Lewati ke konten

Kolaboraya 2025 Perlihatkan Kolaborasi sebagai Mesin Sosial Baru yang Menyatukan Komunitas, Seni, Pengetahuan, dan Lingkungan Indonesia

| 4 menit baca |Ide | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

Festival Kolaboraya 2025 yang berlangsung di Yogjakarta, menjadi ruang belajar bersama bagi ratusan penggerak perubahan sosial. Komunitas kampung kota, seniman, aktivis pangan lokal, arsitek komunitas, dan pegiat lingkungan saling bertemu, berbagi praktik, dan menyulam jejaring lintas sektor untuk memperkuat ruang sipil dan membangun gerakan sosial yang lebih tahan lama.

#Kolaborasi sebagai Ruang Belajar dan Ruang Sipil yang Terjaga

Arkom Indonesia mengingatkan: merancang kota bukan soal bangunan, tapi soal merawat hubungan manusia dan komunitas. | Foto: Amel/Ecoton

FESTIVAL Kolaboraya 2025 yang digelar di Jogja National Museum (JNM Bloc) Yogyakarta pada 23–24 November 2025, telah menghadirkan suasana perayaan sekaligus perenungan kolektif tentang cara baru membangun perubahan sosial.

Sejak pembukaan, energi festival terasa bergemuruh, ruang-ruang diskusi penuh, lokakarya berlangsung intens menyibak refleksi para pegiat komunitas. Begitu pul di Pasar Kolaboraya mempertemukan beragam praktik komunitas dari berbagai daerah.

Pesan pembuka “Alam menyediakan ruang belajar untuk bertransformasi” tidak sekadar slogan, tetapi menjadi kesadaran bersama bahwa pengetahuan tumbuh ketika ruang sipil dibiarkan hidup, terbuka, dan menyenangkan.

Seorang fasilitator merangkum sentimen itu dengan lugas, “Ruang sipil itu tetap ada — dan ketika kita berkumpul, sesuatu selalu tumbuh.” Di Kolaboraya, berkumpul bukan rutinitas; berkumpul adalah cara mempertahankan harapan.

#Arkom Indonesia dan Gerakan Pangan Lokal: Pengetahuan Bukan untuk Disimpan, tetapi Dikembalikan

Salah satu sorotan paling kuat datang dari partisipasi Arkom Indonesia yang memamerkan maket kampung kota dan mengulas gagasan arsitek komunitas sebagai “serangga penyerbuk” — agen yang bergerak ke berbagai titik komunitas untuk merawat sekaligus menghubungkan pengetahuan.

Perwakilan Arkom menegaskan bahwa pengetahuan tidak boleh menjadi milik eksklusif para ahli. “Pengetahuan itu milik bersama. Peran kami hanya merawat, menghubungkan, dan memastikan pengetahuan kembali ke komunitas, ungkapnya.

Gagasan tersebut menemukan resonansi serupa di ruang lain, gerakan pangan lokal bertagar #PiringLokal, yang mengangkat tema kedaulatan pangan, relasi desa–kota, dan budaya kuliner sebagai identitas komunitas.

Pendekatan ini menunjukkan keseriusan, bahwa pangan bukan sekadar urusan nutrisi, melainkan soal memori kolektif dan keberlanjutan budaya. Persepsi pangan dibentuk oleh folklor, asal usul, dan tata hidup masyarakat.

Melalui praktik berbagi resep, benih, dan cerita, #PiringLokal menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak tumbuh dari pasar, melainkan dari relasi antar manusia. Kedua ruang, Arkom Indonesia dan gerakan pangan local, menyampaikan kesimpulan yang sama meski lewat jalur berbeda, perubahan sosial dimulai dari rasa memiliki, bukan dari instruksi.

Kolaboraya 2025 menegaskan bahwa perubahan sosial lahir dari rasa memiliki, bukan dari komando. | Foto: Amel/Ecoton

#Ecosystem Builders: Menghubungkan Talenta dan Gerakan Akar Rumput dalam Jejaring Baru

Tahun ini, Kolaboraya meluncurkan 25 ecosystem builders yang bekerja di enam ekosistem berbeda dan terorganisir dalam tiga kluster besar bernama RAYA.

Kehadiran mereka memberikan gambaran baru tentang bagaimana gerakan sosial bekerja, tidak lagi terkotak dalam isu spesifik, tetapi saling terhubung dalam jejaring yang cair.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pada sebuah sesi refleksi, salah satu ecosystem builder menyampaikan pernyataan yang memantik banyak kepala mengangguk, “Kolaborasi bukan soal siapa yang paling kuat. Tapi siapa yang mau mendengar dan menjadi jembatan.”

Selama dua hari festival, pernyataan itu terbukti berkali-kali. Orang-orang bertemu tanpa hierarki, tanpa dikotomi senior–junior, tanpa kompetisi panggung. Yang menjadi pusat bukan siapa yang berbicara paling lantang, melainkan bagaimana percakapan memunculkan keberanian untuk saling terhubung.

Dengan cara ini, jejaring perubahan tidak hanya dibangun, tapi ia harus dan perlu dirawat.

Dari maket kampung kota hingga kisah Manusia Setengah Kasuari, kekuatan transformasi sosial datang dari memori kolektif. | Foto: Amel/Ecoton

#ECOTON dan Janji Kolaborasi yang Tidak Episodik

Di tengah dinamika festival, suara Budhita Kismadi, atau yang biasa di sapa Budhsi, Direktur Eksekutif Roemah Inspirit (Roemi) sekaligus salah satu pendukung Kolaboraya, menjadi jangkar arah.

Baginya, Kolaboraya bukan sekadar kumpul komunitas, tetapi ruang untuk memetakan ulang cara bangsa ini bekerja bersama. “Kolaboraya hadir bukan untuk bicara satu isu saja, tapi untuk memetakan ulang ekosistem kita — di mana komunitas, seni, lingkungan, dan solidaritas bisa bersatu dalam satu gerakan bersama,” ujarnya.

Tahun ini, ECOTON diundang sebagai tamu untuk memperluas perspektif tersebut. Amalia Fibrianty dari Divisi Komunikasi dan Branding ECOTON menekankan bahwa gerakan lingkungan akan relevan ketika berjalan bersama isu-isu sosial lainnya.

“Kampung kota, pangan lokal, seni, dan pendidikan komunitas. Pendeknya, ekologi tidak bisa berdiri sendiri, “ Amelia.

Penutup festival menghadirkan momen yang menyentuh. Budhsi mengingatkan bahwa “Perubahan adalah maraton panjang. Selama ruang seperti Kolaboraya tetap ada, kita tidak pernah sendirian.”

Kolaboraya 2025 melampaui format festival. Ia menjadi bukti bahwa perubahan sosial tidak lahir dari kompetisi, tetapi dari kemauan untuk mendengar, merawat talenta, dan berjalan bersama. Dari komunitas, dari seni, dari lingkungan, satu gerakan sosial lintas isu mulai menemukan bentuknya. Dan dari sinilah harapan Indonesia tumbuh.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *