Di tengah ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim, nangka kembali dilirik sebagai sumber pangan alternatif. Melalui program JAPRI Keluarga, Ecoton bersama PT Petrokimia Gresik mendorong pemanfaatan nangka sebagai pangan lokal berkelanjutan berbasis rumah tangga dan komunitas.
#Krisis iklim dan ancaman sistem pangan global
Perubahan iklim kini menjadi tantangan nyata bagi ketahanan pangan dunia. Kenaikan suhu global, gelombang panas, serta pola hujan yang semakin tak menentu telah berdampak langsung pada produktivitas tanaman pangan utama seperti gandum dan jagung.

Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya memperingatkan bahwa penurunan hasil panen telah terjadi di berbagai wilayah. Jika tren ini terus berlanjut, dunia berpotensi menghadapi krisis pangan serius dalam satu dekade ke depan, bahkan memicu konflik akibat perebutan sumber pangan.
Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) juga menegaskan bahwa perubahan iklim telah memangkas hasil produksi gandum dan jagung, dua komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung pangan global.
Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mencari alternatif pangan yang lebih adaptif terhadap iklim ekstrem. Salah satu tanaman yang kembali mendapat perhatian adalah nangka, buah besar yang tumbuh luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
#Nangka sebagai “pangan ajaib” masa depan
Nangka dikenal sebagai buah terbesar yang tumbuh di pohon. Beratnya bisa mencapai 5 hingga 7 kilogram, bahkan beberapa spesimen dilaporkan mencapai lebih dari 45 kilogram.
Menurut Shyamala Reddy, peneliti bioteknologi dari University of Agricultural Sciences di Bangalore, nangka memiliki kandungan nutrisi dan kalori yang sangat tinggi.
Ia menyebutkan bahwa mengonsumsi 10 hingga 12 daging buah nangka dapat memberikan energi yang cukup untuk bertahan hingga setengah hari. Kandungan kalium, kalsium, dan zat besinya menjadikan nangka lebih unggul dibandingkan banyak sumber karbohidrat konvensional.
Selain itu, seluruh bagian nangka dapat dimanfaatkan. Buah muda dan matang bisa diolah menjadi berbagai hidangan, bijinya dapat dikonsumsi, sementara kayu pohonnya memiliki nilai ekonomi tinggi.
Beberapa negara seperti Sri Lanka dan Vietnam telah lebih dahulu mengembangkan industri berbasis nangka. Buah ini diolah menjadi tepung, mi, makanan ringan, hingga produk kalengan yang dipasarkan untuk kebutuhan domestik dan ekspor.

#Stigma sosial dan tantangan pemanfaatan
Meski memiliki potensi besar, nangka masih menghadapi tantangan sosial. Di India, negara asalnya, nangka kerap dipandang sebagai makanan “kelas bawah” atau buah orang miskin.
Shree Padre, petani nangka dari Karnataka, mengatakan stigma tersebut membuat nangka kurang diminati secara komersial. Banyak petani lebih bangga membawa buah impor seperti apel dibandingkan hasil panen lokal.
Padahal, menurut Nyree Zerega, peneliti biologi tumbuhan dari Chicago Botanic Garden, anggapan tersebut tidak berdasar. Ia menyebut nangka sebagai tanaman serbaguna dengan nilai gizi tinggi dan potensi besar sebagai pangan pokok alternatif.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelZerega mengakui bahwa pengolahan nangka tidak mudah. Aroma menyengat dan getah lengket sering menjadi hambatan bagi konsumen. Namun, dengan teknologi pengolahan yang tepat, nangka dapat diubah menjadi berbagai produk pangan dengan umur simpan panjang.
Ketika ketergantungan pada beberapa komoditas utama semakin berisiko, para ahli menilai diversifikasi pangan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

#Menguatkan Pangan Lokal Melalui Gerakan Konservasi
Di Indonesia, upaya menghidupkan kembali pangan lokal mulai digerakkan melalui berbagai program berbasis komunitas. Salah satunya adalah JAPRI Keluarga, program yang didorong PT Petrokimia Gresik bersama lembaga lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).
Program JAPRI Keluarga menekankan pentingnya ketahanan pangan dari lingkup rumah tangga dengan memanfaatkan pekarangan, kebun keluarga, serta tanaman lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim.
“Diversifikasi pangan lokal seperti nangka dapat mengurangi ketergantungan pada pangan impor sekaligus menekan jejak karbon sistem pangan,” ujar Tasya Husna dari Divisi Publikasi dan Komunikasi Ecoton dalam keterangannya, Selasa (16/12/2025).
Melalui berbagai kegiatan edukasi lingkungan, lanjut Tasya, Ecoton mendorong masyarakat untuk kembali mengenali dan memanfaatkan tanaman lokal yang selama ini terpinggirkan.
“Nangka sangat relevan karena mudah tumbuh, tahan terhadap kekeringan, dan mampu menghasilkan pangan dalam jumlah besar dengan perawatan minimal,” jelasnya.
Program JAPRI Keluarga diposisikan sebagai bagian dari upaya mendorong pertanian berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga dan menjaga lingkungan.
Para ahli menilai, nangka memang bukan solusi tunggal bagi krisis pangan global. Namun di tengah perubahan iklim yang kian nyata, tanaman alternatif seperti nangka dapat menjadi bagian penting dari strategi ketahanan pangan masa depan.
“Dunia tidak lagi punya banyak pilihan,” kata Tasya. “Kita harus mengeksplorasi pangan alternatif jika ingin memastikan semua orang tetap bisa makan di masa depan.”***