Lewati ke konten

Jaga Ekosistem Kali Tebu, SMPN 58 Surabaya Dirikan Stasiun Pemantauan Kualitas Air

| 5 menit baca |Kali Tebu | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Marga Bagus
  • Bau menyengat dan tumpukan sampah menjadi keseharian siswa SMPN 58 Surabaya. Kini, mereka turun langsung memantau kualitas Kali Tebu dan menemukan kadar amonia mencapai 14 kali lipat batas pembanding.
  • Lima siswa SMPN 58 Surabaya menjadi penggerak pemantauan Kali Tebu. Bersama ECOTON, mereka belajar menguji kualitas air dan menemukan persoalan pencemaran yang mengkhawatirkan di depan sekolah.
  • Kali Tebu yang berada di depan SMPN 58 Surabaya kini dipantau para siswa. Hasil pengujian menunjukkan kadar amonia 28,7 mg/L, jauh di atas angka pembanding.
  • Dari tepi Kali Tebu, lima siswa SMPN 58 Surabaya belajar membaca kondisi sungai melalui data. Mereka menemukan air berbau dengan kadar amonia mencapai 28,7 mg/L.
  • SMPN 58 Surabaya membentuk Stasiun Pemantauan Kualitas Air bersama ECOTON. Para siswa dilatih melakukan pengujian sungai sekaligus menyiapkan pemantauan mikroplastik sebagai bagian inovasi lingkungan sekolah.

BAU menyengat dan tumpukan sampah yang membentang di Kali Tebu, selama ini menjadi pemandangan sehari-hari bagi para siswa SMPN 58 Surabaya. Sungai yang membujur tepat di depan kawasan sekolah mereka itu, kerap mendapat penilaian negatif dari banyak orang. Namun, rasa prihatin yang selama ini terpendam akhirnya berbuah aksi nyata.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar, SMPN 58 Surabaya sudah meresmikan pembentukan Stasiun Pemantauan Uji Kualitas Air untuk mengawasi kondisi Kali Tebu secara berkala.

Inisiatif stasiun ini didukung  Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON). Organisasi lingkungan ini pun, menyerahkan seperangkat alat uji kualitas air, sekaligus membekali para siswa dengan metode riset warga (citizen science).

Kegiatan yang diharapkan tidak hanya belajar teori di dalam kelas ini. Juga mengajak para siswa terlibat aktif, sebagai benteng awal menyelamatkan sungai dari ancaman pencemaran yang lebih parah.

BACA JUGA:  Laut Dianggap Bank Sampah, Mahasiswa UINSA Temukan Mikroplastik di Pulau Bawean
Seorang siswa SMPN 58 Surabaya menunjukkan hasil pengukuran kadar amonia Kali Tebu menggunakan alat Ammonia HR Checker. Layar alat menunjukkan angka 28,7 ppm. | Foto: Fully Syafi

“Hii, air sungainya bau, tanganku jadi kotor.” cetus Hafni, salah satu Siswa Penggerak, sembari memegang sampel air sungai.

Temuan Uji Lapangan: Kadar Amonia Melambung 14 Kali Lipat

Dalam kegiatan pemantauan ini, ECOTON melatih lima siswa SMPN 58 Surabaya, sebagai “Siswa Penggerak”, yakni Nasya, Khansa, Hafni, Bilqis, dan Virgi.

Kelima siswa itu diajarkan langsung, cara bagaiman penggunaan alat ukur lingkungan dasar itu, mulai dari parameter fisika hingga kimia cair.

Saat turun langsung menguji sampel air di tepi Kali Tebu, para siswa berhadapan langsung dengan realitas buruknya kualitas air sungai tersebut.

“Hii, air sungainya bau, tanganku jadi kotor,” cetus Hafni, salah satu Siswa Penggerak, sembari memegang sampel air sungai.

Dari pengukuran fisik dan kimia yang dilakukan secara independen oleh para siswa ini, diperoleh data parameter air Kali Tebu sebagai berikut:

  • Amonia: 28,7 mg/L
  • pH (Tingkat Keasaman): 6,44
  • Suhu Air: 32,5°C
  • EC (Electrical Conductivity): 1.874 µS/cm
  • TDS (Total Dissolved Solids): 0,935 ppt

Kondisi Pencemaran Berat Merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, parameter Kali Tebu idealnya memenuhi standar Baku Mutu Air Kelas 3. Namun, hasil uji lapangan menunjukkan bahwa kadar amonia Kali Tebu melonjak hingga 28,7 mg/L—atau mencapai 14 kali lipat dari batas aman nasional (2 mg/L).

Tingginya kadar amonia ini diduga kuat berasal dari akumulasi limbah domestik (air bekas cuci, air seni, dan kotoran) dari pemukiman padat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Tingginya angka konduktivitas (EC), suhu air yang mencapai 32,5°C, serta pekatnya kandungan kimia memperlihatkan betapa beratnya beban material pencemar yang masuk ke dalam sungai setiap harinya.

BACA JUGA:  Kali Surabaya, Sungai Tampak Biasa Ternyata Menyimpan Tekanan

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Meski beberapa wilayah seperti Kelurahan Simokerto sudah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pengelolaannya dinilai belum maksimal dan belum merata di sepanjang aliran sungai.

Tiga siswa SMPN 58 Surabaya mengambil sampel air Kali Tebu untuk menguji kualitas air sebagai bagian dari kegiatan Stasiun Pemantauan Kualitas Air yang dikembangkan bersama ECOTON. | Foto: Fully Syafi

Mendorong Sekolah Adiwiyata dan Inovasi Uji Mikroplastik

Pengawas dari ECOTON, Amiruddin Muttaqin, bersama Tasya Khusna dari Tim Mimo yang memandu jalannya pemantauan, mengapresiasi tinggi semangat para siswa. Amiruddin, misalnya, menekankan pentingnya keberlanjutan dari stasiun pemantauan ini. Agar data yang diperoleh bisa mendorong perubahan kebijakan di tingkat daerah.

“Kalau ada data uji kualitas air yang valid dan rutin, ini bagus sekali Bu. Apalagi untuk penilaian Sekolah Adiwiyata, pemantauan ini bisa menjadi nilai tambah yang signifikan. Selain itu, ini adalah bentuk kontribusi nyata sekolah dalam menjaga ekosistem sungai,” ujar Amiruddin di hadapan para guru dan murid.

Amiruddin menambahkan, karena masalah IPAL domestik di pemukiman warga masih belum merata, peran aktif sekolah dalam menyajikan data berkala sangat krusial untuk mendorong kebijakan pembenahan lingkungan dari pemerintah daerah.

Menanggapi hal tersebut, Ika Karyanti selaku guru SMPN 58 Surabaya menyambut positif masukan tersebut dan mengonfirmasi rencana jangka panjang sekolah untuk mengembangkan inovasi lingkungan yang lebih spesifik.

“Iya, karena untuk tahap selanjutnya sebagai Sekolah Adiwiyata, kami ingin sekolah kami berbeda dengan sekolah lainnya dengan menampilkan Uji Mikroplastik sebagai ciri khas sekolah kami. Jadi nanti hasil dan kegiatan pemantauan kami akan ditampilkan secara berkala di layar informasi sekolah,” ungkap Ika.

Siswa SMPN 58 Surabaya membawa alat pengambil sampel saat melakukan pemantauan kualitas air Kali Tebu di sekitar sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembentukan stasiun pemantauan sungai. | Foto: Fully Syafi

Rekomendasi Internal: Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai

Tidak hanya berfokus pada pemantauan air di luar gerbang, ECOTON juga memberikan rekomendasi konkret bagi pembenahan lingkungan internal SMPN 58 Surabaya. Tim Ekologis ECOTON, Firly, menyoroti pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya demi mendukung gaya hidup ramah lingkungan.

BACA JUGA:  Air Kemasan: Sehat atau Sarat Mikroplastik?

“Upaya sekolah dalam mengurangi sampah plastik salah satunya dapat dilakukan dengan menekan penggunaan botol plastik sekali pakai. Sekolah perlu menyediakan fasilitas galon di beberapa titik, atau memanfaatkan mesin pengisi air otomatis (water refill station),” jelas Firly.

Ia menyarankan penerapan sistem pengisian air berlangganan murah (berkisar Rp1.000 hingga Rp3.000) agar kebutuhan air minum siswa terfasilitasi dengan baik tanpa menimbulkan timbulan sampah baru. “Dengan begitu, lingkungan sekolah tetap bersih, bebas sampah plastik, dan air tidak berceceran,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi erat antara SMPN 58 Surabaya dan ECOTON ini, Stasiun Pemantauan Kualitas Air tidak sekadar menjadi media pembelajaran sains di lapangan, tetapi juga tonggak awal kesadaran kritis generasi muda dalam merebut kembali kebersihan Kali Tebu.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *