KALAU bencana di Indonesia punya jadwal tetap, mungkin kita semua sudah bisa bikin kalender edisi “Musibah Nasional 2026”. Dari banjir sampai gempa, dari longsor sampai kebakaran hutan, semuanya datang kayak tamu tak diundang tapi maksa numpang nginap.
Nah, di tengah kebingungan dan sirine ambulans yang tak kunjung reda, kabar dari Yogyakarta akhir pekan kemarin datang seperti vitamin C di musim pancaroba, Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah resmi diakui oleh WHO sebagai tim medis darurat berstandar internasional. Alias, Indonesia akhirnya punya “tim healing bencana” yang beneran diakui dunia.
#Dari Amal Usaha ke Amal Dunia
Selama ini Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang rajin buka sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan, pokoknya kalau ada tanah kosong, kemungkinan besar bakal muncul plang “Amal Usaha Muhammadiyah” di situ. Tapi sekarang, mereka naik level.
Bukan cuma menyembuhkan umat di tanah air, tapi juga siap go international menolong siapa saja di planet ini.
Prosesnya? Jangan dikira gampang. Mendapat stempel “approved by WHO” ini butuh waktu delapan tahun, lebih lama dari skripsi anak teknik yang hobi revisi.
Lewat Lembaga Respon Bencana (LRB), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), mereka harus melewati audit, simulasi, hingga pelatihan yang lebih tegang dari nunggu gebetan bales chat.
Tempat ujinya? RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, yang kini bisa sombong dikit karena jadi saksi lahirnya tim medis internasional dari Indonesia. Di sana mereka diuji untuk tetap tanggap meski listrik padam, pasien antre, dan gempa susulan datang kayak notifikasi grup WhatsApp RT.
Dan hasilnya? Lulus. Statusnya resmi: International Emergency Medical Team (Global Classified). Artinya, kalau besok ada gempa di Nepal, badai di Filipina, atau banjir di Afrika, mereka bisa langsung berangkat tanpa perlu nunggu “surat tugas dari atasan”.
#Dari Jogja ke Dunia: Rahmatan Lil-Alamin dalam Versi Medis
Bagi Muhammadiyah, ini bukan sekadar urusan prestise, ini soal prinsip. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mugni dan dr. Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa pengakuan WHO ini adalah bukti nyata bahwa dakwah tak melulu lewat mimbar, tapi juga lewat tindakan, menolong siapa pun tanpa pandang agama, bendera, atau saldo rekening.
“Tim EMT Muhammadiyah harus memperluas wawasan dunia yang sangat beragam. Pada saat bersamaan, juga memerlukan skill untuk melakukan aksi-aksi kemanusiaan di kancah internasional,” ujar Syafiq mengingatkan.
Dan memang, kiprah Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sudah panjang dan penuh peluh. Mereka turun tangan di hampir setiap bencana besar negeri ini: dari tsunami Aceh, gempa Padang, erupsi Merapi, hingga misi kemanusiaan lintas negara di Turki. Jadi kalau sekarang WHO bilang “approved”, ya memang pantas.

Sementara itu, di sisi lain republik ini, para politisi kita masih sibuk adu cepat, siapa duluan dapat kursi kabinet, siapa paling rajin rapat tanpa hasil.
Bedanya jelas, Muhammadiyah delapan tahun sibuk menyelamatkan nyawa, sementara yang lain delapan tahun sibuk menyelamatkan elektabilitas.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Perkuat Diplomasi Kemanusiaan
Kalau urusan bencana adalah “politik alam”, maka Muhammadiyah sedang belajar jadi diplomatnya. Setelah resmi diakui WHO sebagai tim medis darurat berstandar internasional, EMT Muhammadiyah tak mau berhenti di euforia.
Mereka langsung tancap gas, memperkuat kolaborasi dan menaikkan kelas profesionalisme kemanusiaan Indonesia. Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Budi Setiawan, mengakui banyak catatan dan masukan dari tim verifikasi WHO, bukan teguran, tapi semacam “PR global” yang harus dikerjakan bareng-bareng.
“Kami akan terus bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri. Karena ini kegiatan internasional, tidak mungkin kami berjalan sendiri,” ujarnya.
Ya, membantu orang di luar negeri itu nggak bisa cukup dengan niat baik dan logistik. Butuh juga paspor diplomatik, izin lintas batas, dan segudang koordinasi birokratis yang bikin kening berkerut lebih dalam dari bekas masker N95.
Sementara itu, Koordinator Bidang EMT Muhammadiyah Internasional, Corona Terawan (nama yang, ironisnya, kini makin cocok di dunia pascapandemi), menegaskan bahwa timnya akan terus memperkuat standar EMT, baik di tingkat internasional maupun nasional.
“Tidak hanya di level Muhammadiyah saja, tapi kita akan ikut mengembangkan Emergency Medical Team lembaga-lembaga lainnya,” katanya, menandakan semangat berbagi bukan cuma di dapur umum, tapi juga di dapur ilmu kebencanaan.
Dan tentu saja, langkah besar ini tak lepas dari dukungan para donatur sejati. Gunawan Hidayat, Sekretaris Lazismu PP Muhammadiyah, memastikan lembaganya siap jadi bensin logistik di setiap misi kemanusiaan. “Lazismu akan selalu komitmen mendukung kegiatan EMT di lapangan,” katanya.
Dari Jogja ke dunia, dari Lazismu sampai WHO, semuanya menyatu dalam satu narasi: bahwa diplomasi tidak melulu tentang negosiasi meja bundar, tapi juga tentang bagaimana tangan-tangan relawan Muhammadiyah menjahit luka umat manusia.
#Profesionalisme Lebih Mahal dari Gimmick
Dari kisah ini kita belajar satu hal, jadi profesional itu memang nggak segampang bikin janji kampanye. Muhammadiyah membuktikan, bahwa reputasi internasional itu bukan hasil postingan, tapi hasil kerja. Bukan dari “influencer global”, tapi dari disiplin dan integritas lokal.
Delapan tahun kerja keras, demi satu pengakuan, bahwa Indonesia mampu. Bukan cuma jago bikin slogan “Tanggap Bencana”, tapi benar-benar punya tim medis yang tanggap beneran, dan kini, bersertifikat WHO.
Jadi, kalau nanti dunia butuh penyembuh, kita bisa angkat dagu dan bilang, “Tenang, dunia. Kami kirim dokter Muhammadiyah. Mereka bukan cuma jago ngaji yang sekadar menghafal, tapi juga jago operasi pakai standar internasional.”***