Lewati ke konten

GrowGreen dan ECOTON Dorong Pelajar MTsN 2 Sidoarjo Jadi Agen Edukasi Lingkungan Melalui Konten Digital

| 4 menit baca |Mikroplastik | 46 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: GrowGreen Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

KESADARAN lingkungan tak hanya lahir di ruang seminar atau laboratorium ilmiah. GrowGreen dan ECOTON membuktikan bahwa gerakan perubahan bisa muncul dari ruang kelas remaja. Di MTsN 2 Sidoarjo, Jawa Timur, para siswa yang tergabung dalam Jawa Timur Young Changemaker Academy (JAYCA) 2025. melalui strategi komunikasi digital dipadukan dengan riset mikroplastik, melahirkan generasi pelajar yang peduli dan aktif bersuara.

#Komunikasi Lingkungan Masuk ke Ruang Kelas

Belajar lingkungan tak cukup hanya memahami — harus disebarkan. Tugas akhir hari ini: membuat akun Instagram bertema lingkungan dan mengelola konten edukatif secara kreatif. Tujuan utamanya: menjangkau lebih banyak orang agar semakin sadar bahaya plastik sekali pakai dan pentingnya perubahan gaya hidup. | Foto: GrowGreen

Ruang kelas 8C MTSN 2 Sidoarjo dipenuhi energi yang jarang terlihat dalam pembelajaran konvensional pada Jumat, 21 November 2025. Alih-alih hanya mencatat teori atau menyimak tayangan presentasi, para siswa diajak memahami bagaimana isu lingkungan dapat dikemas menjadi pesan komunikatif yang efektif di media sosial.

GrowGreen dan ECOTON hadir untuk mengisi materi “Strategi Komunikasi Lingkungan” dengan fokus pada krisis plastik sekali pakai, isu yang selama ini terasa jauh, namun perlahan merayap ke kehidupan sehari-hari.

Materi dibuka dengan pertanyaan sederhana, Bagaimana membuat orang peduli? Dari situ, siswa diperkenalkan pada teknik storytelling, pemilihan nada konten, penggunaan visual, hingga cara menciptakan call-to-action yang menggerakkan audiens.

Reaksi siswa tampak gamblang, hampir seluruh peserta menyimak tanpa jeda. “Asik banget, saya jadi tahu strategi apa saja yang bisa saya lakukan untuk membuat konten saya jadi lebih bagus dan menarik bagi audiens,” ungkap Alisha, siswa kelas 8C.

Ungkapan spontan itu menjadi bukti bahwa pendekatan pendidikan lingkungan tak melulu harus formal; ia bisa relevan, modern, dan dekat dengan dunia digital anak muda.

#Fakta Mengejutkan dari Setetes Air Hujan

Usai materi komunikasi, kelas beralih menjadi laboratorium mini. Para siswa diminta membawa sampel air hujan dari tempat tinggal mereka. Sampel tersebut kemudian disaring dan diamati dengan metode identifikasi sederhana untuk melihat potensi kontaminasi mikroplastik.

Hasilnya, membuat ruangan hening seketika. Sebab 14 film dan 3 fiber mikroplastik ditemukan dalam sampel hujan yang dibawa siswa.

Salman, salah satu peserta, mengaku tak menyangka. “Saya kaget tadi, ternyata hujan di Krian (lokasi MTsN 2 Sidoarjo) sudah terkontaminasi mikroplastik. Disayangkan sekali, karena saya mengira air hujannya masih bersih,” ujarnya.

Reaksi serupa juga dirasakan siswa lain. Selama ini, hujan identik dengan kesegaran. Namun temuan hari itu menunjukkan realitas yang lebih kelam, bahwa polusi plastik telah menembus udara, terbawa angin, menggantung di atmosfer, lalu jatuh bersama hujan.

Kegiatan ini sengaja dirancang agar siswa tak hanya menjadi pendengar informasi, tetapi saksi langsung mengenai kondisi lingkungan mereka. Ketika fakta ilmiah bertemu pengalaman pribadi, kepedulian tidak lagi abstrak; ia berubah menjadi urgensi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kami menemukan mikroplastik dalam air hujan. Kami kaget. Kami peduli. Dan sekarang, kami memilih untuk bersuara. Lewat konten digital, kami ingin lebih banyak orang tahu: bumi tak baik-baik saja—tapi kita masih bisa menyelamatkannya. | Foto: GrowGreen

#Tugas Akhir: Menggerakkan Dunia Digital untuk Bumi

Menjelang penutupan kegiatan, GrowGreen mengumumkan tugas akhir yang bahkan lebih menantang daripada ujian laboratorium, setiap kelompok siswa diminta membuat akun Instagram khusus berisi konten lingkungan. Konten tersebut tidak berhenti sebagai tugas sekolah; akun-akun itu nantinya akan dikolaborasikan dengan akun resmi GrowGreen agar suara siswa memiliki jangkauan audiens yang lebih luas.

Tugas ini dirancang dengan pendekatan dua sisi. Pertama, siswa dilatih dalam literasi digital mulai dari pengelolaan akun, penentuan identitas visual, hingga penyusunan kalender dan alur editorial konten.

Kedua, mereka diberi ruang untuk tampil sebagai komunikator lingkungan, bukan sekadar penerima informasi, tetapi produsen pesan yang kreatif sekaligus bertanggung jawab. Dengan begitu, kegiatan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka pintu partisipasi nyata dalam gerakan lingkungan.

GrowGreen dan ECOTON berharap benih kesadaran yang tumbuh di kelas 8C tidak berhenti pada satu kegiatan hari Jumat ini saja. “Ini menjadi titik awal bagi para siswa untuk menjadi changemaker dalam lingkaran digital mereka masing-masing,” ujar Siti Nor Shofiya, Koordinator Grow Green dari FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya.

Shofiyah menambahkan bahwa pergeseran kecil dalam pola bermedia sosial memiliki dampak besar. “Ketika anak-anak mulai memproduksi pesan lingkungan alih-alih hanya mengonsumsi konten hiburan, maka ruang digital tak lagi hanya tempat hiburan, tapi juga ruang advokasi,” ucapnya.

Kegiatan di MTsN 2 Sidoarjo hari itu menegaskan satu hal, perubahan iklim dan polusi plastik bukan hanya tanggung jawab lembaga atau ilmuwan. Generasi pelajar pun mampu mengambil peran—meski masih duduk di bangku sekolah menengah. “Dengan bahasa mereka sendiri, dengan gaya mereka sendiri, dan melalui medium yang paling mereka kuasai, yaitu media sosial,” jelas Shofiya.

Dari ruang kelas 8C, sebuah langkah kecil lahir. Bila terus dirawat, suara-suara itu bisa menggema jauh lebih besar, hingga sampai ke para pengambil keputusan tentang masa depan bumi.***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *