- Mahasiswa KKN UINSA menghadirkan insinerator minim asap untuk membantu warga mengelola sampah lebih tertib dan berkelanjutan bersama.
- Kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, dan warga melahirkan insinerator sebagai solusi pengelolaan sampah ramah lingkungan berkelanjutan.
- Insinerator minim asap disertai edukasi mendorong warga Desa Genengwaru membangun budaya pengelolaan sampah lebih bertanggung jawab.

Penulis: Dito Herdianto, mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Sains dan Teknologi dan Putri Nabilah Fatihatul Firjah, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
PERMASALAHAN sampah rumah tangga di tingkat desa kerap menjadi tantangan lingkungan tersendiri. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Kelompok 102 menghadirkan inovasi berupa insinerator minim asap di Desa Genengwaru, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.
Pembangunan tempat pembakaran sampah terkendali yang berlangsung pada Minggu (12/7) tersebut mengusung semangat gotong royong dengan melibatkan langsung pemerintah desa serta masyarakat setempat.
#Gotong Royong dan Teknologi Pembakaran Terbuka vs Tertutup
Koordinator Desa KKN UINSA, Fatur, menjelaskan bahwa fasilitas ini dirancang menggunakan sistem ruang bakar tertutup. Desain ini memungkinkan proses pembakaran terjadi secara optimal dan terkendali bila dibandingkan dengan pembakaran sampah terbuka (open burning) yang kerap memicu polusi asap pekat.
“Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun rasa memiliki terhadap fasilitas yang nantinya akan digunakan dan dirawat bersama oleh masyarakat,” ujar Fatur, Ahad, (26/7/2026).

Tak sekadar menyerahkan fasilitas fisik, tim KKN UINSA juga memberikan edukasi mendalam mengenai tata cara penggunaan yang aman dan bertanggung jawab. Warga diimbau untuk memasukkan sampah kering—seperti daun, ranting, dan kertas—secara bertahap sesuai kapasitas ruang bakar guna menjaga sirkulasi udara serta meminimalkan residu asap.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Respon Positif dan Harapan Keberlanjutan
Inisiatif ini menyedot perhatian positif dari warga. Muslimin, salah satu warga Desa Genengwaru, menyambut baik langkah para mahasiswa yang dinilainya mampu mengubah pola pikir masyarakat mengenai kebersihan lingkungan.
“Kami berharap masyarakat tidak lagi membakar sampah secara sembarangan, tetapi nantinya bisa memanfaatkan insinerator ini,” ungkap Muslimin.
Apresiasi senada disampaikan oleh Ma’ruf, Ketua RT 02 Dusun Krajan, saat menerima penyerahan fasilitas insinerator secara simbolis. Ia menganggap inovasi ini memberi dampak nyata bagi kenyamanan dan kesehatan pemukiman warga.
“Keberadaan tempat pembakaran sampah ini sangat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Genengwaru… Kami berharap program ini tidak berhenti pada pembangunan fasilitas semata, tetapi masyarakat dapat terus menerapkan kebiasaan memilah dan mengelola sampah dengan baik,” tutur Ma’ruf.
Melalui sinergi antara edukasi dan penyediaan sarana ini, program KKN UINSA Kelompok 102 diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah desa yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan.***