Lewati ke konten

Saat Sejarah Berbicara Lewat Monokrom: Oscar Motuloh Tangkap Esensi Laut Bercerita dalam Pameran Foto

| 5 menit baca |Rekreatif | 6 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: M. Iffan Editor: Supriyadi
  • Pameran “Dua Lensa Bercerita” di Kemang mentransformasikan narasi novel dan film Laut Bercerita ke dalam karya fotografi hitam putih karya Oscar Motuloh.
  • Pendekatan monokrom dipilih untuk memberikan ruang perenungan mendalam, bukan sekadar memindahkan materi visual film ke dalam bentuk cetak foto.
  • Eksplorasi artistik ini berawal dua hari pasca-peluncuran film, memberikan kebebasan penuh bagi Oscar untuk menerjemahkan sejarah secara subjektif.
  • Foto-foto dalam pameran berdiri sebagai entitas seni otonom yang memperkaya tafsir penonton terhadap realitas sosial dan sejarah bangsa.
  • Kolaborasi lintas medium ini membuka peluang baru bagi insan perfilman untuk menggandeng seniman lintas disiplin dalam memperluas ekosistem karya.

SEBUAH cerita tidak selalu berhenti pada medium yang pertama kali mengenalkannya kepada publik. Cerita yang lahir dari novel dapat berkembang menjadi film, lalu kembali diterjemahkan melalui medium seni lainnya.

Gagasan tersebut hanya dalam pameran fotografi “Dua Lensa Bercerita” yang digelar di Dia.Loe.Gue, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026).

Pameran yang digagas Pal8, produser film Laut Bercerita, ini menghadirkan tafsir baru atas cerita yang sebelumnya dikenal melalui novel dan film. Kali ini, kisah karya Leila S. Chudori itu, diperkisahkankan ke dalam bahasa fotografi.

Fotografer senior Oscar Motuloh mengambil peran dalam proses tersebut. Ia menggunakan materi visual dari film sebagai titik awal, tetapi tidak sekadar memindahkan gambar dari layar ke dalam bingkai foto.

Fotografer senior Oscar Motuloh berbicara dalam diskusi pameran “Dua Lensa Bercerita” yang menerjemahkan kisah Laut Bercerita ke dalam medium fotografi. | Foto: M Iffan

Oscar melakukan penafsiran ulang dan parafrasa visual untuk menemukan sudut pandang lain terhadap cerita Laut Bercerita.

“Menurut saya, foto-foto ini merupakan semacam kesimpulan dari gambar bergerak yang ada di dalam film,” ujar Oscar, Sabtu (31/2026).

Memilih Bahasa Hitam Putih

“Menurut saya, refleksi dari sebuah novel yang berangkat dari sejarah tentu memiliki dampak yang cukup signifikan, selama penikmatnya mampu melakukan penafsiran berdasarkan subjektivitas masing-masing.”

Dalam proses kreatifnya, Oscar mendapat keleluasaan dari tim produksi untuk mengembangkan interpretasi visualnya. Tidak ada batasan naratif yang membuatnya harus mengikuti setiap detail yang ada dalam film.

BACA JUGA:  Ngobrol Buku Selenggarakan Lokakarya Cerpen Adaptasi Cerita Rakyat Sumatera Utara di Medan
Pengunjung mengamati karya fotografi yang dipajang dalam pameran “Dua Lensa Bercerita”, bagian dari interpretasi visual kisah Laut Bercerita melalui medium fotografi. | Foto: M Iffan

Kebebasan tersebut justru menjadi tantangan untuk menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki ruang untuk ditafsirkan oleh pengunjung.

Oscar kemudian memilih fotografi hitam putih sebagai pendekatan visual. Pilihan tersebut bukan sekadar persoalan estetika, melainkan bagian dari caranya membangun suasana dan memberi ruang bagi penonton untuk melihat gambar dengan lebih tenang.

Melalui karakter monokrom, ia berharap pengunjung tidak sekadar melihat foto secara cepat. Ada jeda untuk memperhatikan detail, membaca suasana, dan memikirkan kembali pesan yang ada di balik setiap gambar.

Oscar menyadari bahwa fotografi tidak mungkin menyampaikan seluruh cerita sebagaimana novel maupun film. Namun, menurutnya, keterbatasan tersebut justru membuka ruang bagi subjektivitas penikmat karya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Apalagi Laut Bercerita merupakan karya fiksi yang berangkat dari refleksi sejarah. Karena itu, kisahnya dapat dibaca kembali melalui berbagai pengalaman dan realitas sosial yang ada di sekitar masyarakat.

“Menurut saya, refleksi dari sebuah novel yang berangkat dari sejarah tentu memiliki dampak yang cukup signifikan, selama penikmatnya mampu melakukan penafsiran berdasarkan subjektivitas masing-masing,” tuturnya.

Gagasan Setelah Film Diluncurkan

Eksplorasi fotografi ini bermula dari proses yang cukup spontan. Oscar menuturkan, gagasan untuk memperluas cerita Laut Bercerita melalui fotografi muncul dua hari setelah film diluncurkan pada 29 Oktober.

Tim produksi sebenarnya telah memiliki dokumentasi sendiri. Namun, keterlibatan Oscar bukan untuk sekadar mendokumentasikan proses produksi ataupun membuat foto di balik layar.

Seorang peserta menyampaikan pandangannya dalam diskusi, sementara fotografer Oscar Motuloh duduk menyimak pembahasan dalam pameran “Dua Lensa Bercerita”. | Foto: M Iffan

Kisah itu, justru mendapat ruang untuk membaca kembali cerita dan menerjemahkannya melalui sudut pandang fotografi.

BACA JUGA:  Melawan Stigma, Film 'Maira' Potret Papua Lewat Mata Masyarakat Adat

Karena itu, karya yang ditampilkan dalam pameran “Dua Lensa Bercerita” tidak ditempatkan sebagai materi pelengkap film. Foto-foto tersebut berdiri sebagai karya tersendiri yang menawarkan cara berbeda untuk melihat dan memahami cerita Laut Bercerita.

Bagi Oscar, perjalanan sebuah karya tidak harus berakhir setelah film selesai diproduksi dan ditayangkan. Sebuah cerita masih dapat menemukan kehidupan baru ketika bertemu dengan medium dan seniman yang berbeda.

Kolaborasi Lintas Seni

Pengunjung mengabadikan karya fotografi yang menampilkan adegan dalam Laut Bercerita pada pameran “Dua Lensa Bercerita” di Jakarta. | Foto: M Iffan

Pameran ini sekaligus memperlihatkan kemungkinan kolaborasi antara perfilman dan berbagai bidang seni lainnya. Oscar berharap langkah tersebut dapat membuka ruang yang lebih luas bagi fotografer, seniman rupa, maupun pekerja kreatif dari disiplin lain untuk terlibat dalam pengembangan sebuah cerita.

Menurutnya, pertemuan berbagai disiplin seni dapat memberikan pengalaman baru dalam proses penciptaan sekaligus memperkaya cara publik menerima sebuah karya.

Melalui “Dua Lensa Bercerita”, Laut Bercerita kembali hadir dalam bentuk yang berbeda. Setelah berpindah dari halaman novel ke layar film, cerita tersebut kini diterjemahkan ke dalam foto-foto hitam putih.

Perubahan medium itu memberikan kesempatan bagi publik untuk melihat kembali cerita yang sama dari perspektif berbeda. Sebuah cerita pun tidak harus selesai ketika satu karya berakhir. Cerita itu dapat terus dibaca, ditafsirkan, dan menemukan bahasa baru ketika bertemu dengan medium serta pengalaman yang berbeda.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *