Dari dapur hingga halaman rumah, belimbing manis dan belimbing hutan merekam sejarah panjang tropis Nusantara. Kini, buah berbentuk bintang itu dibaca ulang melalui gerakan keluarga, penanaman pohon, dan kolaborasi lingkungan untuk menjaga pangan lokal dan ekologi.
#Buah Tropis dengan Sejarah Melintasi Benua
Belimbing manis atau Averrhoa carambola dikenal luas sebagai buah tropis berbentuk bintang dengan rasa manis-asam yang menyegarkan. Berasal dari Kepulauan Melayu, belimbing telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura, sebagai buah meja yang mudah dijumpai.
Namun, belimbing bukan sekadar buah kebun. Catatan sejarah menunjukkan perjalanannya melintasi benua melalui jalur perdagangan dan kolonialisme. Bangsa Portugis pertama kali mengenalnya di India sebelum menemukan tanaman ini di Malaya.
Dari bahasa Malayalam, istilah carambola diadopsi dan menyebar ke Afrika serta Amerika Selatan. Saat mencapai Eropa pada abad ke-18, belimbing sempat menjadi buah eksotis yang hanya hadir di restoran-restoran bergengsi.
Di Asia Tenggara, belimbing berkembang dalam banyak varietas, dari yang asam hingga manis. Malaysia adalah sentra budidayanya tersebar di Johor, Selangor, hingga Negeri Sembilan.
Termasuk di Jawa, petani mengembangkan teknik perbanyakan vegetatif seperti cangkok dan okulasi. Praktik ini mencerminkan pengetahuan lokal yang menjaga kesinambungan tanaman lintas generasi.

#Pangan, Tradisi, dan Pengetahuan Lokal
Dalam kuliner Nusantara dan Melayu, belimbing manis diolah dalam berbagai bentuk. Selain dimakan segar atau dijadikan jus, buah ini hadir sebagai selai, sirup, manisan, acar, hingga asinan. Bunganya pun dimanfaatkan sebagai campuran salad dengan cita rasa ringan.
Belimbing juga memiliki tempat dalam pengobatan tradisional. Daun dan pucuknya digunakan untuk meredakan sakit kepala, kurap, dan cacar air. Air buahnya dipercaya membantu menurunkan panas tubuh.
Meski demikian, pengetahuan tradisional selalu diiringi kehati-hatian karena beberapa bagian tanaman mengandung senyawa yang tidak boleh digunakan berlebihan.
Kedekatan belimbing dengan masyarakat tercermin dari beragam nama lokalnya, seperti belimbing besi, belimbing batu, blimbing legi, hingga balingbing. Nama-nama ini menandai luasnya persebaran sekaligus kedalaman relasi budaya antara manusia dan tanaman buah tropis.
#Belimbing Hutan, Kekayaan Liar Kalimantan
Berbeda dengan belimbing manis yang telah mendunia, Belimbing Hutan tetap menjadi kekayaan liar Kalimantan. Dikenal sebagai Baccaurea angulata, buah endemik Borneo ini tumbuh langsung di batang dan cabang pohon hutan hujan. Bentuknya menyerupai bintang lonjong berwarna merah cerah saat matang.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDaging buahnya berwarna putih transparan dengan rasa segar manis-asam yang sering disamakan dengan manggis. Kaya vitamin C, serat, dan mineral penting, Belimbing Hutan berpotensi besar sebagai sumber pangan lokal bergizi. Namun, buah ini berbuah musiman, tidak dibudidayakan luas, dan lebih sering diperoleh melalui aktivitas meramu di hutan.
Bagi masyarakat adat Borneo, Belimbing Hutan memiliki nilai budaya dan guna yang luas. Buahnya dikonsumsi segar atau diasinkan, bunganya dimanfaatkan sebagai ramuan tradisional, sementara kayunya digunakan untuk keperluan sederhana. Minimnya perhatian publik membuat buah ini rentan terlupakan di tengah perubahan bentang alam.

#Menanam dari Rumah: JAPRI Keluarga dan Gerakan Penghijauan
Kesadaran untuk menjaga keberlanjutan pangan lokal menemukan bentuk nyatanya melalui Program JAPRI Keluarga yang diinisiasi Lembaga Kajian Lahan Basah Ecoton.
Program ini mendorong keluarga untuk mengenal kembali tanaman pangan lokal, memahami keterkaitan konsumsi dengan lingkungan, serta terlibat langsung dalam aksi penghijauan.
Sejak Agustus–September 2025, JAPRI Keluarga menyiapkan penanaman pohon belimbing sebagai langkah konkret. Sebanyak 170 bibit belimbing dibeli dan didistribusikan kepada keluarga peserta sebagai bagian dari upaya penghijauan berbasis rumah tangga.
Penanaman ini tidak hanya bertujuan menambah tutupan hijau, tetapi juga mengenalkan anak-anak pada sumber pangan yang tumbuh di halaman sendiri.
Kolaborasi ini diperkuat dengan dukungan PT Petrokimia Gresik melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dukungan industri menjadi penting untuk memastikan gerakan keluarga memiliki dampak yang lebih luas, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan upaya ketahanan pangan serta pelestarian lingkungan.
Menanam belimbing di pekarangan bukan sekadar menanam pohon buah. Langkah ini menjadi upaya menghidupkan kembali pengetahuan lokal, memperpendek jarak antara manusia dan alam, serta merawat harapan akan lingkungan yang lebih sehat.
Dari belimbing manis yang berjejak global hingga Belimbing Hutan yang setia pada rimba, buah berbentuk bintang ini kini menjadi simbol gerakan kecil dari rumah untuk masa depan yang lebih lestari.***