Lewati ke konten

Hujan Mikroplastik di Surabaya Ungkap Jejak Abrasi Ban, Limbah Plastik, dan Polusi Industri Kota

| 5 menit baca |Mikroplastik | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

HUJAN di Kota Surabaya tak lagi sekadar membawa air dari langit. Ia kini menurunkan partikel plastik hasil aktivitas manusia, mulai dari abrasi ban, kemasan rumah tangga, hingga kebocoran resin industri. Temuan ECOTON memperlihatkan 145 partikel per liter, lebih tinggi dari wilayah Barat Amerika Serikat. Ancaman baru itu kini menyelimuti napas kota.

#Hujan yang Tak Lagi Bening

Industri juga berkontribusi pada mikroplastik di hujan Surabaya, termasuk resin pelabuhan, cat, kabel listrik, dan serpihan konstruksi. | Foto: theoceancleanup

Hujan sore yang turun di Surabaya kerap membawa aroma tanah basah dan angin laut. Namun bagi tim peneliti ECOTON, tiap tetes air itu menyimpan cerita lain, partikel-partikel plastik mikroskopis yang melayang di udara kota, terperangkap dalam awan, dan kembali turun ke permukaan bumi bersama rintik hujan. Seperti siklus baru yang tak pernah dibayangkan manusia sebelumnya, polusi plastik kini resmi menjadi bagian dari hidrologi.

ECOTON baru saja menuntaskan verifikasi laboratorium atas sampel air hujan Surabaya menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Kamis, 20 November 2025. Temuannya cukup mengejutkan. Pola spektrum menunjukkan dominasi pita serapan 2916 dan 2849 cm⁻¹, semacam ciri khas poliolefin seperti HDPE, LDPE, EPDM, CPE, dan PVA.

Artinya jelas, sumber mikroplastik itu adalah aktivitas harian masyarakat. Ban kendaraan yang tergerus aspal, plastik kemasan yang sobek dan terbuang, resin industri yang bocor di pelabuhan, hingga serpihan karet dari infrastruktur kota.

“Pola spektrum FTIR yang kami temukan sangat jelas,” ujar Alaika Rahmatullah, Koordinator Penelitian Mikroplastik Air Hujan dari ECOTON. “HDPE berasal dari plastik kemasan, EPDM dari abrasi ban kendaraan, CPE dari cat dan buangan industri, PVA dari serat sintetis pakaian. Ini menunjukkan betapa perilaku manusia sehari-hari membentuk komposisi hujan di Surabaya.”

Rata-rata mikroplastik mencapai 145 partikel per liter, angka yang melampaui konsentrasi di wilayah Barat Amerika Serikat yang tercatat 132 partikel per liter. Temuan itu menegaskan bahwa udara Surabaya bukan hanya dipenuhi polutan konvensional, tetapi juga serpihan-serpihan plastik yang terus berputar dalam atmosfer.

#Polusi yang Turun dari Langit

Dalam pandangan umum, plastik adalah masalah darat dan laut. Tetapi hasil kajian ECOTON menambah satu babak baru: langit. Mikroplastik kini tersuspensi di udara, diangkat angin, menempuh perjalanan jauh, lalu jatuh kembali sebagai hujan.

Kondisi ini bukan isolasi Surabaya. Siti Nor Shofiyah, dari komunitas Grow Green Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yang sedang melakukan studi independen di ECOTON, menyebutkan, tren serupa juga ditemukan pada penelitian global. Seperti Patna City di India mencatat konsentrasi hingga 1.959,6 partikel per liter, sementara wilayah Barat Amerika Serikat 132 partikel, Bahia Blanca di Argentina 77 partikel, Wuhan 19,04 partikel, Gunung Fuji 13,9 partikel, dan Kassel di Jerman 7 partikel per liter.

“Ini menunjukkan bahwa atmosfer kini menjadi jalur transportasi mikroplastik paling masif, sunyi, tak terlihat, dan bisa menyebar sangat jauh,”ucapnya.

Namun kehadiran plastik dalam hujan Surabaya menjadi sinyal keras, tegas Alaika. “Temuan di sini lebih tinggi daripada wilayah Barat Amerika Serikat. Kita seharusnya lebih waspada,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah perlu memasukkan polusi plastik udara sebagai bagian dari regulasi lingkungan, sebab jalur paparan ini paling langsung mengenai manusia.

#Ancaman di Napas dan Tanah yang Kita Injak

Seiring hujan turun, partikel-partikel plastik itu memasuki lingkungan yang jauh lebih vital: lahan pertanian, sumur dangkal, sungai, hingga tubuh manusia. Kotak Pandora itu terbuka pelan-pelan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menurut Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON, partikel berukuran kecil (<5 mm) tidak hanya masuk ke tanah dan air, tetapi juga ke paru-paru. “Mikroplastik ini sangat berbahaya. Ukurannya memungkinkan ia terhirup, masuk ke jaringan tubuh, dan memicu inflamasi,” kata Rafika.

Dari inflamasi, proses dapat berlanjut menjadi stres oksidatif, yaitu kondisi biologis yang merusak sel dan mengganggu fungsi organ. “Beberapa polimer membawa zat aditif berbahaya seperti ftalat, BPA, atau logam berat, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu sistem hormonal dan imun manusia,” ungkap Rafika.

Di sektor lingkungan, mikroplastik hujan menjadi ancaman ganda. Lahan pertanian dapat terkontaminasi, memengaruhi kualitas tanah dan tanaman. Bahkan berisiko masuk ke bahan pangan. Air sumur dan sungai pun tak luput, karena partikel ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan memasak air. Sungai, yang sudah dipenuhi sampah plastik permukaan, kini mendapat “kiriman” tambahan dari langit.

Ekosistem kota menghadapi risiko dari dua arah, plastik yang dibuang ke tanah naik ke udara bersama angin, lalu turun kembali sebagai hujan. Sebuah siklus polusi yang tak pernah dirancang, tetapi kini menjadi kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.

#Jejak Ban, Resin, dan Konsumsi Harian yang Tak Selesai

Salah satu temuan paling kuat dari uji FTIR adalah dominasi polimer elastomer EPDM dan CPE, yaitu komponen utama karet sintetis pada ban dan infrastruktur. Ini memperlihatkan kontribusi besar sektor transportasi terhadap mikroplastik udara. Setiap kendaraan yang melintas meninggalkan jejak tak terlihat: serpihan ban yang tergerus gesekan jalan.

Di sisi lain, HDPE dan LDPE, bahan baku plastik kemasan rumah tangga, menunjukkan betapa konsumsi masyarakat sehari-hari menjadi penyumbang signifikan. Plastik belanja, bungkus makanan, dan berbagai kemasan sekali pakai terus terurai oleh panas, gesekan, dan sinar UV, menghasilkan fragmen-fragmen kecil yang mudah terangkat angin.

Industri juga tak luput dari sorotan. Resin plastik di pelabuhan, material cat, kabel listrik, hingga serpihan konstruksi semuanya berkontribusi pada komposisi mikroplastik yang kini ditemukan di air hujan Surabaya.

Masalah ini bukan semata persoalan limbah, tetapi persoalan system, transportasi yang masif, konsumsi plastik yang tak terkendali, pengawasan industri yang longgar, dan kebijakan lingkungan yang belum menyentuh aspek udara.

#Rekomendasi dan Peringatan Ecoton

Melihat urgensi temuan ini, ECOTON mendorong langkah-langkah strategis:

  • Penyusunan standar nasional pemantauan mikroplastik atmosfer dan air hujan.
  • Pengendalian emisi plastik kendaraan melalui regulasi dan audit debu jalan.
  • Pengawasan ketat pada industri plastik dan pelabuhan.
  • Penguatan skema EPR untuk mengurangi produksi plastik sekali pakai.
  • Riset jangka panjang dan perluasan titik pemantauan di kota besar.
  • Pelibatan masyarakat dalam citizen science untuk pemetaan pencemaran.

Di sisi lain, Alaika juga memberi peringatan kepada publik. “Air hujan jangan langsung dikonsumsi. Filter dulu. Kita harus lebih waspada terhadap paparan mikroplastik, terutama di kawasan dengan lalu lintas dan industri padat.”

Langit Surabaya kini menyimpan cerita baru, hujan yang turun tak lagi sekadar air, tetapi cermin dari gaya hidup dan polusi kota. Dan tiap tetesnya mengingatkan bahwa plastik yang kita buang tak pernah benar-benar hilang. Semuanya hanya menunggu untuk kembali.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *