Lewati ke konten

Teatrikal Jalan Salib Kolosal Warnai Jumat Agung Mojokerto

| 2 menit baca |Sorotan | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Supriyadi

Ratusan jemaat GKJW Pepantan Banyulegi menggelar teatrikal jalan salib keliling kampung, menghadirkan drama kolosal dan memperkuat kerukunan lintas agama di Dawarblandong, Mojokerto.

Jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepantan Banyulegi, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menggelar kebaktian Jumat Agung dengan teatrikal jalan salib, Jumat, 3 April 2026. Kegiatan berlangsung dari depan gereja menuju bukit di simpang tiga Banyulegi.

Teatrikal ini menjadi pengalaman baru bagi jemaat karena digelar dengan berkeliling kampung. Sepanjang rute, para pemuda gereja memerankan kisah penderitaan Yesus Kristus saat memanggul salib menuju Bukit Golgota. Adegan demi adegan disusun secara kolosal, menghadirkan suasana reflektif di tengah lingkungan warga.

Pendeta GKJW Pepantan Banyulegi, Galih Fendi Christianto, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai sarana penghayatan iman. Visualisasi kisah penyaliban diharapkan membantu jemaat memahami makna Jumat Agung secara lebih mendalam.

“Tahun ini menjadi momen spesial karena teatrikal diadakan dengan berkeliling kampung. Jemaat diajak menghayati peristiwa ini secara langsung melalui visualisasi,” ujarnya.

Antusiasme warga terlihat sepanjang rute. Sejumlah warga berdiri di depan rumah menyaksikan jalannya drama, sementara peserta berjalan perlahan mengikuti alur cerita yang ditampilkan.

Prosesi penyaliban dalam teatrikal Jalan Salib berlangsung di ruang terbuka Desa Banyulegi, melibatkan puluhan pemeran dan disaksikan warga sekitar, Jumat (3/4/2026). | Foto: Fio

#Potret Kerukunan Lintas Agama

Pelaksanaan teatrikal juga mencerminkan kuatnya relasi sosial antarwarga di Kecamatan Dawarblandong. Dukungan datang dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat lintas agama yang ikut membantu persiapan kegiatan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menurut Galih, keterlibatan warga sejak tahap awal menjadi faktor penting kelancaran acara. Bantuan tersebut mencakup pengaturan rute, logistik, hingga keamanan selama kegiatan berlangsung.

“Teman-teman lintas agama turut membantu sejak awal. Dukungan masyarakat membuat acara berjalan lancar,” katanya.

Rangkaian ibadah Jumat Agung ditutup dengan kebaktian bersama. Setelah itu, jemaat dan warga yang hadir mengikuti ramah tamah dengan makan bersama. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan yang terbangun di Desa Banyulegi.

Teatrikal jalan salib yang digelar perdana secara keliling kampung ini meninggalkan kesan mendalam bagi jemaat. Selain memperkuat nilai spiritual, kegiatan tersebut memperlihatkan praktik toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakat setempat.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *