Lewati ke konten

#Reset Indonesia Dibedah di Trenggalek: Bukan Buku Menyalahkan, Tapi Cermin untuk Bercermin

| 6 menit baca |Ide | 39 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Di bawah kanopi pepohonan Hutan Kota Trenggalek, sebuah buku yang kerap dicap “sensitif” justru dibedah tanpa rasa takut. #Reset Indonesia hadir sebagai cermin bersama, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk berani bercermin, berdialog, dan merawat nasionalisme di ruang publik yang aman.

#Hutan Kota sebagai Panggung Keberanian

Hutan Kota Trenggalek hari itu bukan sekadar ruang hijau. Ia menjelma panggung keberanian bersuara pada Senin, 22 Desember 2025. Di antara batang-batang pohon dan bangku taman, warga berdatangan: mahasiswa, ibu rumah tangga, komunitas, hingga aparatur sipil negara.

Kepala Bappeda Litbang Trenggalek Ratna Sulistiyowati memaparkan keterbatasan fiskal daerah, ketimpangan kewenangan pusat-daerah, hingga peran vital partisipasi warga dalam menekan stunting, kemiskinan ekstrem, serta menjaga kualitas lingkungan dan sumber daya air, dalam dialog terbuka bedah buku #ResetIndonesia. | Foto: Pry

Mereka berbaur bersama empat penulis #Reset Indonesia – Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Semua hadir dengan niat berbincang setara, bertukar pikiran tanpa rasa takut. Tak ada podium tinggi, tak ada jarak simbolik yang kaku. Semua duduk sejajar, egaliter.

Acara dibuka dengan ajakan berdiri dan tepuk tangan, lalu lagu Indonesia Raya dikumandangkan tiga stanza. Di ruang terbuka itu, lagu kebangsaan terasa lebih khidmat, seolah menegaskan bahwa nasionalisme, atau lebih tepatnya, mencintai Indonesia, tak hanya hidup di gedung-gedung resmi dan ruang upacara.

Cinta pada Indonesia tumbuh ketika warga diberi ruang untuk bertanya, menyanggah, dan berpikir kritis tentang bangsanya sendiri.

Di tengah suasana itu, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menyampaikan pesan yang membuka kembali kemerdekaan berpikir yang kerap terbelenggu: jangan ada intimidasi.

“Kalau ada masyarakat yang masuk, tolong dikasih ruang. Jangan sudah di kantor mengintimidasi, di hutan kota juga mengintimidasi,” tegasnya.

Kalimat itu memantul di antara pepohonan, disambut tepuk tangan panjang. Pesannya jelas: ruang publik harus aman, dan kritik wajib dilindungi.

Bupati Trenggalek Muchamad Nur Arifin mengambil posisi berbeda. Air adalah hak hidup rakyat, bukan fasilitas gratis bagi kepentingan komersial. Lewat dialog terbuka, hitung-hitungan anggaran, dan pernyataan reflektif yang tajam, ia menegaskan bahwa keadilan air bersih menuntut pilihan kebijakan berani—karena setiap keputusan publik selalu membawa konsekuensi.. | Foto: Pry

#Bupati yang Memilih Cermin, Bukan Tudingan

Alih-alih bersikap defensif, bupati yang lahir pada 7 April 1990 itu memilih peran yang jarang dijalani kepala daerah. Dalam forum tersebut, ia tampil sebagai pembedah buku yang kerap dianggap “sensitif” oleh pihak-pihak yang merasa terusik isinya.

Ia mengajak hadirin membaca #Reset Indonesia bukan sebagai daftar kambing hitam, melainkan sebagai cermin. Jika rambut atau pakaian tampak berantakan di depan cermin, yang dibenahi tentu diri sendiri, bukan cerminnya.

Mas Ipin – sapaan akrabnya – mengaku sempat curiga pada judul buku itu. Terdengar keras, bahkan menakutkan. Namun setelah dibaca, yang ia temukan justru teman berdialog.

Buku itu ia habiskan dalam hitungan minggu. Dicoret-coret sebagai pemantik ide, dibawa bepergian, dan terus direnungkan. Dari sanalah lahir momen “aha” yang kemudian diterjemahkan ke kebijakan lokal, salah satunya program Sangu Sampah.

Program yang mengintegrasikan tiga pilar utama: pendidikan karakter peduli lingkungan, literasi digital melalui aplikasi TGX Waste Coin, serta inklusi keuangan. Mas Ipin tak menutup-nutupi bahwa gagasan tersebut terinspirasi dari konsep pendapatan dasar dan eksperimen teknologi yang diceritakan dalam buku.

Pengalaman itu menegaskan satu hal: #Reset Indonesia tidak berhenti pada kritik. Ia hidup ketika gagasan diuji di lapangan, diimplementasikan, diformulasikan bersama, dan disesuaikan dengan konteks daerah.

“Kalau memang serius mau mereset Indonesia, ayo kita #Reset Trenggalek,” ujarnya. Sebuah ajakan kolaborasi—antara pemerintah, peneliti, jurnalis, dan warga, bukan sekadar retorika.

Karya Dandhy Laksono, termasuk Sexy Killers, tak hanya mengulas batu bara, tetapi juga deforestasi, kebakaran hutan, dan isu masyarakat adat. Bersama Farid Gaban, ia menggagas Ekspedisi Indonesia Baru untuk membaca Indonesia dari perspektif generasi muda dan mempertanyakan kembali arah cita-cita bangsa. #ResetIndonesia | Foto: Pry

#Suara Warga: Gen Z, ASN, dan Kegelisahan yang Sama

Bedah buku ini membuka jalan baru untuk berpendapat. Terlebih jika mengingat peristiwa sebelumnya di Desa Gunungsari, Kecamatan Nglames, Kabupaten Madiun, Sabtu, 20 Desember 2025, ketika diskusi serupa dibubarkan aparat desa dan keamanan dengan alasan perizinan.

Di Trenggalek, suasananya berbeda. Di bawah pohon rindang, seorang Gen Z menyuarakan kegelisahan yang akrab di telinga anak muda: Indonesia kaya potensi, bonus demografi, kreativitas, sumber daya. Namun sering tersendat oleh kebijakan dan sistem yang belum maksimal.

Keresahan itu kerap tumpah di media sosial karena ruang formal terasa sempit. Di hutan kota, suaranya akhirnya menemukan tempat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Seorang ASN dari rumah sakit daerah Trenggalek turut angkat bicara. Dengan nada jujur, ia mengakui birokrasi kerap terjebak di “zona nyaman” laporan yang tampak baik-baik saja, padahal realitasnya jauh lebih kompleks.

Bagi dia, #Reset Indonesia penting karena menghadirkan suara warga yang jarang sampai ke meja pengambil keputusan. Tepuk tangan pun bergema—bukan karena sensasi, melainkan keberanian mengakui kekurangan.

Dialog ini memperlihatkan irisan kegelisahan lintas generasi dan profesi. Warga ingin didengar. ASN ingin jujur. Pemimpin daerah ingin belajar. Semua bertemu dalam satu lingkaran, tanpa hierarki yang menekan.

Inilah demokrasi yang bekerja di tingkat lokal, tenang, terbuka, dan berani.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menunjukkan keakraban dengan para penulis—tanpa jarak, tanpa alergi kritik—sambil menikmati punten pecel, kuliner khas Trenggalek. Dialog hangat tumbuh sambil lesehan, rasa lokal, dan pikiran yang terbuka. | Foto: Pry

#Lintas Generasi, Lintas Pulau: #Reset Indonesia sebagai Perjalanan Panjang

Para penulis #Reset Indonesia memperkenalkan diri sebagai tim lintas generasi dan daerah. Farid Gaban, jurnalis senior, memulai karier di Harian Republika, lalu menjadi editor di Majalah Tempo, pendiri The GeoTime Online, serta pemimpin redaksi The Indonesian Doctor Magazine.

Lahir di Wonosobo, di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah, Farid menelusuri pulau-pulau kecil Indonesia lewat Meraba Indonesia: Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Pengalaman itu ia rangkum dan kaitkan dengan bacaan sastra yang ia nikmati, menghadirkan pemahaman mendalam tentang Indonesia di balik gemuruh media dan hiruk-pikuk media sosial.

Dua anak muda dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Alaika Rahmatullah dan Jofan Ahmad Arianto, mengaku terhenyak saat pertama kali bertemu Farid. Keteduhan sikapnya, serta cara bicaranya, membuat mereka merasa berhadapan dengan sosok yang layak dijadikan sumber pembelajaran.

Semangat ekspedisi itu diteruskan Dandhy Laksono. Selama 26 tahun menjadi jurnalis, ia menyingkap cerita dari Sabang hingga Merauke lewat Mencari Ukuran Kemajuan: Ekspedisi Sungai Nusantara, menghadirkan perspektif yang kerap luput dari sorotan publik.

Karya-karya kreatifnya, dari buku jurnalistik, Watchdoc Indonesia, dokumenter Momentum Pemilu, hingga film Dirty Vote. Berpijak pada satu cita-cita, mencerdaskan bangsa agar merdeka dalam berpikir.

Dandhy, kelahiran Lumajang, Jawa Timur, meyakini Indonesia masih dibelenggu mental inlander—rasa inferior dan rendah diri. Keputusannya menjadi jurnalis, daripada berkarier sebagai ASN setelah lulus tes STPDN, merupakan jalan untuk menghadapi dan menyingkap realitas itu.

Bersama Yusuf Priambodo, milenial dari Tuban, Jawa Timur dan Benaya Harobu, generasi Z dari Sumba, Nusa Tenggara Timur, mereka merajut kegelisahan yang sama. Indonesia sering tampak baik-baik saja, padahal menyimpan banyak persoalan.

Bagi mereka, #Reset Indonesia adalah upaya meninjau ulang, memahami, dan memperbaiki kondisi bangsa melalui riset lapangan dan refleksi kritis. Bukan sekadar kritik, melainkan langkah konkret menuju perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.

Film dan video tak selalu cukup menampung kompleksitas temuan. Buku dipilih sebagai medium untuk merangkum gagasan yang tak seluruhnya bisa direkam kamera.

Di Trenggalek, perjalanan panjang itu menemukan simpul baru. Pemerintah membuka pintu, warga mengisi ruang, intimidasi ditolak terang-terangan. Diskusi mengalir, setara, bab demi bab.

Semua duduk sebagai sesama warga negara, tak perlu ada yang memercingkan mata menuduh; kau anti negara. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *