- Ribuan warga memenuhi Lidah Wetan. Sebanyak 1.500 pelajar menari Remo, sementara tujuh sumber air disatukan dalam Kirab Budaya bertema Kembalinya Jati Diri.
- Lidah Wetan memanggil pulang jati diri melalui 1.500 penari Remo. Tradisi Sedekah Bumi berpadu dengan penyatuan air dari tujuh sumber mata air.
- Di tengah perubahan zaman, Lidah Wetan merawat ingatan. Sebanyak 1.500 pelajar menari Remo, mengiringi kirab budaya dan penyatuan tujuh sumber mata air.
- Tari Remo menggema di Lidah Wetan. Ribuan warga menyaksikan 1.500 pelajar turun ke jalan, membawa pesan tentang budaya, tradisi, dan jati diri.
- Dari hentakan gongseng hingga tujuh sumber air, Kirab Budaya Lidah Wetan merayakan “Kembalinya Jati Diri” bersama ribuan warga dan 1.500 pelajar.
RIBUAN warga memenuhi jalan-jalan di kawasan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya, pada Ahad, 4 Oktober 2026. Mereka datang menyaksikan Kirab Budaya dan Sedekah Bumi Lidah Wetan yang tahun ini mengangkat tema “Kembalinya Jati Diri”.
Di antara kerumunan warga, terdapat 1.500 pelajar dari berbagai sekolah di Surabaya. Mereka tampil dengan menari Remo secara massal. Gerakan kaki yang dihiasi gongseng berpadu dengan irama gamelan itu, para penari bergabung dalam rombongan kirab.
Kirab budaya yang tidak hanya menampilkan kesenian tradisional saja. Tetapi ada salah satu rangkaian yang menarik perhatian khalayak, yaitu prosesi penyatuan air dari tujuh sumber mata air yang disebut mewakili lima benua.
Air itu dibawa dari perwakilan KIVA. Yang dalam arak-arakan kirab itu, kemudian dituangkan ke dalam satu wadah. Prosesi yang kemudian dimaknai sebagai simbol persatuan, kedamaian, keberkahan, serta hubungan manusia dengan alam.
Penyatuan air mejadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan melalui tema “Kembalinya Jati Diri”. Di tengah perubahan kota dan kehidupan masyarakat, semakin modern, tradisi tersebut menjadi ruang untuk kembali mengingat kebudayaan yang tumbuh dari lingkungan tempat warga hidup.

1.500 Pelajar Turun ke Jalan
Tentang kegitan ini, Camat Lakarsantri Iin Trisnoningsih mengatakan, keterlibatan pelajar dalam pertunjukan Tari Remo merupakan hasil kolaborasi antara Kecamatan Lakarsantri dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
“Tadi yang Tari Remo ada 1.500 anak seluruhnya, dan semuanya juga ikut kirab. Untuk Tari Remo ini diikuti sekolah-sekolah yang ada di Surabaya, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan,” kata Iin.
Para pelajar tidak hanya menjadi penampil. Setelah pertunjukan Remo, mereka ikut mengawal rombongan kirab sepanjang rute.
Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi cara memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda melalui pengalaman langsung. Mereka tidak hanya melihat pertunjukan sebagai penonton, tetapi menjadi bagian dari pertunjukan dan tradisi itu sendiri.
Tari Remo merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa Timur yang dikenal melalui karakter geraknya yang dinamis dan penggunaan gongseng pada kaki penari.

Dari Sedekah Bumi hingga Jati Diri
Rangkaian kirab dimulai dari kawasan Gedung Serba Guna Suryo Broto dan berakhir di kawasan Patung Ayam Jago Lidah Wetan.
Warga membawa hasil bumi dan berbagai simbol kebudayaan dalam arak-arakan tersebut. Di sepanjang jalan, masyarakat berdiri menyaksikan rombongan yang bergerak menuju titik akhir kirab.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Sedekah Bumi sendiri merupakan tradisi tahunan masyarakat Lidah Wetan sebagai ungkapan syukur atas rezeki dan keselamatan.
Namun, penyelenggara tidak ingin tradisi tersebut berhenti sebagai agenda tahunan. Setiap tahun tema tertentu diangkat untuk memberikan pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Tahun ini tema yang diusung adalah ‘Kembalinya Jati Diri’ untuk mengajak masyarakat mengingat kembali pentingnya identitas dan kebudayaan lokal kita,” ujar Iin.
Tema itu menjadi penting ketika kebudayaan lokal berhadapan dengan perubahan zaman. Anak-anak yang hari ini menari Remo, misalnya, bukan hanya sedang tampil dalam sebuah acara. Mereka sedang berhadapan langsung dengan salah satu bentuk pengetahuan budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Air yang Datang dari Berbagai Penjuru
Prosesi penyatuan tujuh sumber air menjadi simbol lain dalam perayaan tersebut.
Air dari berbagai sumber yang disebut mewakili lima benua disatukan dalam satu wadah. Perbedaan asal air justru menjadi alasan untuk menyatukannya.
Dalam konteks budaya, air memiliki kedekatan dengan kehidupan manusia. Ia dibutuhkan untuk tumbuhnya tanaman, kehidupan hewan, dan keberlangsungan masyarakat. Karena itu, penyatuan air dalam Sedekah Bumi Lidah Wetan tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari seremoni, tetapi juga sebagai simbol hubungan manusia dengan alam.
Kirab kemudian bergerak di antara rumah-rumah warga dan jalan kampung. Musik, pakaian tradisional, hasil bumi, dan ribuan langkah pelajar bertemu dalam satu ruang.
Di sana, “kembalinya jati diri” tidak berhenti sebagai tema di panggung. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: sebuah tarian yang dipelajari anak-anak, tradisi yang masih dirawat warga, dan ingatan tentang pentingnya menjaga kebudayaan yang tumbuh dari tanah tempat mereka tinggal.***