Lewati ke konten

Sampah Plastik Impor dari Negara Maju Dibakar di Jawa Timur, Warga Menghirup Racun Tanpa Disadari

| 5 menit baca |Mikroplastik | 44 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

Asap hitam itu mengepul setiap hari dari tungku batu gamping di Desa Gampingan, Pagak, Malang, Jawa Timur. Di balik nyalanya, bukan kayu atau arang yang terbakar, melainkan sampah plastik impor yang datang dari negara maju. Warga menyebutnya rezeki, tanpa tahu bahwa setiap hirupan asap menyisakan ancaman panjang pada napas mereka.

#Kisah Api dari Negeri Jauh

Dua warga memilah tumpukan sampah plastik di tepi permukiman, berusaha mencegahnya kembali mencemari lingkungan. | Foto: Alaika / ECOTON

VIDEO berdurasi 50 detik yang diunggah akun Instagram @alekrahmatullah memantik kegelisahan publik. Dengan narasi getir, ia menjelaskan bagaimana sampah plastik dari negara maju berakhir dibakar di Jawa Timur. “This is happening in our country Indonesia. The plastic waste trade is destroying us,” tulisnya, seakan-akan ingin menampar kesadaran kita yang telah terlalu lama diam.

Latar video itu bukanlah tempat pembuangan akhir, melainkan halaman rumah warga, hanya beberapa meter dari tempat anak-anak bermain. Tumpukan plastik setinggi hampir satu orang dewasa menunggu giliran masuk ke tungku gamping. Ketika plastik menyala, asap hitam menebal, mengirimkan gas dioksin dan furan ke udara—dua senyawa yang oleh WHO disebut karsinogenik, tetapi di desa ini, asap itu hanya dianggap tanda tungku sedang bekerja.

Para pemilik tungku tidak menutupi alasan mereka. Plastik digunakan bukan karena modernitas, tetapi karena ekonomi. Kayu mahal, gas sulit dijangkau, sementara pabrik kertas memberikan sampah plastik secara gratis kepada warga. “Cuma bayar uang angkut,” kata salah satu pekerja yang dikutip pemilik akun saat wawancara, Jumat, 21 November 2025.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by (@alekrahmatullah)

Bagi pemeilik tungku, pembakaran plastik bukanlah pilihan sadar, melainkan cara bertahan hidup. Alaika pun menjelaskan bahwa video itu ia rekam saat melakukan investigasi sebagai bagian dari tugasnya sebagai Divisi Edukasi dan Kampanye ECOTON. Yang membuatnya tercekat bukan hanya plastik yang terbakar, tetapi wajah polos anak-anak yang berlarian dan bermain guling-guling di atas sampah itu, bermain di antara kepulan racun yang tak terlihat namun mematikan. “Mereka tidak tahu apa yang masuk paru-paru mereka,” ujarnya.

Respons publik datang bergelombang. Kolom komentar berubah menjadi ruang kemarahan, kepedihan, dan ironi nasional. “Kita mati-matian jaga lingkungan, mereka bakar berton-ton,” tulis seorang pengguna. Yang lain, dengan nada getir, berkata, “Lawak tapi nyata—cuma di +62 sampah diimpor.”

Namun yang paling menampar mungkin kalimat seorang warga Pagak, “Anak-anak kami main di situ. Kalau nanti mereka sakit, siapa yang tanggung jawab?” Di timeline, video itu memang hanya 50 detik. Tetapi bagi warga yang menghirup asap saban hari, kisahnya tak pernah berhenti.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Celah Impor Limbah dan Bisnis yang Tak Pernah Padam

Dugaan praktik ini bukan tanpa akar. Indonesia memang masih membuka keran impor limbah kertas sebagai bahan baku industri dengan kode HS 4707. Berdasarkan SKB Tiga Menteri Nomor 482 Tahun 2020, limbah kertas impor boleh masuk selama impuritas plastiknya tidak melebihi 2 persen.

Dalam catatan memang angka itu tampak ideal. Tetapi di lapangan, tidak ada transparansi berapa persentase sesungguhnya. Saat kontainer tiba di pabrik kertas, plastik yang tidak dapat direcycle dipilah lalu didumping ke desa-desa sekitar. Dari sini, jalur ekonominya berpindah, plastik gratis dari industri berubah menjadi bahan bakar murah bagi warga.

Tidak hanya di Pagak, pola yang sama teridentifikasi di beberapa wilayah. Di Sidoarjo, sampah plastik bahkan digunakan untuk bahan bakar produksi tahu. “Kenapa tidak?” kata warga. “Bakar plastik panasnya kuat, gratis pula.” Logika ekonomi menang telak atas isu kesehatan, terutama ketika pendapatan harian bergantung pada kelangsungan tungku.

#ISPA Meningkat, Tubuh Jadi Bukti yang Tak Berbicara

Dalam catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Desa Gampingan menunjukkan tren menurun, namun tidak pernah benar-benar hilang. Sepanjang 2019, terdapat 1.826 kasus, menjadikan ISPA salah satu keluhan kesehatan paling dominan di desa itu. Pada 2020 angkanya sedikit mereda menjadi 1.761 kasus, hanya turun 65 kasus, penurunan yang tergolong kecil untuk skala satu desa.

Situasi baru terlihat berubah pada 2021 ketika jumlah kasus anjlok menjadi 1.138 kasus, sebuah penurunan signifikan hingga 623 kasus. Meski demikian, beban ISPA masih tetap tinggi. Tahun 2022 kembali menunjukkan penurunan menjadi 865 kasus, namun angka tersebut masih menggambarkan bahwa ISPA terus membayangi kesehatan warga Gampingan dari tahun ke tahun.

Secara umum, grafik kasus memang menurun, tetapi ritmenya memperlihatkan bahwa ISPA bukan masalah yang terselesaikan, hanya mereda. Bagi warga yang tinggal dekat kawasan industri, pemukiman padat, dan jalur lalu lintas berat, ISPA masih menjadi penyakit berulang yang datang tiap pergantian musim dan tiap puncak polusi.

Angka itu memang menunjukkan penurunan, tetapi masih mencerminkan beban penyakit yang terus menghantui warga, sebuah pola yang berjalan paralel dengan aktivitas pembakaran plastik yang tak pernah berhenti di desa tersebut.

Dalam satu wawancara, seorang ibu mengaku tidak tahu apakah asap plastik berbahaya. “Yang penting dapur ngebul, anak bisa sekolah,” ucapnya. Kalimat sederhana itu menggambarkan persoalan struktural yang jauh lebih besar, perdagangan sampah global menjadikan desa-desa di Indonesia sebagai penampung eksternalitas negara maju.

Di Desa Gampingan, bara tidak hanya menyala di tungku, tetapi juga pada pertanyaan besar yang menggantung: sampai kapan warga harus membayar dengan kesehatan demi limbah negara lain? Seruan dalam video itu terasa sebagai jeritan kolektif . “Kami meminta pemerintah Indonesia menghentikan aktivitas sampah impor ini.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *