Lewati ke konten

Hari Peduli Sampah Nasional: Dua Dekade Leuwigajah, Ancaman Plastik Kian Nyata

| 7 menit baca |Mikroplastik | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Dua dekade setelah tragedi Leuwigajah, ancaman sampah berubah wujud. Ecoton mengungkap mikroplastik kini menyusup ke tubuh manusia, menandai fase baru krisis lingkungan nasional yang senyap.

Tepat hari ini, Sabtu, 21 Februari 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Momentum ini merupakan agenda tahunan  sebagai refleksi atas tragedi longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam.

Peristiwa ini salah satu bencana lingkungan terburuk dalam sejarah pengelolaan sampah nasional. Gunungan sampah setinggi puluhan meter runtuh setelah akumulasi gas metana memicu longsor besar, menimbun permukiman warga dan menewaskan ratusan orang.

Tragedi memprihatinkan ini kemudian menjadi dasar penetapan HPSN melalui Keputusan Presiden RI Nomor 21 Tahun 2018.

Dua dekade berlalu, wajah persoalan sampah di Indonesia berubah. Jika dahulu ancaman terlihat jelas dalam bentuk tumpukan sampah dan mengganggu indra penciuman, kini bahaya sampah bergerak lebih rapi dan senyap, yakni partikel mikroplastik dan nanoplastik yang tidak terjangkau oleh indra penglihatan dan sangat berpotensi masuk ke tubuh manusia.

Data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan, pada 2023 timbunan sampah Indonesia mencapai 31,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 11,3 juta ton belum terkelola dengan baik. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan struktural pengelolaan sampah masih jauh dari kata selesai.

Puluhan ton sampah laut diintersepsi setiap hari di Bali dan Jawa Timur, saat relawan dan River Warriors bergerak cepat merespons krisis plastik musiman. Foto: Sungai Watch

#Mikroplastik: Dari Botol Minum ke Aliran Darah

Ancaman baru muncul dari hasil penelitian ilmiah terbaru. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environment International menemukan fakta mengejutkan: partikel plastik telah terdeteksi dalam darah manusia.

Penelitian terhadap 22 donor sehat menunjukkan bahwa 17 orang atau hampir 80 persen sampel memiliki partikel plastik dalam aliran darah mereka. Temuan ini menjadi bukti awal bahwa plastik tidak hanya melewati sistem pencernaan, tetapi mampu memasuki sistem biologis manusia.

Ekotoksikolog dari Vrije Universiteit Amsterdam, Dick Vethaak menyebut, temuan mikroplastik dan nanoplastik sebagai tonggak penting dalam memahami dampak polusi plastik terhadap kesehatan manusia. Dick, yang juga seorang biolog dan toksikolog ini menegaskan, keberadaan polimer sintetis dalam darah membuka kemungkinan akumulasi plastik di organ vital.

Jenis plastik yang paling dominan ditemukan  yaitu polyethylene terephthalate (PET), bahan utama botol minuman. Selain itu, polistirena – yang lazim digunakan pada kemasan makanan – dan polietilena dari kantong plastik juga terdeteksi.

Para peneliti mengkhawatirkan kemampuan mikroplastik menempel pada membran sel darah merah. Kondisi ini diduga dapat mengganggu fungsi transportasi oksigen dalam tubuh. Dalam jangka panjang, gangguan tersebut berpotensi memicu inflamasi kronis hingga meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

Ancaman bahkan dimulai sejak usia sangat dini. Sejumlah riset menunjukkan bayi yang diberi susu menggunakan botol plastik dapat menelan jutaan partikel mikroplastik setiap hari. Studi eksperimental lain juga menemukan partikel plastik mampu menembus plasenta dan mencapai organ janin, termasuk otak dan jantung.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan baru: apakah paparan plastik jangka panjang memiliki hubungan dengan gangguan neurologis seperti demensia atau penurunan fungsi kognitif?

Hingga kini, para ilmuwan masih meneliti keterkaitan tersebut, namun indikasi awal menunjukkan risiko biologis yang tidak dapat diabaikan.

Brand Audit Ecoton 2024–2025 menunjukkan dominasi sampah plastik sekali pakai dari produk konsumsi harian di sungai dan pesisir Indonesia, menegaskan urgensi tanggung jawab produsen dalam menekan krisis sampah. Sumber: Penelitian Ecoton

#Sampah Nasional dan Tantangan Perubahan Perilaku

Pemerintah menilai persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan lama yang berfokus pada tempat pembuangan akhir. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, HPSN harus menjadi momentum percepatan perubahan sistemik.

Mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto, ia menyatakan penyelesaian masalah sampah membutuhkan langkah luar biasa dan berkelanjutan.

“Menindaklanjuti arahan yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, permasalahan sampah di Tanah Air harus segera diselesaikan dengan cara-cara yang luar biasa dan berkelanjutan,” kata Hanif dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, dikutip Kompas, Sabtu (21/2/2026).

Menurut Hanif, persoalan sampah tidak akan pernah tuntas jika hanya ditangani di hilir. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama. Ia mendorong rumah tangga menjadi unit terkecil pengelolaan sampah melalui pemilahan organik dan anorganik, pengurangan plastik sekali pakai, serta penerapan ekonomi sirkular di ruang publik dan sektor usaha.

