Pelepasan satwa fangsheng di Mangrove Gunung Anyar Surabaya mempertemukan nilai welas asih dan sains ekologi. YBA bersama Ecoton menunjukkan bahwa praktik spiritual dapat berjalan selaras dengan upaya restorasi lingkungan, perlindungan pesisir, serta kesadaran publik menjaga keseimbangan alam berkelanjutan.
#Welas Asih yang Dimaknai Lebih Dalam
Suasana pagi di kawasan Mangrove Gunung Anyar, Surabaya, Sabtu, 13 Desember 2025, terasa berbeda. Di antara rimbun akar bakau, para peserta kegiatan fangsheng melangkah perlahan, seolah memahami bahwa alam tidak membutuhkan seremoni, melainkan ketulusan serta kehati-hatian dalam setiap tindakan yang menyentuh ekosistemnya.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Young Buddhist Association (YBA) berkolaborasi dengan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) sebagai upaya memaknai ulang praktik fangsheng. Pelepasan satwa tidak lagi dipandang sekadar ritual keagamaan semata, melainkan tindakan sadar yang mempertimbangkan dampak ekologis jangka panjang bagi habitat pesisir.
Ketua YBA, Edwin Kamijaya, menegaskan pentingnya perubahan cara pandang tersebut. “Fangsheng adalah praktik welas asih yang mengajarkan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup. Namun di era krisis lingkungan, welas asih harus disertai tanggung jawab dan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Menurut Edwin, niat baik tanpa pemahaman ekologis justru berpotensi menciptakan kerusakan baru. “Pelepasan satwa yang tidak tepat dapat mengganggu keseimbangan alam dan merugikan makhluk hidup lain yang telah lebih dulu menempati ekosistem yang ada, “ jelasnya.
Melalui pendekatan ini, YBA berharap umat dan masyarakat luas dapat memahami bahwa praktik spiritual mampu menjadi kekuatan positif bagi lingkungan, ketika dilakukan dengan kesadaran ekologis dan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan alam.

#Satwa Dilepas, Alam Dipulihkan
Satwa yang dilepas dalam kegiatan fangsheng ini dipilih berdasarkan peran ekologisnya. Sebanyak 90 kilogram ikan kutuk dan belut dilepas ke perairan mangrove, mendukung keseimbangan rantai makanan dan dinamika ekosistem perairan payau di pesisir Surabaya.
Selain itu, 189,27 kilogram kepiting bakau dilepas sebagai bagian penting dari pemulihan mangrove. Kepiting berperan menjaga struktur tanah dan siklus nutrien, membantu mangrove tetap kokoh menghadapi abrasi dan perubahan lingkungan pesisir.
Seekor ular python, biawak dengan bobot total 109 kilogram, kol nenek seberat 3,5 kilogram, serta tiga ekor bulus dan kura-kura juga dilepas di habitat yang dinilai sesuai dan aman. Proses pelepasan dilakukan dengan pengawasan ketat.
Ecoton memastikan seluruh satwa berada dalam kondisi layak dan dilepas di lokasi yang mendukung kelangsungan hidupnya. Pendekatan ini menegaskan bahwa fangsheng bukan sekadar membebaskan, melainkan mengembalikan makhluk hidup ke peran alaminya.
Bagi peserta, pelepasan satwa ini menjadi pengalaman reflektif. Mereka diajak memahami bahwa setiap makhluk memiliki fungsi ekologis, dan keseimbangan alam hanya terjaga jika manusia bertindak dengan pengetahuan dan rasa hormat.
#Mangrove sebagai Benteng Kehidupan Pesisir
Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menekankan bahwa mangrove adalah ekosistem yang sangat spesifik. “Biota yang dilepas harus sesuai dengan karakter ekosistemnya agar dapat bertahan hidup dan menjalankan fungsi ekologisnya,” jelas Prigi saat mengikuti kegiatan ini.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Menurutnya, kesalahan dalam pelepasan satwa dapat mengganggu rantai makanan dan stabilitas ekosistem. Karena itu, pendekatan ilmiah menjadi fondasi utama dalam setiap kegiatan restorasi dan pelepasan satwa di kawasan mangrove.
Mangrove Gunung Anyar memiliki peran strategis bagi Surabaya. Kawasan ini menjadi penyangga alami dari abrasi, pencemaran, serta dampak perubahan iklim yang kian terasa di wilayah pesisir perkotaan.

Akar-akar mangrove menahan sedimen, menyaring limbah, dan menjadi rumah bagi berbagai biota perairan. Ketika ekosistem ini terganggu, risiko banjir rob dan kerusakan pesisir meningkat secara signifikan.
Prigi menilai kolaborasi dengan komunitas keagamaan seperti YBA sebagai langkah penting. “Perlindungan lingkungan membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk pendekatan nilai dan moral,” ujarnya.
#Dari Fangsheng Menuju Gerakan Berkelanjutan
Komitmen YBA tidak berhenti pada pelepasan satwa. Dalam kegiatan ini, YBA menyatakan dukungan nyata terhadap program restorasi lingkungan Ecoton, termasuk pemulihan ekosistem sungai dan kawasan pesisir Surabaya.
Sebesar 10 persen dari total donasi Fangsheng 2025 dialokasikan untuk mendukung program konservasi Ecoton. Langkah ini menegaskan bahwa fangsheng dipahami sebagai bagian dari gerakan jangka panjang, bukan aksi sesaat.
Edwin Kamijaya menyebut dukungan tersebut sebagai wujud tanggung jawab kolektif. “Welas asih harus diterjemahkan dalam tindakan berkelanjutan, bukan hanya simbol spiritual,” katanya.
Bagi Ecoton, dukungan ini memperkuat upaya advokasi dan pemulihan lingkungan yang selama ini dijalankan. Kolaborasi lintas sektor dinilai krusial menghadapi kompleksitas krisis ekologis di wilayah perkotaan.
Melalui fangsheng yang bijak dan berbasis ilmu, kegiatan ini menanam harapan bahwa keseimbangan alam dapat dijaga. Saat satwa kembali ke habitatnya, pesan yang tersisa jelas, masa depan pesisir Surabaya bergantung pada kesadaran manusia hari ini.***