Lewati ke konten

#KayuDeforestasi, Dari Hutan Kalimantan ke Ruang Tamu di Belanda: Ketika Hutan Dikirim ke Eropa, Udara Bukan Lagi Menjadi Segar

| 3 menit baca |Ekologis | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Auriga Nusantara Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

DI BELANDA SANA, mungkin ada orang yang sedang duduk santai di kursi taman sambil minum teh chamomile. Mereka bangga karena kursinya terbuat dari sustainable tropical wood.

Mereka tak tahu, mungkin saja kursi itu berasal dari batang pohon yang dulu jadi rumah orangutan di Kalimantan.

Itu bukan drama Netflix, tapi hasil investigasi Auriga Nusantara dan Earthsight, dua lembaga yang membongkar rantai pasok kayu dari hutan Indonesia ke pasar Eropa.

Mereka menemukan 65 industri kayu di tanah air yang kedapatan menerima bahan dari pembabatan hutan alam. Sebagian besar di Kalimantan.

Bayangkan, hutan lebat yang dulu jadi paru-paru dunia, kini dipotong, dikeringkan, dikapalkan, lalu sampai ke Rotterdam jadi… kusen pintu.

#RPBBI: Laporan yang Ternyata Bisa Menebang

Investigasi ini dimulai dari dokumen serius bernama RPBBI, kalau dipanjangkan, Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri.

Auriga dan Earthsight membaca sekitar 10.000 laporan industri kayu yang diserahkan ke Kementerian Kehutanan. Dari situ, mereka menemukan pola, yang disebut “pemenuhan bahan baku” ternyata artinya “izin babat hutan dengan sopan”.

Lebih jauh lagi, mereka melacak lima industri top pengguna kayu deforestasi. Semua jualan ke Eropa. Semua tampil rapi. Semua “legal”. Tapi kalau legal berarti benar, mungkin kita perlu bikin UU baru tentang logika.

 

#Eropa: Suka Alam Tropis, Tapi Tak Suka Tahu Asalnya

Uni Eropa sebenarnya sudah punya niat baik: mereka ingin melarang “kayu deforestasi” lewat EU Deforestation Regulation (EUDR).

Sayangnya, niat baik itu masih di meja rapat, belum jadi kenyataan. Jadi, sementara Eropa sibuk menunda-nunda regulasi, kayu-kayu kotor itu sudah lebih dulu sampai.

Earthsight menemukan bukti, salah satu perusahaan Belanda menerima kiriman kayu lapis dari Indonesia, padahal area asal kayunya baru saja dibabat ratusan hektare.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dan jawaban mereka? “Kami akan terus berbisnis dengan perusahaan yang kami kenal.”
Jadi rupanya, prinsip mereka: asal kenal lama, dosa bisa ditoleransi.

#Auriga Turun ke Lapangan: Deforestasi Tak Lagi Abstrak

Auriga Nusantara tidak berhenti di meja data. Mereka terjun langsung ke empat lokasi pembabatan hutan.

Di Kalimantan Tengah, mereka menemukan ribuan hektare hutan alam yang dulu jadi rumah orangutan, sekarang berubah jadi peta penderitaan, tanah gundul, batang tumbang, warga kehilangan sumber hidup.

“Tidak berdaya,” kata warga. “Kami hanya jadi penonton, sambil gigit jari.” Sementara polisi dan perusahaan lebih sibuk menjaga “investasi”.

Dari atas drone, gambarnya mungkin tampak indah, pola coklat dan hijau berkelok. Tapi di bawah sana, itu artinya kematian ekosistem.

#Dari Sarang Orangutan ke Rak Dapur: Dunia yang Terbalik

Auriga dan Earthsight menelusuri ekspor kayu deforestasi sepanjang 2024. Hasilnya, 23.272 meter kubik kayu alam dikirim ke Eropa. Ke Belgia, Jerman, Belanda.

Semuanya tampak legal, semuanya punya dokumen. Tapi di balik kertas legalitas itu, ada darah ekologis yang belum kering.

Ketua tim Earthsight, Aron White, bilang dengan getir, “Dana Eropa ikut menghancurkan sarang-sarang terakhir orangutan di Bumi.”

Ironisnya, sebagian perusahaan yang diwawancarai mengaku peduli lingkungan. Mereka bahkan punya brosur hijau dengan daun-daun segar di cover-nya.

Tapi begitu ditanya asal kayu? “Kami tidak tahu.” Ya, seperti biasa, ketidaktahuan adalah tameng paling berkelanjutan di dunia bisnis.

Hilman Afif dari Auriga menutup dengan kalimat yang mestinya bikin kita berhenti sejenak. “Setiap hektar hutan yang hilang mendekatkan kita pada kehancuran masa depan.”

Tapi sayangnya, di negara yang sibuk menanam beton dan menebang logika, kata “kehancuran” sering kalah oleh “investasi”.

Dan begitulah, hutan-hutan Kalimantan perlahan hilang — bukan karena badai, tapi karena invoice yang dibayar tepat waktu.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *