- Setiap hari Kali Tebu mengalirkan hingga tiga ton sampah. Ironisnya, hanya tiga persen yang masih memiliki nilai ekonomi untuk didaur ulang.
- Sebanyak 27,5 ton sampah berhasil diangkat dari Kali Tebu. Namun tanpa pasar yang kuat, plastik laut tetap menjadi limbah, bukan komoditas.
- Riset terbaru menunjukkan 70–80 persen sampah laut berasal dari daratan. Sungai menjadi jalur utama pencemaran sebelum limbah mencapai pesisir.
- Nelayan diminta membawa pulang sampah laut, tetapi siapa yang membayar? Tanpa insentif dan pasar, ekonomi sirkular sulit benar-benar berjalan.
Membersihkan sampah plastik dari sungai dan laut belum cukup menghentikan pencemaran perairan. Tantangan terbesar justru muncul setelah sampah berhasil dikumpulkan. Tanpa pasar yang mampu menyerap plastik hasil daur ulang, ekonomi sirkular sulit berkembang sehingga nelayan, komunitas sungai, dan pengelola sampah kehilangan insentif untuk mempertahankan upaya pemulihan lingkungan.
Persoalan ini tercermin di Kali Tebu, Surabaya, yang terus menerima kiriman sampah dari wilayah hulu. Operasi pembersihan yang dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya pernah mengangkat sekitar 1,4 sampai lebih dari tiga ton sampah setiap hari, tergantung pada curah hujan, debit sungai, dan aktivitas masyarakat.
Data pemantauan Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mencatat sebanyak 11,5 ton sampah berhasil diangkat selama operasi pada 11–26 Mei 2026. Operasi gabungan berikutnya kembali mengevakuasi sekitar 16 ton sampah hanya dalam dua hari. Secara keseluruhan, sekitar 27,5 ton sampah telah diangkat dari Kali Tebu dalam dua operasi tersebut.
Komposisi sampah menunjukkan residu mendominasi sebanyak 80,1 persen dari keseluruhan material. Sampah organik mencapai 16,8 persen, sedangkan material yang berpotensi didaur ulang hanya sekitar tiga persen. Kondisi itu menunjukkan sebagian besar sampah memiliki nilai ekonomi rendah sehingga sulit diserap industri daur ulang.
Manager Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, menilai besarnya volume sampah yang diangkut setiap hari, memperlihatkan tekanan pencemaran dari wilayah hulu masih sangat tinggi.
“Sampah terus datang setiap hari melalui aliran sungai. Upaya pembersihan harus berjalan bersama pengurangan sampah dari sumbernya,” ujar Alaika.
Menurut Alaika, keberhasilan mengangkat sampah dari sungai hanya menghentikan dampak pencemaran untuk sementara. Persoalan utama justru terletak pada besarnya volume sampah residu yang tidak memiliki nilai ekonomi sehingga sulit dimanfaatkan kembali.
“Upaya pembersihan sungai harus diikuti pengurangan sampah dari sumber, peningkatan tanggung jawab produsen, serta pengembangan pasar bagi material daur ulang. Tanpa langkah-langkah ini, sampah yang diangkat dari sungai akan terus bertambah setiap musim,” katanya.
Ia juga menambahkan, ekonomi sirkular tidak dapat bertumpu pada kegiatan bersih sungai semata. Menurutnya, diperlukan mekanisme yang mampu memberikan nilai tambah bagi plastik hasil pemulihan lingkungan, termasuk insentif bagi komunitas sungai dan para pengumpul sampah.
“Ekonomi sirkular tidak cukup hanya mengandalkan aksi bersih sungai. Harus ada pasar yang menyerap material daur ulang, ada insentif bagi para pengumpul, dan ada konsumen yang bersedia memilih produk ramah lingkungan,” ujarnya.

#Sebagian Besar Sampah Laut Berasal dari Daratan
Temuan di Kali Tebu sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Direktur ICAR–Central Marine Fisheries Research Institute (CMFRI), Grinson George. Dalam wawancara dengan media Down To Earth pada 7 Juli 2026, Grinson menyatakan anggapan bahwa nelayan merupakan penyumbang utama sampah laut tidak sepenuhnya tepat.
Survei CMFRI di 261 pantai menggunakan protokol United Nations Environment Programme (UNEP) mengelompokkan sampah ke dalam 54 kategori. Hasil analisis menunjukkan aktivitas perikanan hanya menyumbang sekitar 20–30 persen sampah laut, sedangkan sekitar 70–80 persen lainnya berasal dari daratan melalui sungai, kawasan industri, aktivitas wisata pesisir, pelayaran, angin, dan arus laut.
Menurut Grinson, sampah yang ditemukan di pantai belum tentu berasal dari wilayah setempat. Arus laut dapat membawa limbah hingga ratusan kilometer sebelum akhirnya terdampar di pesisir.
Ia mencontohkan temuan sampah di Kepulauan Andaman dan Nicobar, wilayah yang relatif minim permukiman. Berdasarkan karakteristik sampah yang ditemukan, sebagian material diduga berasal dari aktivitas pelayaran.
“Kondisi ini menunjukkan pencemaran laut merupakan persoalan lintas wilayah bahkan lintas negara,” kata Grinson.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelTemuan tersebut memperkuat pentingnya pengendalian sampah sejak dari kawasan sungai. Kali Tebu menjadi contoh, bagaimana sungai berfungsi sebagai jalur utama pengangkut sampah menuju laut. Material plastik yang tidak tertahan akhirnya bermuara ke Selat Madura, terutama ketika musim hujan meningkatkan debit air.
Selain mencemari pantai, penelitian CMFRI juga menemukan sampah plastik berada di kawasan mangrove, terumbu karang, habitat pemijahan, dan daerah pembesaran larva ikan. Plastik yang terdegradasi kemudian berubah menjadi mikroplastik dan memasuki rantai makanan.
“Di India, masyarakat umumnya membersihkan isi perut ikan sebelum dimasak sehingga sebagian mikroplastik dapat dihilangkan. Namun, keberadaan mikroplastik di saluran pencernaan ikan tetap menunjukkan bahwa pencemaran telah memasuki ekosistem perairan,” ujar Grinson.

#Ekonomi Sirkular Butuhkan Pasar
Grinson mengatakan CMFRI pernah menjalankan program pengumpulan sampah laut bersama komunitas nelayan. Sampah yang tertangkap selama melaut dibawa kembali ke daratan untuk diolah menjadi produk baru.
Program tersebut berjalan baik pada tahap pengumpulan material. Namun, hambatan terbesar muncul ketika plastik harus diolah menjadi produk bernilai ekonomi karena biaya pencucian, pemilahan, dan pengolahannya jauh lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional.
Ia mencontohkan sepatu anak berbahan plastik laut dijual sekitar 2.000 rupee, sedangkan produk serupa berbahan plastik biasa hanya berkisar 400–500 rupee. Perbedaan harga itu membuat konsumen lebih memilih produk konvensional sehingga pasar plastik laut daur ulang sulit berkembang.
“Selama masyarakat belum bersedia membayar lebih untuk produk hasil daur ulang, ekonomi sirkular akan sulit berjalan,” kata Grinson.
Menurutnya, pembelian produk berbahan plastik laut seharusnya dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap perlindungan ekosistem pesisir sekaligus membantu masyarakat pesisir memperoleh manfaat ekonomi.
Grinson juga menilai nelayan memerlukan insentif nyata ketika membawa sampah ke daratan. Ruang kapal mereka sebagian besar digunakan untuk menyimpan ikan dan es. Setiap satu kilogram ikan membutuhkan sekitar satu kilogram es, bahkan hingga tiga kilogram untuk pelayaran yang lebih jauh. Kondisi tersebut membuat membawa sampah tanpa imbalan bukan pilihan yang realistis bagi nelayan kecil.
Karena itu, ia mendorong pemerintah dan sektor swasta menyediakan mekanisme pembayaran berdasarkan berat plastik yang berhasil dikumpulkan. Skema tersebut dinilai dapat menambah pendapatan nelayan sekaligus mengurangi pencemaran laut.
CMFRI juga pernah membentuk kelompok relawan nelayan bernama Nila Haritha Sena untuk mengumpulkan sampah laut. Namun program tersebut berhenti karena tidak memiliki dukungan pendanaan jangka panjang dan pasar produk plastik laut belum berkembang secara berkelanjutan.
Bagi Grinson, edukasi kepada konsumen sejak usia sekolah serta keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan menjadi bagian penting dalam membangun permintaan terhadap produk berbahan plastik laut daur ulang.
Pengalaman India menunjukkan bahwa membersihkan sampah hanyalah tahap awal pengendalian pencemaran. Keberhasilan ekonomi sirkular bergantung pada keterlibatan pemerintah, industri, nelayan, komunitas, dan konsumen secara bersamaan. Temuan di Kali Tebu Surabaya memperlihatkan tantangan serupa tengah dihadapi Indonesia. Selama sampah terus mengalir dari daratan dan pasar belum menghargai plastik hasil daur ulang, jutaan kilogram sampah akan terus bermuara ke laut setiap tahunnya.***