“Jadikanlah rumah sebagai unit terkecil pengelolaan sampah dengan pemilahan organik dan anorganik. Dari sekolah dan tempat kerja, ciptakan budaya bersih di lingkungan belajar dan profesional, dari tempat usaha dan ruang publik integrasikan prinsip ekonomi sirkuler dalam setiap aktivitas ekonomi agar sampah tidak lagi menjadi beban melainkan sumber daya,” jelas dia.

Pendekatan kolaboratif lintas sektor juga dinilai penting, melibatkan akademisi, komunitas lingkungan, dunia usaha, hingga media massa.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Secara global, persoalan sampah juga menunjukkan tren mengkhawatirkan. Laporan National Geographic menyebut kota-kota di dunia menghasilkan sekitar 1,3 miliar ton sampah setiap tahun. Bank Dunia memperkirakan angka tersebut meningkat menjadi 2,2 miliar ton pada 2025.

Indonesia sendiri pernah tercatat dalam penelitian yang dipublikasikan di Science sebagai penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Fakta ini memperlihatkan bahwa persoalan domestik memiliki dampak ekologis global.

Riset Greeneration Indonesia menunjukkan rata-rata satu orang di Indonesia menghasilkan sekitar 700 kantong plastik setiap tahun. Plastik yang tidak terurai kemudian terfragmentasi menjadi mikroplastik dan akhirnya masuk ke rantai makanan.

 

#Mikroplastik dan Krisis Ekologis yang Tak Terlihat

Peneliti lingkungan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Alaika Rahmatullah menilai, ancaman mikroplastik menandai fase baru krisis lingkungan di Indonesia.

Menurut Alaika, persoalan sampah kini tidak lagi sekadar soal estetika lingkungan atau kapasitas TPA, melainkan telah menyentuh isu kesehatan publik.

“Selama ini masyarakat berpikir sampah berhenti ketika dibuang. Padahal plastik terus berubah bentuk menjadi partikel kecil yang masuk ke air, udara, makanan, bahkan tubuh manusia,” ujarnya.

Data Brand Audit yang dilakukan Ecoton sepanjang 2024–2025 memotret jejak nyata sampah plastik produsen di sungai dan pesisir Indonesia. Audit ini dilakukan untuk menilai tanggung jawab produsen dalam kerangka Extended Producer Responsibility (EPR), sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

 

Sebanyak 33.122 potongan sampah plastik berhasil diidentifikasi dari 104 titik audit yang melibatkan 487 relawan. Angka ini menunjukkan bahwa sampah plastik sekali pakai masih mendominasi pencemaran lingkungan perairan, sekaligus memperlihatkan besarnya kontribusi produk konsumsi sehari-hari terhadap krisis sampah.

Dari sisi produsen, audit menemukan sejumlah merek besar sebagai penyumbang sampah terbanyak. Produk dari Wings menempati posisi tertinggi dengan lebih dari lima ribu temuan sampah, disusul Unilever, Indofood, Mayora, serta Forisa Nusapersada. Temuan ini menegaskan bahwa industri barang konsumsi cepat saji masih menjadi sumber utama residu plastik di lingkungan.

Analisis jenis material menunjukkan dominasi plastik yang sulit didaur ulang. Kategori “other” mencapai 43 persen, diikuti polypropylene (24 persen) dan LDPE (12 persen)—dua material yang umum digunakan pada kemasan fleksibel dan sachet. Sementara itu, polistirena, PET, HDPE, hingga PVC muncul dalam jumlah lebih kecil namun tetap signifikan. Komposisi ini memperlihatkan bahwa mayoritas sampah berasal dari kemasan ringan dengan nilai daur ulang rendah.

“Jika dilihat dari tipe produk, kemasan makanan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 38 persen, diikuti produk rumah tangga (30 persen) dan produk perawatan pribadi (18 persen). “ ungkap Alaika.

“Sisanya berasal dari material kemasan lain, rokok, serta alat tangkap perikanan dalam jumlah kecil. Data ini memperlihatkan kuatnya hubungan antara pola konsumsi harian masyarakat dengan peningkatan timbulan sampah plastic, “ jelasnya.

Alaika juga menunjukkan karakter lapisan kemasan. Sebanyak 54 persen merupakan plastik single layer, sementara 46 persen lainnya adalah multi-layer. Kemasan multilapis dikenal sulit diproses ulang karena terdiri dari campuran berbagai material, sehingga sebagian besar berakhir sebagai residu atau mencemari lingkungan.

Secara keseluruhan, hasil audit ini menegaskan bahwa persoalan sampah plastik bukan hanya soal perilaku individu, tetapi juga berkaitan erat dengan desain produk dan sistem distribusi industri.

Data Ecoton memperlihatkan urgensi perubahan dari hulu, mulai dari pengurangan plastik sekali pakai, inovasi kemasan ramah lingkungan, hingga tanggung jawab produsen dalam menarik kembali kemasan yang mereka hasilkan.

Data itu harus menjadi pengingat, bahwa setiap kemasan yang dikonsumsi memiliki jejak panjang setelah dibuang. Tanpa perubahan sistemik, sampah plastik akan terus mengalir dari darat menuju sungai, lalu berakhir di laut.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *