Aksi penghijauan di Desa Lebani Waras, Gresik, Jawa Timur, berlangsung penuh semangat ketika mahasiswa KKN Institut Al-Azhar Menganti bersama ECOTON dan puluhan siswa SD IT Ya Bunayya. Dengan menanam 50 bibit pohon, anak-anak belajar langsung menjaga lingkungan sekaligus mengenal pentingnya ruang hijau sejak dini. Kegiatan yang merupakan program Japri Petrokimia berlangsung penuh antusias.
#Anak-Anak Jadi Motor Penggerak Penghijauan Desa
Suasana Desa Lebani Waras terasa lebih hidup dari biasanya pada Senin (2/12/2025). Sejak pagi, mahasiswa KKN Institut Al-Azhar Menganti bersama Lembaga Kajian Lahan Basah (ECOTON) telah bersiap menyambut puluhan siswa kelas 4 dan 5 SD IT Ya Bunayya. Dengan cangkul kecil dan bibit pohon di tangan, anak-anak itu tampak antusias mengikuti kegiatan penanaman pohon yang berlangsung pukul 07.00–10.00 WIB.
Sebanyak 50 bibit ditanam pada kesempatan tersebut, terdiri dari, belimbing, mangga, dan sukun. Jenis-jenis pohon ini bukan hanya dipilih karena fungsi penghijaannya, tetapi juga manfaat jangka Panjang, sebagai peneduh, penyerap polusi, dan penyedia buah bagi masyarakat.

Acara dibuka dengan sambutan dari Thara Bening perwakilan ECOTON, Kepala Desa Lebani Waras H. Adi, serta ketua pelaksana KKN, Hizbullah.
Masing-masing menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada anak-anak sejak dini. “Kegiatan sederhana seperti menanam pohon dapat menyalakan kesadaran besar tentang pentingnya menjaga bumi,” ujar Thara.
Bagi pemerintah desa, aksi ini juga menjadi cara untuk menghidupkan kembali ruang-ruang hijau yang selama ini terabaikan. “Semangat kolaborasi antara lembaga lingkungan, mahasiswa, dan sekolah dasar membuat kegiatan semakin bermakna, “ sambut H. Adi.
#Tiga Titik Penanaman, Tiga Tujuan Lingkungan
Pada pukul 08.00, peserta mulai bergerak ke tiga titik yang telah ditentukan, sepanjang Jalan Lebani Waras, bantaran sungai, dan kawasan Sungai Kali Londo Sidowaras. Setiap lokasi dipilih berdasarkan kondisi lingkungannya dan kebutuhan pemulihan ekologis.
Di bantaran sungai, pohon ditanam untuk memperkuat struktur tanah agar tidak mudah tergerus saat debit air naik. Penanaman di kawasan tersebut juga diharapkan menjaga kualitas ekosistem sungai, terutama di musim penghujan yang rawan luapan air.
Sementara itu, penanaman di sekitar Kali Londo yang berdekatan dengan area industri titanium difokuskan pada fungsi penyerap polusi. Pohon trembesi, khususnya, dipilih karena kemampuannya mereduksi emisi dan menciptakan kanopi hijau yang luas.
Adapun titik di poros Jalan Lebani Waras dimanfaatkan untuk mengisi lahan kosong dengan tanaman produktif dan peneduh, agar jalur tersebut lebih teduh dan ramah bagi pejalan kaki maupun warga sekitar.
Khofifah Agustining Tyas, mahasiswa semester 7 jurusan PGMI dari Institut Al-Azhar Menganti yang turut mengatur jalannya kegiatan, menjelaskan motivasi di balik pembagian lokasi.
“Di bantaran sungai tujuannya menjaga ekosistem agar tanah tidak mudah longsor. Di Kali Londo untuk menyerap polusi udara karena dekat pabrik titanium. Sedangkan di poros jalan, lahannya kosong dan sangat panas, jadi perlu ditanami supaya lebih rindang,” ungkapnya.
Upaya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa KKN tak hanya mensukseskan program, tetapi juga membaca kebutuhan lingkungan secara langsung di lapangan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Belajar Menjaga Alam Lewat Pengalaman Pertama Menanam Pohon
Bagi para siswa SDIT Ya Bunayyam Wringinanom, kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Bahkan banyak dari mereka yang untuk pertama kalinya memegang cangkul dan menanam bibit pohon sendiri.
Natasya Chika Daria Siswanto, siswi kelas 5, mengaku sangat menikmati prosesnya. “Senang karena bisa menanam pohon dan berkontribusi untuk lingkungan. Baru pertama kali ikut kegiatan seperti ini dan sangat asyik,” ujarnya bersemangat.
Di sisi lain, Inggrid Yuniar Wibisono dari kelas 4 merasakan langsung manfaat kegiatan tersebut. “Bermanfaat, karena penanaman pohon bisa menambah oksigen dan menahan longsor. Walaupun kotor dikit, tapi nggak apa-apa,” katanya sambil tersenyum.
Para guru yang mendampingi menyebutkan bahwa pengalaman lapangan semacam ini memberikan pemahaman lebih dalam dibanding hanya belajar melalui buku. Anak-anak bisa melihat, menyentuh, dan melakukan sendiri—membangun hubungan langsung dengan lingkungan.
Kegiatan penanaman ini juga menjadi ruang temu positif antara mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa mendapat pengalaman edukatif dan sosial, sementara warga desa menikmati manfaat aksi penghijauan yang nyata di sekitar mereka.
#Sinergi untuk Lingkungan yang Lebih Baik
Aksi penanaman pohon ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Kolaborasi antara ECOTON, mahasiswa KKN, pemerintah desa, dan siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk anak-anak.

Pohon-pohon kecil yang ditanam hari ini kelak akan tumbuh menjadi peneduh jalan, penguat bantaran sungai, penyaring udara di kawasan industri, serta sumber pangan bagi desa. Lebih dari itu, benih-benih kesadaran yang tumbuh dalam diri anak-anak jauh lebih penting untuk keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Dengan semangat kolaborasi, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari rangkaian aksi lingkungan yang lebih besar dan berkelanjutan. Menjaga bumi bukan tugas satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama, yang dapat dimulai dari satu bibit pohon dan satu langkah kecil.***

*) Siti Nor Shofiyah adalah Koordinator GrowGreen, yang sedang studi independen di ECOTON, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Prodi Ilmu Komunikasi Angkata 2023, berkontribusi penulisan artikel ini.