Erupsi Gunung Semeru pada 4 Desember 2021 menelan korban jiwa dan merusak ribuan rumah. Di balik bencana itu, sejarah vulkaniknya menunjukkan bahwa Semeru sudah aktif sejak 1818 dan terus berulang. Warga kini diimbau waspada karena ancaman awan panas dan lahar masih tinggi.
#Aktivitas Vulkanik Terulang, Sabtu Kelabu di Lumajang

SABTU, 4 Desember 2021 silam menjadi hari kelabu bagi masyarakat di sekitar lereng Gunung Semeru. Pada pukul 15.00 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali erupsi dan mengeluarkan guguran awan panas dengan kecepatan menghantam wilayah pemukiman.
Abu tebal, batu pijar, dan suhu material yang ekstrem memicu kepanikan warga yang berhamburan menyelamatkan diri. Erupsi ini bukan fenomena geologi biasa, sebab dampaknya langsung dirasakan masyarakat: puluhan korban jiwa, luka-luka, kehilangan orang tercinta, dan ribuan warga terpaksa mengungsi.
BNPB mencatat 56 orang mengalami luka-luka, 27 warga dinyatakan hilang, dan 22 orang meninggal dunia. Total populasi terdampak mencapai 5.205 jiwa dan 2.004 warga harus mengungsi ke 19 titik pengungsian di tiga kecamatan.
Di tengah kepulan awan panas yang menyelimuti langit Lumajang, Semeru seolah kembali mengingatkan bahwa kehidupan di bawah bayang-bayang gunung api aktif membutuhkan kesiapsiagaan tanpa jeda.
#Rekaman Erupsi Seabad: Semeru Tidak Pernah Benar-Benar Tenang
Melansir cerita BNPB, sejarah letusan Semeru dapat dirunut sejak 1818. Meski dokumentasi pada periode 1818 hingga 1913 tergolong minim, para ahli sepakat bahwa Semeru merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Aktivitas vulkanik besar kembali tercatat pada 1941–1942 ketika leleran lava berlangsung hingga lima bulan dan menimbun pos pengairan Bantengan. Setelah itu, letusan terjadi secara beruntun mulai 1945 hingga 1960. Walau sempat mereda beberapa tahun, Semeru kembali menunjukkan aktivitas signifikan pada 1 Desember 1977, saat guguran lava memicu awan panas panjang yang meluncur hingga 10 kilometer dan menghancurkan lahan pertanian, jembatan, serta rumah warga.
Aktivitas vulkanik kemudian terus berlanjut pada rentang 1978–1989. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Semeru kembali bergejolak pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007, hingga 2008 — dengan erupsi 22 Mei 2008 memunculkan empat guguran awan panas yang mengarah ke Besuk Kobokan.
Rangkaian panjang ini menunjukkan pola, Semeru tidak pernah benar-benar tenang, hanya diam sejenak sebelum melepaskan energi yang tersimpan di perut bumi.

#Korban, Kerusakan, dan Luka Sosial yang Tak Mudah Pulih
Erupsi Semeru kali ini tidak hanya meninggalkan abu dan kawah di kaki gunung, tetapi juga luka kemanusiaan yang dalam.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBNPB mencatat 2.970 unit rumah mengalami kerusakan akibat awan panas, pasir vulkanik, dan material lainnya. Fasilitas umum pun tak luput: 38 bangunan pendidikan dilaporkan rusak, memutus akses belajar bagi anak-anak di tengah masa pemulihan pasca pandemi.
Di banyak desa, warga kembali ke lokasi rumah mereka hanya untuk mendapati bangunan yang rata dengan tanah, perabot hangus, dan ladang yang tak bisa dipanen.
Kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian menjadikan bencana ini bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi juga krisis sosial. Ribuan warga kini bertahan di titik pengungsian dengan segala keterbatasan, mengandalkan bantuan logistik sambil menunggu kepastian pemulihan.
#Status Waspada, Rekomendasi Ketat, dan Pesan Kesiapsiagaan
Gunung Semeru saat ini berada pada status Level II (Waspada). PVMBG menegaskan bahwa masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari kawah atau puncak, serta 5 kilometer dari arah bukaan kawah di sektor tenggara–selatan.
Hingga Sabtu, 22 November 2025, Semeru masih menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Dalam periode pengamatan enam jam, mulai pukul 12.00–18.00 WIB, PVMBG mencatat 30 letusan erupsi, 2 gempa guguran, dan 5 gempa hembusan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 20 kilometer dari puncak.
Warga diminta menjauhi area terdampak awan panas karena suhunya sangat tinggi dan dapat mematikan seketika. Potensi luncuran di jalur Besuk Kobokan serta ancaman lahar di aliran sungai berhulu Semeru harus terus diwaspadai, terutama saat curah hujan meningkat.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap siaga dan mematuhi seluruh arahan PVMBG demi keselamatan bersama. Semeru mungkin tidak dapat dicegah untuk meletus, namun disiplin informasi, kesiapsiagaan komunitas, dan respons pemerintah yang cepat dapat menekan risiko bencana semaksimal mungkin.
Bagi warga lereng Semeru, keselamatan kini bukan hanya bertahan dari erupsi, tetapi juga belajar hidup berdampingan dengan alam yang kapan pun menagih kewaspadaan.***