Lewati ke konten

Ngintir Kali, Spirit Pemulihan Kali Brantas untuk Kembalinya Habitat Ikan Endemik

| 4 menit baca |Sorotan | 23 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadjaya Editor: Marga Bagus

Ngintir Kali Surabaya dimulai akhir Mei. Aktivis sungai menyoroti mikroplastik, limbah industri, dan menyusutnya habitat ikan asli.

Sejumlah aktivis lingkungan kembali menyusuri Kali Surabaya lewat kegiatan “Ngintir Kali Surabaya” mulai Sabtu, 30 Mei 2026. Aksi itu digelar setelah riset terbaru menemukan 34 spesies ikan air tawar masih hidup di Kali Surabaya dan 42 spesies ikan di Sungai Brantas.

Tim ronda sungai terdiri dari tujuh orang. Empat orang rencananya turun langsung menyusuri aliran sungai. Tiga lainnya bergerak lewat jalur darat, menguji kualitas air dan melakukan dokumentasi.

Mereka berasal dari Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (Akamsi), Ecoton, Posko Ijo, River Warrior, dan TitikTerang.

Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, mengatakan temuan puluhan spesies ikan menjadi penanda ekosistem Brantas masih punya peluang dipulihkan.

“Kali Brantas dan Kali Surabaya masih punya potensi menjadi habitat ikan. Temuan 34 spesies di Kali Surabaya dan 42 spesies di Sungai Brantas bisa jadi modal kuat pemulihan kualitas air,” kata Rulli, Jumat, 29 Mei 2026.

Menurut Rulli, masyarakat Jawa Timur mulai jauh dari pengetahuan tentang ikan asli sungai. Padahal keberadaan ikan lokal penting sebagai indikator kesehatan perairan.

Karena alasan itu, kegiatan ngintir sungai kembali dilakukan. Tim bakal mendata kondisi bantaran, mengambil sampel air, mengidentifikasi sumber pencemaran industri, hingga memeriksa kandungan mikroplastik.

#Sungai Berbau dan Telinga Bengkak

Ecoton pernah melakukan ronda sungai serupa pada 2025. Perjalanan dimulai dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto, menuju Gunungsari, Surabaya.

Koordinator Ronda Sungai Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengingat kondisi sungai cukup berat pada beberapa titik.

“Di sekitar Karangpilang air sungai berbau. Salah satu anggota tim mengalami bengkak telinga karena infeksi,” kata Alaika.

Perjalanan akhirnya dilanjutkan memakai perahu karena kondisi air dinilai terlalu berisiko bagi tim yang berjalan langsung di sungai.

Dalam kegiatan tahun ini, tim ronda membawa lima agenda utama. Mulai dari mengenalkan keanekaragaman ikan Brantas, mengidentifikasi pencemaran industri, mendata timbulan sampah plastik, memetakan bangunan liar di bantaran sungai, sampai melakukan uji mikroplastik.

Mikroplastik jadi perhatian utama komunitas sungai di Jawa Timur. Potongan plastik berukuran kecil itu diduga berasal dari limbah industri daur ulang, sampah rumah tangga, dan aktivitas permukiman padat di daerah aliran sungai.

Kondisi bantaran Kali Surabaya juga terus berubah. Banyak kawasan sempadan sungai berubah jadi permukiman dan area industri.

Tekanan pencemaran itu mempengaruhi populasi ikan air tawar.

Meski kondisi sungai mengalami penurunan kualitas, riset Maret 2026 menemukan tiga ikan endemik Jawa masih bertahan hidup di Kali Surabaya. Ketiganya yakni rengkik atau baung (Hemibagrus nemurus), lele jawa (Clarias batrachus), dan wader bintik-bintik (Barbodes binotatus).

“Temuan ikan endemik menunjukkan Kali Surabaya belum kehilangan seluruh daya dukung ekologis,” kata Rulli.

Dulu hidup di Kali Brantas, kini sulit ditemukan. Sungai tercemar membuat banyak ikan lokal menghilang satu per satu. | Dok Ecoton

#Industri dan Ancaman Ikan Mati

Sungai Brantas selama puluhan tahun menjadi sumber air baku penting di Jawa Timur. Air sungai dipakai PDAM Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, sampai Jombang.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Aliran Brantas juga menopang irigasi pertanian dan kebutuhan industri besar di sepanjang sungai.

Aktivis Akamsi, Jofan Ahmad Arianto, menilai banyak industri masih membuang limbah tanpa pengolahan memadai.

“Ratusan industri mengambil air Kali Brantas untuk produksi. Di sisi lain masih ada limbah yang dibuang ke sungai dan memicu ikan mati massal,” kata Jofan.

Menurut Jofan, kontribusi industri penting untuk pemulihan kualitas air Kali Surabaya. Pengawasan pencemaran juga perlu diperketat karena sungai menjadi sumber kehidupan jutaan warga Jawa Timur.

Data penelitian sebelumnya pada 2021-2022 menunjukkan Sungai Brantas memiliki 42 spesies ikan air tawar yang terbagi dalam 35 genus dan 21 famili. Penelitian dilakukan tim perikanan dari Indonesia, Malaysia, dan Brasil.

Famili Cyprinidae, kelompok ikan wader, bader, dan tawes, menjadi kelompok paling dominan.

Kegiatan Ngintir Kali Surabaya 2026 akan ditutup lewat aksi teatrikal di depan Gedung Negara Grahadi pada 5 Juni 2026, bertepatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Rulli mengatakan aksi itu ingin mengingatkan publik bahwa pemulihan Kali Brantas masih mungkin dilakukan lewat gotong royong warga, komunitas, pemerintah, dan industri.

“Masih ada harapan untuk Kali Brantas. Polusi mikroplastik dan pencemaran industri perlu dilawan bersama,” kata Rulli.***

 

*) Catatan Redaksi

Mohon maaf, terdapat kekeliruan pada pemberitaan berjudul “Ronda Sungai Brantas: Aksi ‘Ngintir Kali’ Ecoton Petakan Ancaman Limbah Industri dan Sampah Plastik”.

Kegiatan Ngintir Kali Surabaya 2026 tidak hanya memetakan ancaman limbah industri dan sampah plastik, tetapi juga mengangkat upaya pemulihan ekosistem Kali Brantas melalui pengenalan kembali ikan-ikan asli sungai kepada masyarakat Jawa Timur.

Kegiatan ini dilatarbelakangi hasil penelitian terbaru yang menemukan 34 spesies ikan air tawar di Kali Surabaya dan 42 spesies ikan di Sungai Brantas, termasuk tiga ikan endemik Jawa yang masih bertahan hidup di tengah tekanan pencemaran dan alih fungsi bantaran sungai.

Karena itu, judul pemberitaan yang lebih sesuai adalah:

“Ngintir Kali, Spirit Pemulihan Kali Brantas untuk Kembalinya Habitat Ikan Endemik”

Demikian catatan redaksi ini disampaikan sebagai bentuk pelurusan konteks pemberitaan agar publik memperoleh informasi yang lebih utuh terkait tujuan kegiatan Ngintir Kali Surabaya 2026.

Terima kasih.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *