Lewati ke konten

Gen Z dan Sumpah Iklim: Kami Tak Mau Hanya Jadi Penonton

| 3 menit baca |Ekologis | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

ORANG MUDA hari ini tumbuh dalam dunia yang makin panas, makin polusi, dan makin tidak pasti. Mereka sadar, masa ketika perubahan iklim cuma jadi bahan seminar sudah lewat. Buat mereka, krisis ini nyata, terasa di kulit dan paru-paru. Musim hujan datang seperti mood swing, banjir mampir tanpa janji, dan langit makin sering murung oleh asap.

Maka, pada Hari Sumpah Pemuda, suara keresahan itu menggema lebih keras dari teriakan “One, two, three, go green!” dalam konser kampus. Dalam Diskusi Dua-Mingguan Nexus Tiga Krisis Planet bertajuk “Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim” (28/10/205), dua aktivis muda, Febriani Nainggolan dari Climate Rangers dan Dian Irawati dari Kawula17, mengungkap riset yang bikin kita sadar, Gen Z bukan cuma sadar krisis, tapi juga kecewa.

#Paham Iklim, Tapi Masih Dipajang di Panggung

Riset Climate Rangers terhadap 382 anak muda di Jakarta menunjukkan, sebagian besar sudah paham bahwa cuaca ekstrem, banjir, dan polusi bukan kutukan, tapi akibat perubahan iklim. Tapi, 95,5 persen dari mereka masih melihat krisis ini sebatas urusan cuaca, belum sampai ke efek domino seperti kesehatan mental, ketahanan pangan, atau infrastruktur.

“Anak yang lahir tahun 2020 akan menghadapi krisis iklim tujuh kali lebih parah daripada kakeknya,” kata Febri. “Tapi pelibatan anak muda dalam kebijakan masih seremonial. Sekadar pajangan di panggung, bukan pengambil keputusan.”

Kalimatnya jleb — seperti realita yang sering disiram dengan narasi “partisipasi anak muda” padahal cuma undangan foto bareng menteri.

 

#Dari #SaveRajaAmpat sampai #SavePulauPadar: Aktivisme Naik Level

Dari survei Kawula17 terhadap 404 responden, dua masalah utama muncul: pengelolaan sampah yang amburadul (33%) dan kerusakan lingkungan akibat tambang (32%). Isu-isu ini makin ramai diperbincangkan sejak kasus di Raja Ampat dan maraknya perampasan hutan adat yang memantik kampanye digital #SaveRajaAmpat dan #SavePulauPadar.

Tapi yang menarik, dari survei terhadap 1.342 responden muda, 42 persen kini sudah masuk kategori “participant” dan 35 persen “activist.” Artinya, semakin banyak anak muda yang turun tangan. Dari menandatangani petisi, ikut aksi bersih pantai, sampai bikin konten edukatif di TikTok.

Namun, seperti kata Dian, “Anak muda masih sering dianggap beban, bukan pihak yang paling rentan. Padahal mereka yang akan menanggung dampaknya paling lama.”

#Sumpah Pemuda 2.0: Dari Nasionalisme ke Ekologisme

 Febri menegaskan, dunia sudah sepakat dalam Perjanjian Paris untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5°C. Tapi bumi kita sudah naik 1,3°C, dan dalam skenario paling optimistis pun bisa tembus 1,9°C. “Kebijakan iklim Indonesia masih belum cukup ambisius,” katanya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Melalui jaringan Climate Rangers di 32 provinsi, generasi muda Indonesia menuntut dua hal besar, yaitu untuk dunia: keadilan iklim, transisi berkeadilan, dan partisipasi bermakna.

Untuk Indonesia, hentikan solusi palsu, percepat transisi energi bersih, dan buat kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat.

Di tengah semua kegelisahan itu, Gen Z masih menyalakan secercah harapan. Bagi mereka, menjaga bumi adalah bagian dari mencintai Indonesia.

Kalau 1928 adalah Sumpah untuk menyatukan bangsa, maka 2025 ini adalah Sumpah untuk menyelamatkan planet.

Seruan untuk dunia:

  • Kebijakan iklim yang adil dan ambisius
  • Transisi berkeadilan serta keadilan finansial bagi negara berkembang
  • Pertanggungjawaban historis atas emisi masa lalu
  • Partisipasi bermakna bagi generasi muda dalam setiap proses pengambilan keputusan

Tuntutan untuk Pemerintah Indonesia:

  • Pengesahan kebijakan berkeadilan iklim yang konkret dan terukur
  • Penghentian solusi palsu yang justru merusak lingkungan
  • Percepatan transisi energi bersih dan berkeadilan
  • Pendanaan untuk solusi rakyat, bukan korporasi perusak alam
  • Kebijakan yang berpihak pada keadilan lingkungan dan generasi mendatang

Generasi Z tidak hanya menagih janji, tetapi juga menawarkan harapan. Mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa masa depan bumi ditentukan oleh tindakan hari ini, bukan besok, bukan nanti.

Dan pada Hari Sumpah Pemuda, sumpah mereka tegas dan sederhana, “Menjaga bumi adalah bagian dari mencintai Indonesia.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *