Tahun 2022 menjadi titik balik perjalanan panjang menyusuri sungai-sungai Indonesia. Dari motor yang nyaris jatuh ke laut hingga anak-anak penjaga sungai di desa, ekspedisi ini merekam luka ekologis dan harapan yang tumbuh di tepi air.
#Motor yang Nyaris Jatuh dan Awal Sebuah Perjalanan
Kilasan itu kembali hadir setiap kali Prigi Arisandi dan Amiruddin Muttaqin mengingat tahun 2022. Tahun ketika mereka memulai perjalanan menyusuri sungai-sungai Nusantara.
Perjalanan itu tidak dimulai dari sungai besar yang kerap menghiasi berita nasional, melainkan dari Sungai Gogor di Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sebuah daerah aliran sungai Brantas yang alirannya kecil namun masih relatif jernih.

Bagi Prigi, awal perjalanan di Sungai Gogor menjadi pengingat penting: di tengah kerusakan yang masif, masih ada harapan yang tumbuh dari anak-anak yang belajar mengenal sungai sejak dini. Dari titik itulah, Ekspedisi Sungai Nusantara 2022 bergerak perlahan, menyusuri alur air yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Namun kilas balik itu juga membawa Prigi pada satu momen paling menegangkan. Motor yang mereka andalkan tergantung di udara, diikat tali besar yang berderit diterpa angin laut Belitung. Di bawahnya, ombak mengguncang perahu kecil yang menjadi penghubung menuju kapal besar di tengah laut. Tak ada derek. Tak ada pengaman memadai.
“Kalau motor jatuh, ekspedisi selesai,” ujar Prigi pelan saat itu.
Adegan tersebut kemudian menjadi pembuka film dokumenter Sungai Plastik. Namun bagi Prigi dan Amiruddin, peristiwa di laut hanyalah satu fragmen dari perjalanan panjang selama 11 bulan menyusuri 68 sungai di Indonesia.
Sepanjang tahun itu, mereka bergerak dari Sumatra hingga Papua, mengikuti alur sungai dari hulu yang tercemar aktivitas tambang hingga hilir yang tersedak sampah plastik. Setiap sungai menyimpan cerita, setiap aliran meninggalkan luka.
Kilasan Prigi dan Amir tak berhenti di laut Belitung. Ingatannya melompat pada rasa takut yang selama bertahun-tahun ia pendam, yaitu ketakutan bahwa sungai akan mati perlahan, sementara jutaan orang masih menggantungkan hidup pada aliran air yang kian tercemar itu.

#Ketakutan yang Mendorong Langkah
Prigi Arisandi bukan nama baru dalam advokasi lingkungan. Sebagai pendiri Yayasan ECOTON, selama bertahun-tahun ia meneliti pencemaran sungai, dengan basis riset awal di Sungai Brantas. Namun justru rasa takut itulah yang mendorongnya turun ke lapangan pada 2022.
“Sungai tidak mendapat tempat selayaknya dibanding isu lingkungan lain,” ujarnya dalam film. Ketakutan itu sederhana, tetapi mendalam: sungai terus dibebani berbagai limbah, sementara perlindungan nyaris absen.
Amiruddin Muttaqin, rekan seperjalanan, membawa kegelisahan yang berbeda. Ia ingin berbagi pengetahuan tentang kualitas air, bukan lewat seminar atau laporan teknis, melainkan langsung di tepi sungai, bersama warga dan anak-anak sekolah yang hidup berdampingan dengan aliran air.
Pilihan menggunakan sepeda motor bukan soal romantisme perjalanan. Kendaraan inilah yang memungkinkan mereka menjangkau sungai-sungai yang tak tersentuh kendaraan besar. Konsekuensinya, tubuh ikut diuji. Jalan rusak, hujan berhari-hari, makan seadanya, hingga pijat darurat di sela kegiatan menjadi bagian dari rutinitas.
Di Bengkulu, Prigi dan Amir merayakan Idulfitri jauh dari keluarga. Tak ada meja makan lebaran, hanya sambungan panggilan video dan suara mesin motor yang kembali menyala, menandai perjalanan yang harus dilanjutkan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Dengan mengendarai sepeda motor trail Honda CRF 150 cc keluaran 2018, Prigi Arisandi, bersama Amiruddin Muttaqin yang menunggangi Supra X 125 keluaran 2017, menyusuri sungai demi sungai.
Di atas roda dua itu, mereka membawa kegelisahan yang sama tentang air yang terus tercemar, sekaligus harapan akan masa depan perairan Indonesia yang masih bisa diselamatkan.

#Luka Sungai dan Perjalanan yang Belum Selesai
Namun perjalanan sepanjang 2022 itu juga membuka satu kenyataan pahit: wajah sungai-sungai Indonesia yang terluka. Di Batanghari, air sungai terkontaminasi merkuri dari aktivitas tambang emas ilegal. Di Sawahlunto, warga tak lagi berani mandi di sungai dan terpaksa membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di bagian tengah aliran, hutan penyangga menghilang, berganti perkebunan sawit dan tanaman monokultur. Sungai kehilangan pelindung alaminya. Air menjadi keruh, aliran tak lagi stabil. Di hilir, pertumbuhan kota menekan sungai dengan limpasan limbah domestik dan industri yang mengalir tanpa pengolahan memadai.
Sungai Deli, Ciliwung, Brantas, Musi, hingga Barito menyimpan cerita yang nyaris serupa. Padahal regulasi menyebut sungai seharusnya bebas dari sampah. Fakta di lapangan berkata lain, plastik justru menjadi bagian dari arus.
Ancaman lain bahkan lebih sunyi. Di beberapa titik, Prigi membuka mikroskop portabelnya dan memperlihatkan partikel-partikel mikroplastik yang mengambang dalam air sungai. Benda-benda kecil itu masuk ke tubuh ikan, lalu berakhir di tubuh manusia.
“Ini yang paling saya khawatirkan,” kata Prigi. “Karena orang merasa aman selama air masih mengalir.”
Bagi banyak warga yang ditemui di Pontianak, Medan, hingga Maluku Utara, sungai bukan pilihan alternatif. Sungai adalah satu-satunya sumber air. Ketika kualitasnya menurun, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga hak dasar atas air bersih.
Hasil penelusuran ESN pada 2022 itu menunjukkan lima provinsi dengan tingkat pencemaran mikroplastik tertinggi di badan sungai: Jawa Timur (636 partikel per 100 liter), Sumatra Utara (520 partikel per 100 liter), Sumatra Barat (508 partikel per 100 liter), Bangka Belitung (497 partikel per 100 liter), dan Sulawesi Tengah (417 partikel per 100 liter).
Di akhir film, Prigi menari bersama seorang perempuan tua keturunan Istana Maimun di Medan. Bukan tarian kemenangan, melainkan penutup sunyi dari perjalanan panjang tahun 2022.
Motor mungkin berhenti. Film mungkin usai. Namun selama sungai masih mengalir membawa plastik dan racun, kilas balik itu menegaskan satu hal, perjalanan menyelamatkan sungai-sungai Indonesia belum selesai.***