Lewati ke konten

Hari Bumi dan Ancaman yang Mengalir di Kali Surabaya

| 5 menit baca |Opini | 6 dibaca

Mikroplastik mengalir dari plankton ke ikan, lalu ke manusia. Hari Bumi mengingatkan krisis sunyi di Kali Surabaya yang terus meningkat tanpa kendali.

Setiap 22 April, peringatan Hari Bumi sebagai ajakan untuk menilai ulang relasi manusia dengan lingkungan. Di Surabaya, refleksi itu tampak jelas di Kali Surabaya—sebuah aliran yang tidak hanya membawa air, tetapi juga beban pencemaran yang terus bertambah.

Sampah plastik dari rumah tangga, pasar, hingga aktivitas industri mengalir masuk ke sungai setiap hari. Yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil. Botol, kantong plastik, dan kemasan makanan mengapung sebagai peringatan. Di balik itu, proses yang lebih kompleks sedang berlangsung.

Plastik tidak pernah benar-benar hilang. Paparan sinar matahari, arus, dan gesekan memecahnya menjadi mikroplastik berukuran kurang dari 5 mm. Dalam bentuk fiber, filamen, fragmen, foam, dan granula, partikel ini tersebar di seluruh kolom air. Mikroplastik terbagi menjadi dua kategori: Large Microplastics (1–5 mm) dan Small Microplastics (<1 mm). Ukurannya yang kecil membuatnya sulit terdeteksi dan hampir tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya dari sistem perairan.

Kali Surabaya terhubung langsung dengan Sungai Brantas yang menjadi sumber air baku bagi warga Kota Surabaya. Ini berarti pencemaran tidak berhenti di sungai saja. Mikroplastik berpotensi masuk ke instalasi pengolahan air dan akhirnya ke kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pada level ekosistem, dampaknya telah dimulai dari organisme paling dasar. Zooplankton mengonsumsi mikroplastik karena ukurannya menyerupai makanan alami (Setälä et al., 2014). Dari titik ini, partikel bergerak naik dalam rantai makanan. Kajian global menunjukkan mikroplastik telah ditemukan dalam tubuh ikan di berbagai perairan (Barboza & Gimenez, 2015).

Hari Bumi menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan terlihat. Di Kali Surabaya, ancaman itu mengalir perlahan, masuk ke sistem kehidupan, dan bergerak menuju manusia melalui rantai makanan.

#Rantai Makanan yang Menyimpan Partikel Plastik

Mikroplastik mengubah cara memahami pencemaran. Masalah tidak lagi berhenti pada kualitas air, melainkan telah masuk ke sistem biologis. Ketika plankton mengonsumsi partikel plastik, proses transfer dalam rantai makanan dimulai.

Penelitian Setälä et al. (2014) menunjukkan mikroplastik dapat berpindah dalam jaring makanan planktonik. Ini menjadi bukti bahwa partikel plastik memiliki jalur ekologis yang aktif. Kajian oleh Barboza & Gimenez (2015) memperkuat temuan tersebut dengan menunjukkan keberadaan mikroplastik dalam tubuh ikan di berbagai perairan dunia.

Di Jawa Timur, gambaran yang lebih konkret terlihat di Sungai Brantas. Penelitian menemukan mikroplastik dalam tubuh ikan dengan konsentrasi mencapai 209 partikel per gram di bagian hilir (Buwono et al., 2022). Angka ini menunjukkan akumulasi yang signifikan dibandingkan wilayah hulu.

Temuan lain mencatat mikroplastik pada saluran pencernaan dan insang ikan dengan kelimpahan hingga 25,22 partikel/ikan (Rofiq & Sari, 2022). Pada udang dan ikan di segmen hilir, jumlahnya berkisar antara 5–345 partikel per ekor (Maulana et al., 2022). Angka-angka ini memperlihatkan bahwa mikroplastik telah masuk ke biota yang dikonsumsi manusia.

Rantai makanan berubah menjadi jalur distribusi partikel plastik. Dampaknya tidak berhenti pada ekosistem, tetapi berpotensi menjangkau kesehatan manusia. Dalam jangka panjang, akumulasi ini menjadi ancaman yang sulit diukur secara langsung.

Akar persoalan tetap berada pada aktivitas manusia. Konsumsi plastik sekali pakai masih tinggi. Sistem pengelolaan sampah belum mampu menahan aliran limbah ke sungai. Permukiman padat di bantaran mempercepat masuknya sampah ke badan air. Aktivitas industri menambah tekanan pencemaran.

Ketidakseimbangan antara produksi limbah dan pengelolaan menciptakan kondisi yang terus berulang. Hari Bumi seharusnya menjadi momentum untuk membaca data ini sebagai peringatan serius.

#Menghentikan Mikroplastik Sebelum Masuk Rantai Makanan

Pengendalian mikroplastik di Kali Surabaya memerlukan langkah terintegrasi dari hulu hingga hilir. Fokus utama harus diarahkan pada pencegahan masuknya plastik ke lingkungan perairan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Langkah pertama adalah pengurangan plastik sekali pakai. Kebijakan insentif penggunaan produk guna ulang dapat menekan konsumsi. Penerapan kawasan bebas plastik di sekitar sungai dapat menjadi penghalang langsung terhadap aliran limbah.

Penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi elemen penting. Bank sampah dapat berfungsi sebagai sistem penyaring awal sebelum limbah mencapai sungai. Pendekatan ini juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Inisiatif yang dilakukan oleh Ecoton menunjukkan pentingnya peran komunitas dalam menjaga kualitas sungai melalui edukasi dan advokasi. Informasi lebih lanjut dapat diakses di https://ecoton.or.id

Pemerintah perlu meningkatkan kapasitas infrastruktur pengolahan limbah. Instalasi pengolahan air limbah domestik dan industri harus mampu menyaring partikel mikro sebelum air dilepas ke sungai. Tanpa teknologi yang memadai, mikroplastik akan terus lolos ke badan air.

Pengawasan terhadap industri di sepanjang Kali Surabaya juga harus diperketat. Transparansi data kualitas air dapat meningkatkan akuntabilitas. Keterlibatan publik dalam pemantauan lingkungan akan memperkuat pengawasan.

Edukasi lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Program di sekolah dan komunitas harus menanamkan pemahaman bahwa sungai adalah bagian dari sistem kehidupan. Perubahan perilaku menjadi kunci utama dalam jangka panjang.

Langkah-langkah ini harus berjalan bersamaan. Tanpa koordinasi, upaya yang dilakukan akan terpecah dan tidak efektif.

Hari Bumi menjadi pengingat bahwa setiap partikel plastik yang masuk ke sungai hari ini akan tetap berada di lingkungan dalam waktu lama. Menghentikan aliran mikroplastik berarti melindungi ekosistem dan manusia dari risiko yang terus berkembang.***

Referensi

  • Setälä, O. et al. (2014). Ingestion and transfer of microplastics in the planktonic food web. https://doi.org/10.1016/j.envpol.2013.10.013
  • Barboza, L. G. A., & Gimenez, B. C. G. (2015). Microplastics in the marine environment. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2015.06.008
  • Buwono, N. R. et al. (2022). Microplastics in freshwater fish Gambusia affinis. https://doi.org/10.1016/j.envpol.2022.119958
  • Rofiq, R., & Sari, I. (2022). Analisis mikroplastik pada ikan Sungai Brantas. https://doi.org/10.58954/epj.v2i1.38
  • Maulana, I. et al. (2023). Identifikasi mikroplastik pada udang dan ikan. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/epj

 

Penulis: Wahyu Baitullahmahasiswa Biologi,  Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *