Lewati ke konten

Luncurkan Kampung MOZAIK Simokerto, Praktisi Ingatkan Daur Ulang Bukan Solusi Pertama Atasi Sampah

| 4 menit baca |Kali Tebu | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • ECOTON, Kelurahan Simokerto, dan DLH Kota Surabaya memperkenalkan Kampung MOZAIK untuk memperkuat pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
  • Program ini digelar saat kebocoran sampah ke lingkungan perairan masih terjadi, ditandai temuan rata-rata satu ton sampah per hari di DAS Kali Tebu.
  • Pelatihan menekankan hierarki pengelolaan sampah dengan mengutamakan pengurangan sampah sebelum daur ulang.
  • Pemerintah kelurahan berharap pemilahan sampah dapat menciptakan lingkungan lebih bersih sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga.
  • Tantangan terbesar tetap berada pada perubahan perilaku masyarakat agar praktik pemilahan berlangsung konsisten setelah pelatihan berakhir.

Upaya mengurangi timbulan sampah dari sumber dibuktikan dengan melalui peluncuran Kampung MOZAIK di Kelurahan Simokerto, Surabaya, Rabu (1/7/2026). Program yang diinisiasi Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON) ini, juga melibatkan Kelurahan Simokerto dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya.

Program yang disertai pelatihan “Hierarki Pengelolaan Sampah dan Pemilahan Sampah Terdesentralisasi” ini, sekaligus memberikan pemahaman terhadap warga yang tinggal di sepanjang kawasan Kali Tebu Surabaya.

Sebagaimana dalam catatan ECOTON, kegiatan evakuasi sampah yang dilakukan di Kali Tebu, berhasil mengangkat rata-rata satu ton sampah per hari.

Temuan itu menunjukkan, sebagian sampah masih lolos dari sistem pengelolaan yang ada. Kondisi ini menjadi salah satu alasan, mengapa pengurangan sampah dari sumber dinilai semakin mendesak dilakukan.

Pelatihan yang digelar di Balai RW 10 Kelurahan Simokerto itu, menghadirkan narasumber dari DLH Kota Surabaya dan ECOTON. Materi mencakup konsep reduce, reuse, dan recycle (3R), serta pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

Peserta pelatihan Kampung MOZAIK berfoto bersama usai mengikuti edukasi hierarki pengelolaan sampah dan pemilahan sampah dari sumber di Kelurahan Simokerto, Surabaya. | Dok ECOTON

#Kampung MOZAIK Disiapkan Sebagai Percontohan

Dalam kesempatan, Lurah Simokerto Arief Insani mengatakan, Kampung MOZAIK ini dirancang sebagai kawasan yang menerapkan prinsip pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program, menurut dia, diharapkan tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga memberi manfaat ekonomi.

“Kita ingin meniru negara-negara maju dalam pemilahan sampah dari rumah tangga. Dengan adanya kampung yang bersih ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya yang diperoleh dari hasil pemilahan sampah tersebut”, terang Insani.

Selanjutnya, Insani menyebut keberhasilan Kampung MOZAIK sangat tergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Menurut dia, keterlibatan aktif warga menjadi unsur penting agar program tidak berhenti sebatas konsep saja.

“Kolaborasi antara warga, pemerintah kota, dan berbagai pihak terkait, harus terus dibangun. Tanpa keterlibatan warga dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah, kampung percontohan yang kita cita-citakan tentu akan sulit terwujud,” ujar Insani.

Harapan serupa disampaikan Sekar Ayu Lasmitari, peserta pelatihan dari RW 05 Kelurahan Simokerto. Ia mengungkapkan, keterlibatan warga menjadi faktor penting dalam mengurangi penumpukan sampah di lingkungan.

Menurut Sekar, tanpa kesadaran warga, volume sampah yang masuk ke tempat penampungan sementara akan terus meningkat. Karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Jika tidak ada kepedulian dari warga, maka tumpukan sampah di TPS semakin banyak dan tak tertanggulangi. Dengan adanya kegiatan semacam ini, diharapkan masyarakat tersadar atas pentingnya pemilahan jenis sampah,” katanya.

Peserta pelatihan Kampung MOZAIK menyimak pemaparan Praktisi Zero Waste ECOTON, Tonis Afrianto, dan Lurah Simokerto Arief Insani dalam kegiatan edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Balai RW 10 Kelurahan Simokerto, Surabaya. | Dok ECOTON

#Perubahan Perilaku Jadi Kunci Keberhasilan

Sementara itu, Ketua Tim Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Kota Surabaya, Sati’ah, mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan praktis warga dalam mengelola sampah di tingkat rumah tangga maupun komunitas.

Ia pun berharap, Kader Surabaya Hebat (KSH) yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Partisipasi warga, menurut dia, menjadi elemen penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Di tempat yang sama, praktisi zero waste ECOTON, Tonis Afrianto, menekankan pentingnya memahami hierarki pengelolaan sampah dalam konsep 3R. Menurut ahli Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) ini, masih banyak masyarakat yang keliru karena lebih fokus pada daur ulang (recycle).

Padahal pengurangan sampah seharusnya menjadi langkah pertama yang dilakukan. “Bahkan menurut kami wajib, pengurangan sampah menjadi langkah pertama, “ ucap Tonis.

“Sering kali kita langsung berpikir, bagaimana mendaur ulang sampah, padahal yang paling penting adalah bagaimana mengurangi sampah itu sejak awal. Setelah itu baru menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan langkah terakhir adalah mendaur ulang atau mengomposkan sampah yang tersisa,” jelasnya.

Ia pun menambahkan, urutan itu merupakan pedoman yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar upaya pengurangan sampah dapat berjalan efektif.

“Kalau tahapan ini dijalankan secara konsisten oleh warga, jumlah sampah yang berakhir di TPS, TPA, maupun sungai (Kali Tebu) bisa berkurang secara signifikan,” tandas Tonis.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *