Libur akhir tahun di SMP Islam Tanwirul Afkar, Sidoarjo, tak sekadar pulang kampung. Santri belajar dampak mikroplastik, praktik citizen science, dan mengubah sampah menjadi peluang usaha hijau, menyiapkan mereka pulang membawa kesadaran serta keterampilan lingkungan nyata.
#Libur Akhir Tahun, Bekal Baru untuk Santri
Bulan Desember biasanya identik dengan koper dan rindu pulang ke rumah. Namun bagi santri SMP Islam Tanwirul Afkar, Sidoarjo, Kamis, 18 Desember 2025, menghadirkan pengalaman berbeda. Suasana Aula Keraton Solid Tanwirul Afkar hari itu tak seperti biasanya.

Para santri mengikuti kegiatan edukasi lingkungan yang digagas bersama Refilin Ecoton, sebuah program dari Lembaga Kajian Lahan Basah Ecoton yang memperkenalkan konsep belanja isi ulang sebagai alternatif pengurangan sampah plastik sekali pakai.
Kegiatan ini tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis serta keterampilan praktis yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren maupun di rumah. Para peserta diajak memahami bahaya mikroplastik, dampak penggunaan plastik sekali pakai, hingga praktik sederhana sehari-hari yang dapat menjadi langkah kecil menyelamatkan bumi.
#Dari Mikroplastik hingga Aksi Nyata Gen Z
Materi pembelajaran dimulai dengan bahaya mikroplastik, partikel kecil yang nyaris tak terlihat namun berdampak nyata pada kesehatan manusia dan ekosistem.
Santri diajak merenungkan kebiasaan sehari-hari seperti membakar sampah atau membuang plastik sembarangan.
Pendekatan Refilin Ecoton tidak menggurui, tetapi membuka diskusi kreatif. Santri belajar jika mereka bagian dari generasi dengan pengaruh besar: suara dan tindakan mereka mudah menular.
Dari situ, mereka dikenalkan konsep green business dan green marketing, serta cara mengubah masalah lingkungan menjadi peluang usaha yang bermanfaat bagi komunitas.

#Praktik Citizen Science dan Visualisasi Mikroplastik
Sesi praktik menjadi titik balik kegiatan. Melalui citizen science, santri terbiasa mengamati, mencatat, dan memahami lingkungannya sendiri. Mereka melihat langsung mikroplastik menggunakan mikroskop, menyadari fragmen plastik dari benda yang selama ini digunakan sehari-hari. Fakta abstrak menjadi nyata dan meninggalkan jejak ingatan kuat.
Di samping itu, berbagai jenis sampah plastik diperlihatkan beserta dampaknya pada tubuh manusia. Pengalaman ini membuat santri tidak hanya tahu, tetapi juga merasakan urgensi menjaga lingkungan secara langsung.
#Bazar Hijau dan Kesadaran Berkelanjutan
Di sudut aula, bazar Refilin Ecoton menampilkan beragam produk ramah lingkungan—mulai dari perlengkapan zero waste, sabun curah, hingga produk komunitas dan pangan sehat. Melalui bazar ini, para santri melihat contoh nyata bahwa rantai konsumsi dapat dibangun secara adil dan berkelanjutan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Antusiasme terlihat dari berbagai pertanyaan dan diskusi yang mereka lakukan bersama tim Refilin. Salah satunya datang dari Azka Hidayatullah, yang mengaku ingin belajar lebih jauh tentang pengelolaan sampah dan praktik ramah lingkungan di kehidupan sehari-hari.
Koordinator kegiatan dari Ecoton, Jofan Ahmad, menegaskan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada teori. “Yang lebih penting adalah menumbuhkan keberanian untuk bertindak,” ujarnya.

Dukungan para ustadzah dan guru semakin menguatkan pesan jika kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab sosial sekaligus bagian dari nilai keimanan.
Dukungan internal pesantren juga terasa kuat. Elvandari Solina, salah satu ustadzah pengajar SMP Islam Tanwirul Afkar, menyatakan keterbukaannya terhadap kegiatan semacam ini.
“Saya berharap para santri tumbuh dengan kepedulian terhadap sesama manusia melalui kepedulian pada lingkungan. Ketidakbertanggungjawaban terhadap sampah sendiri pada dasarnya adalah bentuk ketidakpedulian terhadap orang lain. Sikap seperti itu bertentangan dengan nilai pendidikan karakter yang ingin kami bangun di pesantren,” ujar Elvandari Solina.
Kegiatan ditutup dengan pengisian survei oleh 170 siswa mengenai penggunaan plastik sekali pakai. Survei ini bukan sekadar formalitas, melainkan cermin awal kebiasaan mereka sehari-hari.
Dari aula pesantren di Sidoarjo itu, pesan yang menguat sederhana namun penting: pendidikan lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berlanjut pada tindakan nyata.
Jika kesadaran dapat diwariskan, maka para santri ini tengah menyiapkan warisan paling berharga—tanggung jawab atas bumi yang mereka tempati bersama.***