Lewati ke konten

Ketika Bumi Menolak Dimiliki Manusia

| 4 menit baca |Rekreatif | 24 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Ruang berdinding plastik bekas menjadi saksi. Puisi lama tentang bumi dibacakan kembali, menantang bahasa kepemilikan manusia di tengah krisis ekologis hari ini.

Hall Inspirasi di kawasan Wringinanom, Gresik, itu tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Dinding-dindingnya, yang disusun dari bekas kemasan plastik, menghadirkan jejak Panjang persoalan yang sedang dibicarakan.

Di ruang itulah kata-kata lama terdengar kembali, kata-kata yang telah berulang kali dikutip, diperdebatkan keasliannya, bahkan diragukan sejarahnya, namun entah bagaimana tetap hidup.

Green Voice Academy yang digelar Ecoton menghadirkan sebuah puisi tentang bumi, pada Rabu, 4 Februari 2026. Puisi yang mungkin saja, tidak dihadirkan sebagai pelengkap acara, tapi sebagai pertanyaan yang diarahkan lurus ke masa kini.

Puisi yang kerap dikaitkan dengan pidato Kepala Suku Indian Suquamish pada tahun 1854 itu terdengar nyaris polos, seolah tak membawa beban besar.

Dengan kepolosan itulah yang perlahan bekerja. “Bagaimana kami bisa membeli dan menjual langit, serta hangatnya tanah?”

Kalimat itu bukan ajakan berdialog. Tentu juga tidak menunggu jawaban. Sejak awal, pertanyaan itu menolak logika yang melahirkannya. Puisi itu justru mengganggu pertanyaan-pertanyaan kita sendiri, tentang kepemilikan, tentang harga, tentang kuasa yang kita anggap wajar.

“Jika kami tak punya segarnya udara dan gemericiknya air, bagaimana kami bisa membelinya?”

Kalimat lanjutan itu dibacakan tanpa nada marah. Tidak ada teriakan, tidak ada tuntutan. Kata-kata itu memilih berbisik. Dan dalam bisikan itulah tersimpan sesuatu yang sering hilang dari perbincangan lingkungan hari ini: kesadaran bahwa manusia tidak selalu berada di pusat kalimat.

#Intan dan Cara Membaca yang Menggeser Posisi

Intan Fatimah Azzahrah, mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya, mengepalkan tangan kiri sebagai simbol perlawanan bersama mahasiswa lain, menyuarakan krisis mikroplastik dan pencemaran Sungai Brantas di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. | Foto: Amiruddin Muttaqin

Puisi itu dibacakan Intan Fatimah Azzahrah, mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya. Dengan suara yang terjaga dan ritme yang pelan,

Intan tidak mengajak teman-temanya sesama mahasiswa yang sedang studi independen di Ecoton, untuk memahami secara tergesa, melainkan berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-kata untuk bekerja.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Bacaan itu tidak menawarkan solusi, tidak menunjuk pasal hukum, dan tidak mengusulkan teknologi. Yang dilakukan justru menggeser posisi manusia dalam relasinya dengan bumi. Dari subjek yang merasa memiliki, menjadi bagian yang turut dimiliki.

Selama ini, bahasa yang kita gunakan untuk menyebut alam sarat kepemilikan: hutan kita, sungai kita, tanah kita. Bahasa semacam itu terdengar wajar, bahkan sah.

Puisi itu justru membalik urutan subjek dan objek. “Bumi bukan milik manusia,” katanya, “manusialah milik bumi.” Kalimat sederhana, tetapi cukup untuk menggoyahkan cara berpikir modern yang selama ini dianggap mapan.

Dalam puisi itu, setiap bagian bumi disebut sakral, kilau pucuk pohon, pasir pantai, embun di dedaunan, dengung serangga. Semuanya hadir bukan sebagai sumber daya, tapi sebagai ingatan.

Cairan yang mengalir dalam pepohonan membawa jejak kehidupan orang-orang yang hidup bersamanya. Alam dan manusia tidak dipisahkan; keduanya saling terhubung dalam satu jaringan kehidupan.

#Puisi di Antara Data dan Diam

Layar proyeksi menampilkan teks puisi, sementara plastik-plastik bekas di dinding ruang tampak diam seperti saksi. Tanpa penjelasan panjang, ironi bekerja dengan sendirinya. Puisi tentang kesakralan bumi dibacakan di ruang yang dibangun dari sisa-sisa krisis lingkungan. Justru di sanalah kata-kata itu menemukan konteksnya.

Puisi ini tidak memuja alam secara romantik, juga tidak menggambarkan bumi sebagai ibu yang sabar tanpa batas. Pesan yang disampaikan menegaskan bahwa semua hubungan bersifat timbal balik. “Semua hal berhubungan,” seperti darah yang menyatukan sebuah keluarga. Dan seperti keluarga, hubungan itu bisa terluka jika diperlakukan sepihak.

Selama ini Ecoton bekerja dengan data: angka pencemaran, hasil uji laboratorium, laporan pelanggaran. Semua itu penting. Namun puisi mengisi celah yang tak bisa dijangkau tabel dan grafik. Kerja puisi berlangsung di wilayah yang lebih sunyi—wilayah etika dan kesadaran.

Ketika pembacaan selesai, tidak ada tepuk tangan tergesa. Yang tersisa hanyalah jeda. Dalam jeda itulah, mungkin, pesan tersebut bekerja—pelan, tidak pasti, tetapi jujur. Seperti bumi itu sendiri, yang tak pernah meminta diselamatkan, hanya meminta agar manusia berhenti merasa sebagai pemiliknya.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *