MENJELANG penutupan COP30 di Belém, dunia sibuk memutuskan masa depan energi fosil dan hutan tropis. Namun Indonesia, negara besar yang seharusnya memainkan peran penting, malah terlihat seperti peserta rapat yang duduk di belakang sambil main HP. Hadir, tapi tidak sungguh-sungguh ada.
#Dunia Ngobrol Energi Fosil, Indonesia Ngobrol Bisnis Karbon

Menjelang hari-hari terakhir konferensi iklim PBB COP30 di Belém, Brasil, dunia sedang sibuk memfinalisasi langkah-langkah penting menyelamatkan planet. Para delegasi berkejaran menyusun komitmen, menajamkan ambisi, dan merundingkan transisi energi untuk kepentingan bumi. Justru tidak terjadi terhadap delegasi Indonesia.
Sebagai negara besar, seperti ditulis GreenPreace, seharusnya Indonesia tampil sebagai pemain strategis, mengingat posisinya sebagai negara hutan tropis sekaligus penghasil emisi besar, malah terlihat seperti peserta yang salah masuk ruang kelas.
Saat lebih dari 80 negara mendorong Global Mutirão, kerangka kerja “upaya kolektif” untuk keluar dari energi fosil, Indonesia memilih diam.
Tidak hanya diam, tapi juga absen dalam momentum-momentum strategis. Pemerintah, melalui Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol, sempat mengklaim akan memperkuat komitmen iklim setelah bertemu masyarakat sipil. Tapi sampai di meja negosiasi COP, geliat itu menguap seperti janji diet saat melihat harga gorengan.
“Dukungan dan peran masyarakat sipil sangat penting… Ke depan, KLH akan membentuk Forum CSO–KLH agar dialog seperti ini berlangsung rutin dan terkoordinasi,” ujar Menteri Hanif.
Namun di arena COP30, aktivitas terbesar Indonesia justru berada pada urusan perdagangan karbon, bukan penghentian energi fosil. Di isu kehutanan, kartu as yang sering jadi kebanggaan pemerintah, delegasi Indonesia juga adem-ayem. Tidak ada tanda-tanda prioritas untuk menghentikan deforestasi.
#Negara Kecil Lebih Ambisius, Indonesia Malah Tenggelam Sendiri
Di ruang negosiasi, perbandingannya makin menggelitik. Negara-negara kepulauan kecil—yang luas daratannya kadang lebih kecil dari kecamatan di Jawa—justru tampil paling lantang dan ambisius. Alliance of Small Island States (AOSIS) membawa proposal jelas, target tegas, dan urgensi yang tak bisa ditawar, kalau dunia gagal mengurangi emisi, negara mereka bisa hilang dari peta.
Sementara itu, Indonesia tampil seperti peserta magang yang hadir tanpa tugas. Tidak membawa proposal transisi energi, tidak membawa peta jalan penghentian deforestasi, bahkan tidak menunjukkan niat untuk memperkuat komitmen iklim secara nyata.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Koordinator Aruki, Torry Kuswardono, sampai harus mengingatkan kenyataan pahit itu. “Indonesia tidak punya proposal untuk menyelamatkan dunia dari krisis iklim. Yang keluar justru proposal untuk menyelamatkan bisnis karbon dalam negeri yang cuma menguntungkan segelintir orang,” ujar Torry.
Bahkan Kolombia, negara yang sangat bergantung pada energi fosil, berani datang dengan komitmen transitioning away from fossil fuels. Sementara kita? Alih-alih ikut mendorong transisi, Indonesia justru tampak sibuk menjaga kenyamanan zona aman sendiri, seolah perubahan iklim bisa ditunda dulu sampai semua urusan bisnis beres.

#Punya Modal Besar, Tapi Lebih Suka Jadi Penonton
Padahal Indonesia sebenarnya bisa memainkan peran penting. Dalam beberapa hari terakhir, delegasi Indonesia cukup aktif dalam negosiasi mengenai skema tukar guling karbon. Artinya kemampuan diplomasi itu ada. Yang tidak ada hanyalah keberanian politik untuk menggunakannya pada isu yang benar-benar penting, bukan pada isu yang berpotensi menghasilkan cuan.
Ketua Tim Politik untuk Solusi Hutan Global Greenpeace, Rayhan Dudayev, mengatakan Indonesia punya kemampuan untuk memimpin isu penghentian bahan bakar fosil dan deforestasi, isu yang menentukan masa depan bumi, bukan sekadar masa depan pasar karbon.
Namun yang tampak justru Indonesia lebih suka berdiri di pinggir. Jadi penonton. Jadi penggembira. Jadi negara besar yang pulang tanpa jejak.
Dengan dua hari tersisa sebelum COP30 ditutup, kesempatan itu masih ada. Tapi kalau dua hari terakhir ini hanya dihabiskan untuk sesi foto, jumpa pers, dan pidato aman, ya sudah. Indonesia akan pulang sebagai penonton yang baik, tapi tidak meninggalkan apa-apa.
Dan penonton, sayangnya, tidak mengubah apa pun.***