakan di linimasa. Media, brand, institusi, semua ikut mencoba masuk ke layar yang sama. Setiap pihak membawa agenda masing masing, tetapi memperebutkan dua hal yang sama, waktu dan perhatian.

Media membawa berita dan analisis. Brand membawa promo dan kampanye. Kreator membawa cerita dan persona. Semua berebut ruang di satu gawai yang sering dipegang dengan satu tangan, di sela perjalanan, antrean, atau waktu senggang lima menit.

Di tingkat industri, ini menciptakan tekanan baru. Media yang dulu terbiasa mengukur kesuksesan lewat pembaca dan tayangan, kini harus berhadapan dengan metrik lain, retensi, waktu tonton, keterlibatan. Mereka yang inovatif beradaptasi, mereka yang lambat pelan pelan tergerus.

Brand pun tidak cukup hanya beriklan, mereka harus menjadi semacam kanal hiburan kecil. Harus lucu, harus relevan, harus emosional, tetapi tetap jualan. Garis antara konten dan iklan menipis, dan penonton sering kali harus menebak, ini lagi diajak ngobrol atau lagi ditawari sesuatu.

Di tengah semua ini, ruang untuk hening semakin menyempit. Linimasa jarang benar benar kosong. Selalu ada sesuatu yang minta untuk diklik, diunggah, atau disimpan.

Seseorang menatap ponsel dengan wajah lelah di kamar gelap
Di balik statistik tayangan ada orang yang sekadar ingin istirahat sebentar dari hari panjangnya

#Penonton bukan angka, tetapi manusia lelah

Di sisi lain layar ada manusia yang lelah. Ia membuka ponsel bukan untuk mencari perang opini, bukan untuk berdebat di komentar, tetapi sekadar ingin istirahat sebentar dari hari yang panjang.

Namun begitu aplikasi dibuka, yang datang bukan sekadar hiburan, tetapi juga tuntutan halus. Tuntutan untuk punya pendapat. Tuntutan untuk selalu update. Tuntutan untuk tahu semua tren yang orang lain bicarakan.

Pelan pelan, konsumsi konten berhenti menjadi bentuk rekreasi, dan bergeser menjadi kerja mental. Harus menimbang, ini perlu disimpan atau tidak, perlu direspons atau tidak, perlu dipercaya atau tidak.

Tidak heran kalau kemudian muncul istilah seperti doomscrolling, kecanduan notifikasi, kelelahan digital. Manusia dipaksa berhadapan dengan informasi lebih banyak dari yang sanggup ia cerna dengan sehat.

Penonton bukan angka di dasbor. Mereka punya batas, punya hari buruk, punya malam ketika yang mereka butuhkan bukan konten baru, tapi keheningan yang tidak diukur dengan menit tonton.

#Jalan keluar, pelan tapi sengaja

Di tengah banjir seperti ini, mungkin jalan keluarnya bukan membangun bendungan raksasa, tetapi memperbaiki cara kita berenang.

Bagi kreator, itu bisa berarti berani menurunkan frekuensi dan menaikkan kedalaman. Memilih untuk tidak selalu mengejar yang sedang tren, dan memberi ruang untuk eksperimen yang tidak selalu viral tetapi jujur. Menerima bahwa tidak semua konten harus tampil prima di angka, selama ia penting untuk diri sendiri dan audiens yang benar benar peduli.

Bagi media, itu bisa berarti kembali ke pertanyaan sederhana, kenapa artikel ini harus ada. Kalau jawabannya hanya karena takut ketinggalan kata kunci, mungkin lebih baik berhenti sejenak dan menulis sesuatu yang benar benar memberi perspektif.

Bagi penonton, ini bisa dimulai dari langkah kecil yang terlihat sepele, berhenti mengikuti akun yang membuat lelah, membatasi waktu di aplikasi tertentu, memberi izin pada diri sendiri untuk tidak tahu semua hal. Mengizinkan algoritma pelan pelan berubah karena kebiasaan baru yang lebih sehat.

Teknologi tidak akan mundur, AI tidak akan menghilang, platform tidak akan tiba tiba menjadi sepi. Yang bisa berubah adalah cara kita memilih hadir di dalamnya.

Meja kerja gelap dengan laptop tertutup dan ponsel yang tidak menyala
Kadang yang paling penting bukan menambah konten, tetapi memberi ruang untuk keheningan

#Memilih untuk hadir bukan sekadar muncul

Era ketika semua orang bisa produksi konten seharusnya menjadi kabar baik. Lebih banyak suara, lebih banyak cerita, lebih banyak sudut pandang. Namun tanpa kesadaran, ia juga bisa berubah menjadi kebisingan yang membuat semua suara terdengar mirip.

Di dunia di mana semua bisa muncul di layar, mungkin bentuk kemewahan baru adalah kemampuan untuk benar benar hadir. Bukan hanya muncul setiap hari, tetapi punya sesuatu yang pantas didengarkan, meski hanya oleh seribu orang, seratus orang, atau bahkan sepuluh orang yang benar benar peduli.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bergeser. Bukan lagi, bagaimana caranya supaya lebih banyak yang melihat konten saya, tetapi, untuk siapa sebenarnya saya berbicara, dan kenapa.

Kalau dua pertanyaan itu bisa dijawab dengan jujur, angka mungkin tetap naik turun, algoritma mungkin berubah lagi, AI mungkin tambah pintar, tetapi satu hal tetap sama, ada manusia di seberang layar yang merasa tidak sendirian ketika menonton atau membaca. Dan di tengah banjir konten yang tidak berhenti, rasa tidak sendirian itu jauh lebih berharga daripada sekadar viral sesaat.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *