Lewati ke konten

Tiga Finalis International Children’s Peace Prize 2025, Aeshnina “Nina” Azzahra Aqilani Harumkan Indonesia di Panggung Dunia

| 6 menit baca |Ide | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Di panggung Balai Kota Stockholm, tiga anak muda dari tiga benua memperlihatkan bahwa harapan bukan sekadar kata—ia adalah kekuatan yang lahir dari luka, keberanian, dan keyakinan bahwa dunia bisa berubah. International Children’s Peace Prize 2025 bukan hanya ajang penghargaan; ia menjadi panggung kesaksian tentang bagaimana satu suara dapat mengguncang struktur global.

#Stockholm: Panggung Global untuk Tiga Anak yang Mengubah Dunia

TANGGAL 19 November 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi dunia kemanusiaan. Di Balai Kota Stockholm, KidsRights Foundation mengumumkan tiga finalis International Children’s Peace Prize 2025. Penghargaan yang telah 20 tahun diberikan untuk anak-anak yang memperjuangkan hak sesamanya.

Ketika menerima penghargaan, ia menyampaikan pesan yang membuat ruangan terdiam. “Our childhood has been stolen due to wars and conflicts… you are not alone,” ujarnya tegas. Pesan teguran langsung kepada para pemimpin dunia—dari Bashar al-Assad hingga Vladimir Putin—yang dianggap turut melanggengkan kekerasan. “Your words and actions will not be forgotten,” kata Bana. | Foto: Rickard Eriksson/Global Child Forum

Mereka Adalah Bana al-Abed (15, Suriah/Turki) , penyintas perang yang mengubah pengalaman traumatisnya menjadi gerakan global, Divyansh Agrawal (16, Amerika Serikat), inovator yang menghadirkan solusi karbon rendah berbasis teknologi dan Aeshnina “Nina” Azzahra Aqilani (17, Indonesia), aktivis lingkungan yang menantang industri limbah internasional.

Lebih dari 200 nominasi dari 47 negara disaring sebelum tiga nama ini muncul sebagai finalis. Tahun ini, isu besar yang diangkat adalah anak-anak dalam konflik, krisis lingkungan, dan masa depan keberlanjutan.

Penghargaan tertinggi diberikan kepada Bana al-Abed, simbol ketangguhan anak-anak dalam perang. Divyansh menempati posisi kedua, sementara Nina meraih posisi ketiga, sebuah pencapaian yang tetap menggema kuat untuk Indonesia.

#Bana al-Abed: Dari Pengepungan Aleppo ke Panggung Perdamaian Dunia

International Children’s Peace Prize diberikan setiap tahun kepada anak yang berani memperjuangkan hak-hak anak. Simak kisah para nominasi 2025 yang kembali membuktikan bahwa anak-anak adalah agen perubahan. Biarkan cerita mereka menginspirasi kita untuk mewujudkan dunia yang lebih baik! | Foto; KIdsRights

Bana dikenal publik dunia sejak usia tujuh tahun lewat cuitannya yang menggambarkan kengerian hidup selama pengepungan Aleppo. Kini, pada usia 15 tahun, ia berdiri di panggung ICPP sebagai pemenang pertama dengan karya yang semakin luas: reunifikasi anak-anak hilang, pembangunan sekolah pascaperang, dan dukungan psikososial bagi korban konflik di Suriah, Gaza, Sudan, dan Ukraina.

Saat menerima penghargaan, Bana menyampaikan pesan yang membuat ruangan hening.
“Our childhood has been stolen due to wars and conflicts. We want peace, and to those children who are suffering in the wars, you are not alone,” ujarnya dengan suara tegas namun bergetar.

Pesannya bukan hanya untuk anak-anak; ia adalah teguran bagi para pemimpin dunia. Dalam pidatonya, ia menyebut langsung nama-nama besar yang dianggap punya andil atas perang berkepanjangan: Bashar al-Assad, Binyamin Netanyahu, Vladimir Putin, hingga para panglima perang Sudan. Bana menyatakan, “Your words and actions will not be forgotten.”

KidsRights menilai Bana sebagai representasi dari fakta bahwa anak-anak bukan sekadar korban, tetapi aktor penting dalam menggoyang kebijakan global.

Di tengah riuh masalah lingkungan, suara kecil ini memilih menantang arus—menolak sampah plastik demi bumi yang lebih bersih. | Dok Nina

#Nina untuk Bana: Seruan Persaudaraan dari Global South

Meski berdiri sebagai pemenang ketiga, sorotan justru banyak mengarah kepada Nina, aktivis lingkungan asal Gresik, Jawa Timur. Begitu mendengar pengumuman pemenang pertama, Nina langsung menyampaikan ucapan selamat yang hangat kepada Bana.

“Congratulations to Bana, the first-place winner whose courage has become a lantern for children living through conflict,” ucapnya.

Bagi Nina, perjalanan Bana adalah kisah transformasi yang luar biasa. “Her journey from surviving the siege of Aleppo to championing peace, education, and justice is a reminder of how powerful a single voice can be in reshaping the world. Her work… continues to inspire thousands, including me,” lanjutnya.

Baginya, berdiri di sisi Bana bukan sekadar kebetulan. “I’m honored to stand alongside her as the third-place winner. Sharing this moment with someone who has turned pain into purpose strengthens my own resolve to keep advocating for children whose rights and futures are at risk,” kata Nina.

Ia menutup pesannya dengan kalimat yang, jika dihayati, mampu meneteskan air mata: “To Bana and to every child still living in the shadows of war, you’re seen, you’re heard, and you’re not alone.”

Kata-kata itu menjadi pengingat kuat tentang pentingnya solidaritas dalam memperjuangkan perdamaian. Bisa dinilaii Nina sebagai suara paling lantang dari Global South pada ajang tahun ini.

Nina dalam salah satu adegan film dokumenter Girls for Future, yang menyoroti perjuangan remaja perempuan melawan krisis lingkungan di berbagai belahan dunia. Sumber foto: tangkapan layar. | Foto: Screenshot YouTube

#Dari Tepi Sungai Brantas ke Stockholm: Perjalanan Nina Menantang Industri Global

Di ruang konferensi Stockholm, nama Nina terus disebut sebagai figur yang mengguncang wacana keadilan lingkungan. Pada usia 12 tahun, ia menulis surat terbuka ke beberapa negara maju untuk menghentikan ekspor limbah plastik ke Indonesia.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Surat itu menggemparkan banyak pihak dan menggema sampai ke PBB, parlemen Eropa, dan jaringan aktivis lingkungan global.

Di lapangan, Nina membangun komunitas River Warrior. Di sana ia mengajar anak-anak tentang sains, pencemaran plastik, dan dampaknya terhadap sungai serta rantai pangan.

Ia turun langsung memunguti sampah, mengambil sampel air, hingga memberi penyuluhan ke sekolah-sekolah.

Dalam sebuah wawancara di Stockholm, Nina berkata: “Anak-anak seharusnya tidak tumbuh dengan racun di sungai, udara, dan piring makan mereka. Keberlanjutan bukan pilihan—itu hak kami sebagai generasi penerus.”

Bagi delegasi internasional, Nina adalah simbol bahwa keadilan lingkungan bukan isu teknis, melainkan isu hak anak.

Sebagian media menyebut Nina sebagai representasi generasi muda Global South yang berani menuntut tanggung jawab dari negara-negara kaya: tentang sampah, polusi, dan ketimpangan ekonomi.

#ESG, Konflik, dan Masa Depan Anak-anak: Ketika Suara Kecil Mengubah Arah Kebijakan

Tahun ini, pembicaraan ICPP berkaitan erat dengan ESG—Environmental, Social, and Governance—yang menjadi kerangka investasi global. Tema tentang anak dalam konflik dan krisis lingkungan membuat banyak investor bertanya ulang: apakah investasi mereka melindungi atau justru merusak masa depan anak-anak?

Beberapa lembaga keuangan, termasuk Candriam, menekankan bahwa hak anak adalah fondasi dari modal manusia jangka panjang. Di sisi lain, Global Child Forum memberikan peringatan melalui indeks risiko bahwa sektor digital, manufaktur, dan pertahanan memiliki jejak sosial yang sangat besar terhadap anak.

Sorotan yang dibawa Bana dan Nina membuka ruang diskusi baru:

  • Bagaimana sektor investasi menanggapi perang dan dampaknya pada anak?
  • Bagaimana industri mempertanggungjawabkan limbah yang meracuni generasi mendatang?
  • Bagaimana negara-negara harus merumuskan ulang kebijakan ekologis dan kemanusiaan?

Lewat panggung itu, jelas bahwa suara anak muda mulai menggeser prioritas global.

Di usia 12 tahun, Aeshnina “Nina” Azzahra Aqilani menulis surat kepada Donald Trump, Angela Merkel, dan para pemimpin dunia lainnya, menuntut penghentian ekspor limbah plastik ke Indonesia. Keberaniannya menggerakkan kesadaran global tentang “kolonialisme plastik” dan turut memengaruhi European Green Deal 2027. | Instagram

#Ketika Tiga Suara Menggema Jauh Melebihi Panggung Stockholm

Penghargaan tertinggi memang jatuh kepada Bana, tetapi sorotan Stockholm tidak berhenti di sana. Divyansh menghadirkan inovasi karbon rendah yang diapresiasi luas, sementara Nina membawa isu Global South ke pusat percakapan dunia.

International Children’s Peace Prize 2025 bukan sekadar kompetisi. Penghargaan ini adalah pengakuan bahwa masa depan dunia—dalam keamanan, keberlanjutan, dan keadilan—bergantung pada keberanian anak-anak ini.

Dan ketika tahun ini berakhir, dunia tahu satu hal: di antara suara yang menggema di Stockholm, suara dari Indonesia terdengar paling jauh.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *