Lewati ke konten

Respons Muhammadiyah Perkuat Tanggap Darurat Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat

| 4 menit baca |Ide | 27 dibaca
Terverifikasi Bukti

Muhammadiyah melalui MDMC memperluas respons tanggap darurat atas banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan penyintas telah menerima layanan kemanusiaan, dengan relawan lintas wilayah dikerahkan untuk memperkuat operasi bantuan di tiga provinsi terdampak.

#Muhammadiyah Kerahkan Relawan Lintas Wilayah untuk Perkuat Respons Bencana

Dok: Ismail Fahmi

Respons Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) terus bergerak cepat menghadapi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dengan intensitas hujan tinggi dan kerusakan meluas, organisasi ini mengaktifkan pola dukungan lintas wilayah untuk memastikan operasi kemanusiaan berjalan menyeluruh dan berkelanjutan.

Ismail Fahmi, Founder and Owner Drone Emprit sekaligus Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, mengatakan bahwa pendekatan lintas wilayah ini penting untuk menghindari kelelahan relawan lokal dan menjaga efektivitas penanganan.

Dok: Ismail Fahmi

“MDMC menerapkan sistem koordinasi terpadu yang memastikan setiap relawan ditempatkan sesuai kebutuhan lapangan dan bergerak dalam satu komando,” tulis Fahmi di unggahan akun facebooknya, 7 Desember 2025.

Skema dukungan itu membagi tugas secara strategis, relawan dari Jawa Barat dan DIY diperbantukan ke Aceh, sementara Jawa Tengah dan Jawa Timur mendukung penanganan di Sumatera Utara.

Untuk Sumatera Barat, Muhammadiyah mengerahkan relawan dari Lampung, Sumatera Selatan, Riau, dan Bengkulu.

Sistem ini memudahkan mobilisasi cepat sekaligus menjaga ritme respons di wilayah terdampak yang memiliki tantangan berbeda-beda.

Pos koordinasi wilayah dan pos pelayanan di setiap titik pengungsian menjadi simpul utama untuk mengatur logistik, tenaga medis, serta kebutuhan harian para penyintas.

Dok: Ismail Fahmi

#Layanan Menjangkau Ribuan Warga: Logistik dan Kesehatan Jadi Prioritas

Hingga 5 Desember 2025, layanan Muhammadiyah telah menjangkau 4.927 jiwa penerima manfaat. Angka tersebut melonjak menjadi 5.923 jiwa saat pembaruan data tanggap darurat diterbitkan.

Menurut Ismail Fahmi, data ini masih berkembang karena pendataan di lapangan membutuhkan waktu, terlebih akses ke beberapa lokasi masih terhambat lumpur dan kerusakan infrastruktur.

“Dalam situasi seperti ini, kami memprioritaskan layanan yang menyentuh kebutuhan paling dasar: logistik, kesehatan, makanan siap saji, dan psikososial. Respons A sampai Z harus hadir, tapi kebutuhan mendesak tidak boleh tertunda,” jelas Fahmi.

Dok: Ismail Fahmi

Di Sumatera Barat, wilayah dengan cakupan respons terbesar, MDMC menjalankan dapur umum, layanan kesehatan, distribusi logistik, dan pendampingan psikososial.

Aksi pembersihan lumpur dan material banjir juga dilakukan di fasilitas umum dan permukiman warga.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sementara di Sumatera Utara, layanan kesehatan dan distribusi kebutuhan dasar menjadi fokus utama, ditambah pendampingan psikososial yang sangat dibutuhkan penyintas, terutama anak-anak.

Di Aceh, yang menghadapi banjir cukup luas, relawan Muhammadiyah memperkuat distribusi logistik, evakuasi warga, dan operasional dapur umum.

“Aceh membutuhkan gerak cepat karena banyak keluarga yang kehilangan akses terhadap pangan akibat terputusnya jalur darat,” kembali Fahmi.

Dok: Ismail Fahmi

#Tantangan Lapangan: Akses Terbatas hingga Kelelahan Relawan

Respons di tiga provinsi ini menghadapi sejumlah tantangan. Di beberapa wilayah Sumatera Barat, akses masuk terhambat longsor susulan, membuat relawan harus berjalan kaki membawa logistik. Sumatera Utara menghadapi tantangan distribusi karena sebaran permukiman penyintas yang berjauhan, sementara di Aceh, kondisi cuaca tidak menentu membuat evakuasi sering tertunda.
Ismail menekankan pentingnya pola koordinasi terpusat untuk menghadapi kendala semacam ini. “Relawan Muhammadiyah bergerak dengan skenario adaptif. Ketika satu jalur tertutup, posko langsung mencari rute alternatif atau berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi tetap berjalan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya rotasi relawan. Kelelahan dapat menurunkan kualitas layanan, sehingga pengiriman tim dari luar daerah bukan hanya untuk memperkuat, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan operasi dalam beberapa minggu ke depan.

Dok: Ismail Fahmi

#“Data Akan Terus Bergerak”: Muhammadiyah Siapkan Fase Pemulihan

Meski fokus utama masih pada tanggap darurat, Muhammadiyah telah menyiapkan langkah awal menuju fase pemulihan.

Pembersihan fasilitas umum, hunian terdampak, serta pemeriksaan kesehatan lanjutan menjadi beberapa prioritas jangka menengah.

Fahmi menegaskan bahwa data yang beredar saat ini bersifat sementara. “Kami ingin memastikan setiap layanan tercatat dengan akurat tanpa mengganggu fokus relawan di lapangan. Karena itu, pendataan berjalan paralel dengan operasi,” katanya.

Dok: Ismail Fahmi

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi lintas wilayah dan lintas lembaga harus terus diperkuat. Dengan cakupan dampak yang luas dan penyintas mencapai ribuan orang, respons bencana tidak bisa hanya mengandalkan satu organisasi.

“Yang paling penting adalah memastikan penyintas merasa tidak sendirian,” ujar Fahmi. “Muhammadiyah akan tetap hadir, dari masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan, untuk memastikan warga kembali hidup dengan aman dan bermartabat.”***

 

Artikel Lainnya:

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *