KOTA Surabaya saat ini mendapat peringatan lingkungan, mikroplastik ternyata turun bersama air hujan. Temuan riset ECOTON dan jaringan komunitas muda membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergerak cepat. Kota Pahlawan, yang dikenal toleran pada hiruk-pikuk metropolitan, ternyata juga dihantui partikel plastik mikroskopis dari udara.
DLH menilai riset ini bukan sekadar angka, melainkan peta besar tentang bagaimana kebiasaan harian warga – dari membakar sampah hingga mencuci pakaian – berkontribusi pada pencemaran udara. Surabaya kini dihadapkan pada tugas rumah yang tak sederhana, menahan plastik agar tidak menjelma menjadi “hujan baru”.
#Ketika Air Hujan Membawa Cerita yang Tak Terlihat

Surabaya mungkin akrab dengan hujan deras, genangan, juga aroma tanah basah. Namun pekan ini, kota yang dikenal budaya arek itu harus menerima satu kabar baru, air hujan yang turun ternyata membawa mikroplastik dalam jumlah yang tidak bisa dibilang kecil.
Fenomena yang sebelumnya terasa seperti teori ilmiah jauh di awang-awang, kini mengetuk langsung teras rumah warga Kota Pahlawan.
Riset yang mengungkap temuan ini dilakukan oleh Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas GrowGreen, River Warrior, dan ECOTON, sebuah kolaborasi jaringan lintas komunitas yang entah bagaimana, berhasil menyatukan energi muda, aktivisme sungai, dan riset laboratorium.
Melihat hasil uji empiris tersebut, DLH Surabaya pun langsung memberikan apresiasi. Kepala DLH, Dedik Irianto, menyebut riset itu sebagai “wake-up call” bagi kota metropolitan, seperti Surabaya ini.
“Sumber mikroplastik tidak bisa dihindari di lingkungan urban padat seperti Surabaya,” ujar Dedik, Selasa, 18 November 2025. “Pembakaran sampah, gesekan ban kendaraan, hingga tumpukan sampah plastik yang tak terbendung menjadi penyumbang utama.”
Mikroplastik itu naik bersama udara panas, melayang ke langit, terjebak di awan, lalu turun kembali saat kondensasi. Dengan kata lain, Surabaya bukan cuma menghadapi sampah di sungai, tetapi juga sampah yang turun dari langit, sebuah ironi yang terasa seperti sebuah lelucon dalam cerita paling pahit begi ekologis kehidupan kota besar.
#Surabaya Bergerak: Riset Lanjutan dan Dasar Hukum yang Tegas
Tidak ingin gegabah, DLH memutuskan akan melakukan penelitian lanjutan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Pengujiannya akan meniru metode ECOTON untuk memastikan tingkat cemaran. “Setelah data verifikasi keluar, barulah langkah mitigasi disusun, berupa pembatasan plastik sekali pakai yang lebih ketat, mungkin saja edukasi baru, atau penegakan sanksi pembakaran sampah secara agresif, “ujar Dedik .
Secara regulasi, Surabaya memang memiliki amunisi kuat, yaitu Perda No. 5 Tahun 2014 yang jelas-jelas melarang pembakaran sampah. Dendanya pun tidak main-main, mulai Rp300 ribu hingga Rp50 juta.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Juga ada Perwali No. 10 Tahun 2017 yang mempertegas kembali larangan itu. “Jadi bila ada warga yang masih membakar sampah pastinya risikonya bukan cuma bau tak sedap, tapi juga kena jerat sanksi, “ ungkap Dedik.
Di sisi lain, lanjut Dedik, DLH juga memperkuat pengelolaan TPA Benowo. Teknologi gasification power plant dipromosikan mampu menahan fly ash dan bottom ash agar tidak ikut beterbangan ke udara. “Upaya ini penting untuk mencegah tambahan partikel halus yang bisa memperparah polusi mikroplastik, “ tegasnya.
#Hasil Penelitian: Fiber Mendominasi, Pakis Gelora Paling Tercemar
Data penelitian yang dilakukan oleh Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas GrowGreen, River Warrior, dan ECOTON, pada 11–14 November 2025 memperlihatkan kenyataan mencengangkan.
Dalam penelitan mereka, Surabaya berada di posisi keenam dari 18 kota dengan kontaminasi mikroplastik udara tertinggi, 12 partikel setiap 90 cm² dalam dua jam. Angka tersebut cukup tinggi untuk ukuran kota dengan pengelolaan sampah yang relatif progresif.
Lokasi paling tercemar adalah Pakis Gelora, dengan temuan 356 partikel mikroplastik per liter air hujan. Disusul Tanjung Perak dengan 309 PM/L. Menurut Koordinator Penelitian, Alaika Rahmatullah, tingginya kadar mikroplastik di Pakis Gelora berkaitan dengan pembakaran sampah dan lokasinya yang dekat dengan pasar dan jalan raya.
Jenis mikroplastik yang mendominasi Adalah fiber, disusul filamen. Menurut Peneliti ECOTON, Sofi Azilani, fiber biasanya terbentuk dari pembakaran sampah plastik. Penelitian sebelumnya di Sidoarjo juga menemukan dominasi fiber di sekitar tungku pembakaran sampah. “Artinya, ini persoalan lama yaitu kebiasaan membakar sampah, muncul lagi dan lagi sebagai tersangka utama, “ ungkap Sofi.
Namun bukan itu saja, masih kata Sofi, aktivitas mencuci dan menjemur pakaian, debu jalan, gesekan ban kendaraan, serta polusi industri ikut menambah daftar panjang sumber kontaminasi. “Mikroplastik kalau boleh dibilang memang licik. Serpihan ini bisa lahir dari apa saja, dari yang kita bakar, pakaian yang kita cuci bahkan, “jelasnya.
Meski temuan ini mengkhawatirkan, hasil penelitian di Surabaya membuka peluang bagi aksi kolektif. Edukasi publik, pengawasan pembakaran sampah, serta perbaikan sistem pengelolaan limbah menjadi langkah mendesak. Tanpa perubahan perilaku dan kebijakan, mikroplastik akan terus hadir di udara, air hujan, dan akhirnya masuk ke tubuh kita sendiri.***