Lewati ke konten

Mikroplastik pada Daun: Bentuk Kebaikan Vegetasi atas Kejahatan Manusia

| 6 menit baca |Opini | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Mikroplastik pada daun Kali Surabaya ditemukan dalam eksplorasi sederhana siswa SMA. Permukaan daun ternyata dapat menjadi tempat singgah partikel plastik yang berterbangan di udara sekitar sungai dan ekosistem riparian setempat.
  • Daun bukan sekadar peneduh bantaran sungai. Struktur permukaannya ternyata memengaruhi kemampuan menangkap mikroplastik, sementara temuan Kelompok 5 membuka pertanyaan tentang pencemaran udara dan kesehatan vegetasi riparian Kali Surabaya tersebut juga.
  • Lima partikel mikroplastik hitam ditemukan pada daun Jati, sementara fragmen biru ditemukan pada daun Mangga. Eksperimen siswa ini memperlihatkan bagaimana vegetasi berinteraksi dengan pencemaran plastik di udara sekitar.
  • Mikroplastik ternyata dapat menempel pada permukaan daun. Temuan sederhana Kelompok 5 di Kali Surabaya menunjukkan perbedaan kemampuan daun Jati, Mangga, semak, dan rumput menangkap partikel plastik di udara.
  • Di balik hijaunya vegetasi riparian Kali Surabaya, terdapat persoalan tak kasatmata. Mikroplastik yang menempel pada daun membuka cerita tentang hubungan pencemaran udara, tumbuhan, dan kehidupan mikroorganisme di permukaannya.

Penulis: Arief Maulana Sabilillah merupakan pemerhati sungai dan lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Ia memiliki perhatian pada isu pencemaran antropogenik, khususnya plastic debris, mikroplastik, dan senyawa kimia aditif yang mengancam kesehatan ekosistem sungai.

Intro

PLASTIK sudah terlalu terkenal sebagai sampah di kali, laut, dan lahan kosong. Masyarakat perlu mengetahui bahwa mikroplastik – fragmentasi sampah plastik akibat robekan fisik atau paparan matahari – juga mengotori udara yang kita hirup.

Rabu (23/9/2026), pada acara Surabaya River Festival 2026 yang digelar di Taman Bantaran Ecoton, Kelompok 5 yang beranggotakan Zifana Aulia R., Quinnsha C.A.Y., Leny Adelina S., dan Zhaki mengidentifikasi mikroplastik di permukaan daun vegetasi riparian Kali Surabaya. Dalam mini eksplorasi ini, mereka mengoleksi spesimen daun dari tiga jenis habitus, yaitu Mangifera indica (Mangga) dan Tectona grandis (Jati) sebagai representasi pohon, Erythrina lysistemon (Fabaceae) dan Malvaviscus penduliflorus (Malvaceae) sebagai representasi semak, dan Cyperus rotundus sebagai representasi rumput.

BACA JUGA:  Temuan Mikroplastik di Kampus Sidoarjo Ungkap Ancaman Lingkungan Dekat Siswa dalam Kegiatan JAYCA 2025

Perbedaan fungsi ekologis dan morfologi daun menjadi latar belakang pengambilan daun dari tiga kelompok habitus. Dari masing-masing spesies, mereka mengambil satu lembar daun yang bersih (tidak berdebu) dan satu lembar daun yang kotor (berdebu). Hal ini ditujukan agar mereka memiliki sampel kontrol yang mampu menunjukkan kondisi daun bebas dari mikroplastik, sebagaimana seharusnya.

Ilustrasi mikroplastik berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, menempel dan terperangkap pada permukaan daun. | Ilustrasi AI

Di bawah perangkat mikroskop portabel, Kelompok 5 berhasil menemukan lima partikel fragmen berwarna hitam pada permukaan atas (adaksial) daun Jati, satu partikel fragmen biru di permukaan bawah (abaksial) daun Mangga, dan satu partikel fragmen di masing-masing daun spesies semak.

Berdasarkan karakter fisik partikel yang ditemukan, Kelompok 5 mencurigai aktivitas pembakaran sampah sebagai sumber dari masalah ini. Selain itu, mereka juga berhasil mengidentifikasi adanya sebuah pola antara kemampuan adsorpsi partikel dan struktur permukaan daun.

Partikel mikroplastik lebih mudah tersangkut pada permukaan daun Jati dan Malvaviscus yang bertekstur kasar dan memiliki trikoma lebat. Sedangkan daun Mangga dan Erythrina relatif lebih licin dan halus sehingga tidak ada yang menahan partikel mikroplastik ketika daun tertiup angin atau tersapu embun pagi.

Tidak ditemukan mikroplastik di daun Cyperus rotundus, yang mungkin disebabkan karena luas permukaan daun yang relatif sempit. Selain itu, lokasi tumbuh rumput yang sudah ternaungi oleh pohon besar membuat partikel mikroplastik di udara sudah tersaring secara alami oleh dedaunan pohon yang notabene lebih lebar.

Meski begitu, pengamatan ini hanyalah eksperimen sederhana sebagai bentuk edukasi ECOTON agar siswa-siswi SMA mampu memahami isu pencemaran mikroplastik di lingkungan. Bukti ilmiah yang lebih kuat, sistematis, dan empiris mengenai adsorpsi dan dampak toksik mikroplastik pada tumbuhan masih sangat diperlukan demi kemajuan riset pencemaran plastik di Indonesia.

Pandangan Kelompok 5 terhadap Mikroplastik di Daun

Ketika berdiskusi dengan saya, yang selama ini melakukan penelitian Mikroplastik di ECOTON, pada acara Festival Sungai sebagai pendamping Kelompok 5.  Zhaki berpendapat bahwa mikroplastik merupakan hal baru bagi dirinya. Zhaki menambahkan, mikroplastik mungkin tidak berdampak buruk bagi daun karena hanya menempel di permukaan dan bersifat sementara.

BACA JUGA:  Ancaman Kimia di Balik Wangi Semu Deodoran

Berbeda dengan abu vulkanik yang jumlahnya sangat banyak dan strukturnya tajam-tajam, yang mungkin dapat melukai sel-sel tumbuhan. Anggota lainnya menambahkan bahwa vegetasi riparian berperan penting dalam menahan aliran input mikroplastik ke dalam sungai, baik mikroplastik dalam air hujan maupun yang berterbangan di udara.

Phyllosphere, Dunia di Atas Daun yang Terancam Mikroplastik

Phyllosphere merupakan area mikroskopis yang mencakup permukaan daun sebagai habitat bagi berbagai komunitas mikroorganisme seperti bakteri, fungi, alga, virus, dan invertebrata mikroskopis.

Dalam konteks pencemaran plastik, dunia kecil ini menjadi antarmuka terbesar antara atmosfer dan ekosistem darat yang menampung partikel mikroplastik seperti polyethylene terephthalate (PET), polyamide (PA), polyethylene (PE), dan styrene-butadiene (bahan baku karet ban kendaraan).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Karakteristik lipofilik mikroplastik memungkinkannya menempel kuat pada lapisan lilin kutikula daun melalui ikatan hidrogen. Partikel mikro-nanoplastik berukuran kecil (1–50 µm) bahkan mampu menembus stomata, bergerak melalui jalur apoplas menuju mesofil dan jaringan vaskular, serta terakumulasi di trikoma.

Akumulasi ini menutupi permukaan daun sehingga berpotensi menghalangi cahaya matahari, mengganggu proses fotosintesis dan transpirasi, serta memicu stres oksidatif.

Dalam konteks ekosistem phyllosphere, keberadaan mikroplastik menciptakan mikrolingkungan atau relung ekologis baru (disebut juga dengan plastisphere) pada permukaan daun. Sifat mikroplastik yang mengikat bahan organik dan air menyediakan habitat kaya nutrisi yang mengubah struktur komunitas bakteri daun (phyllosphere bacterial community/PBC).

Bahkan, penelitian dari Peking University (Beijing, Cina), mengemukakan bahwa kelimpahan dan distribusi ukuran mikroplastik berkorelasi positif dengan keanekaragaman alfa (α-diversity), namun berkorelasi negatif dengan keanekaragaman beta (β-diversity) serta kompleksitas jaringan interaksi antar-bakteri.

BACA JUGA:  Ular Tangga Jadi Media Edukasi Mikroplastik

Artinya, semakin banyak partikel mikroplastik di permukaan daun, diversitas bakteri di daun tersebut juga semakin meningkat. Hal ini yang membuktikan bahwa mikroplastik dapat mengganggu keseimbangan dan stabilitas alami komunitas mikroba daun.

Masalah lainnya adalah, mikroplastik tidak datang sendiri. Ia juga bertindak sebagai vektor (hitchhiking) bagi polutan berbahaya seperti logam berat beracun (Cd, Pb, Zn, Cu) serta polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) yang memperbesar risiko pada rantai makanan riparian.

Sinergi antara mikroplastik dan polutan sekunder ini memperburuk toksisitas pada vegetasi tepi sungai. Mengingat daun merupakan produsen primer dalam rantai makanan, mikroplastik dan polutan yang terakumulasi pada daun berpotensi masuk ke dalam rantai makanan herbivora dan ekosistem sungai, serta menimbulkan risiko ekologis yang lebih luas.***

Referensi

Canha, N., Jafarova, M., Grifoni, L., Gamelas, C. A., Alves, L. C., Almeida, S. M., & Loppi, S. (2023). Microplastic contamination of lettuces grown in urban vegetable gardens in Lisbon (Portugal). Scientific Reports, 13(1), 14278.

Li, Y., Zhang, J., Xu, L., Li, R., Zhang, R., Li, M., … & Wang, L. (2025). Leaf absorption contributes to accumulation of microplastics in plants. Nature, 641(8063), 666–673.

Parvez, M. S., Czédli, H., Hoque, M. I., Rahman, M. M., Anwar, A., Uddin, A. H. M. M., … & Simon, E. (2024). Accumulation of microplastics and potentially toxic elements in plant leaves along an urbanization gradient in Bangladesh. Toxics, 12(12), 848.

Xu, L., Li, K., Bai, X., Zhang, G., Tian, X., Tang, Q., … & Huang, Y. (2024). Microplastics in the atmosphere: Adsorb on leaves and their effects on the phyllosphere bacterial community. Journal of Hazardous Materials, 462, 132789.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *