Lewati ke konten

“Malang Bernapas Plastik”: Uji Mikroplastik Ungkap Ancaman Tak Kasatmata di Udara dan Air

| 4 menit baca |Ekologis | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Amiruddin Muttaqin
Terverifikasi Bukti

BAYANGKAN tiap hirupan udara di Malang Raya bukan cuma berisi oksigen dan debu jalanan, tapi juga partikel plastik ukuran mikroskopis yang dulu mungkin pernah jadi bungkus mi instan.

Nah, kabar buruknya, itu bukan imajinasi. Fakultas Hukum Universitas Widyagama bareng Ecoton dan SIEJ baru saja menggelar talk show sekaligus uji mikroplastik. Rabu (5/11/2025), yang bikin kita berpikir dua kali sebelum menenggak air mineral atau menjemur pakaian di pinggir jalan.

Dari hasil identifikasi, mikroplastik jenis film dan filamen, yang biasanya berasal dari plastik sekali pakai seperti kantong kresek, sedotan, dan bungkus makanan. Ternyata mendominasi pencemaran di udara dan air sekitar Malang Raya. Partikel ini kecil, licik, dan ringan, gampang nyelip di mana-mana, bahkan di paru-paru dan segelas air kita.

#Dari Sungai ke Udara, Plastik Tak Pernah Pergi

Peneliti Ecoton menemukan bahwa mikroplastik tak cuma mengambang di sungai, tapi juga beterbangan di udara Malang Raya. Partikel film yang rapuh dan mudah robek dari plastik tipis bisa terurai, lalu naik ke udara bersama debu. Artinya, tiap embusan angin bisa jadi mengandung “bumbu plastik tambahan yang tidak kita pesan. Bahkan air PDAM dan air kemasan pun tak luput.

“Temuan ini jadi peringatan serius bagi masyarakat yang tinggal di Malang Raya,” kata Moh. Alaika Rahmatullah, Manajer Divisi Edukasi Ecoton. “Air yang kita anggap bersih ternyata membawa partikel mikroplastik dari sumber yang tidak kita sadari. Dari pipa, kemasan, hingga proses distribusi, semuanya berpotensi menambah beban plastik ke dalam tubuh kita.”

Ngeri-ngeri sedap, hasil uji juga menunjukkan indikasi kontaminasi mikroplastik pada air tanah, PDAM, bahkan air minum dalam kemasan. Jadi, ketika kita merasa aman dengan air galon atau botol, bisa jadi kita cuma mengganti jenis plastik yang kita telan.

Rasa ingin tahu mahasiswa Universitas Widyagama Malang soal bahaya mikroplastik bukan sekadar tugas kuliah — tapi panggilan nurani. Mereka ingin tahu seberapa jauh partikel plastik menyusup ke udara dan air yang mereka gunakan setiap hari. Dari diskusi hingga uji sampel bersama Ecoton dan SIEJ, semangat kritis ini menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan lahir dari kampus, tumbuh di hati, dan bergerak lewat aksi nyata. | Foto  Dok Ecoton

#Mikroplastik di Tubuh: Dari Hormonal Sampai Risiko Kanker

Kandungan kimia aditif dalam mikroplastik bisa memicu gangguan sistem hormonal manusia. Kalau dibiarkan, efek domino-nya bisa menjalar ke risiko kanker dan penyakit kronis lainnya. Bayangkan tubuh kita jadi museum partikel plastic. Bukan kenangan yang mau kita simpan, kan?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Maka, sangat perlu untuk membuat regulasi plastik sekali pakai, bukan sekali wacana. Dari temuan tersebut, Fakultas Hukum Universitas Widyagama bersama Ecoton dan SIEJ merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Kota Malang, termasuk Kota Batu, segera menyusun aturan pembatasan plastik sekali pakai. Bukan sekadar himbauan di spanduk, tapi regulasi yang punya gigi hukum. Karena plastiknya nyata, dampaknya nyata, tapi solusinya jangan cuma berhenti di seminar.

Tak salah jika ujar Purnawan D. N., dosen Hukum Lingkungan Universitas Widyagama Malang berpendapat,  “Manusia berhak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang sehat. Keberadaan mikroplastik dalam air di Kota Malang merupakan bentuk pelanggaran atas hak tersebut,”

“Bayinya dari plastik? Bukan fiksi, tapi refleksi.” Replika bayi dari plastik ini jadi simbol betapa dalamnya mikroplastik sudah menyusup ke hidup manusia — bahkan sebelum kita lahir. Dari udara yang dihirup ibu hamil hingga air yang diminum setiap hari, partikel plastik ikut masuk ke tubuh dan berpotensi mengganggu sistem hormonal serta tumbuh kembang janin. Saatnya sadar: plastik yang kita buang, bisa lahir kembali dalam bentuk yang paling kita sayangi. | Foto: Dok Ecoton

#Dari Kantong Kresek ke Kantong Aksi

Pesannya jelas, Malang Raya butuh tindakan, bukan cuma slogan “Hijau Kotaku.” Masyarakat diminta mulai beralih ke bahan ramah lingkungan dan menekan konsumsi plastik tipis sekali pakai. Karena kalau tidak, kita bukan cuma hidup di kota sejuk, tapi juga di kota dengan “udara rasa plastik.”

Gerakan pengurangan plastik sebenarnya bukan hal baru. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang kuat dan pengawasan yang tegas, kampanye seperti “bawa tumbler sendiri” atau “tolak kantong plastik” sering hanya berhenti di level tren media sosial. Padahal, perubahan kecil di tingkat rumah tangga, seperti memakai tas kain, botol isi ulang, atau kemasan curah, bisa punya dampak besar bila dilakukan serentak.

Ecoton menegaskan bahwa persoalan mikroplastik bukan semata urusan lingkungan, tapi juga isu keadilan sosial dan kesehatan publik. “Ketika plastik yang kita buang kembali masuk ke tubuh kita lewat udara dan air, itu artinya kita sedang menanggung akibat dari sistem produksi yang tidak berkelanjutan,” ujar Alex. sapaan Moh. Alaika Rahmatullah. Malang Raya kini punya kesempatan untuk jadi contoh kota yang benar-benar bernapas tanpa plastik, bukan sekadar bernarasi hijau.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *