Lewati ke konten

Transformasi Sistem Air Surabaya: Titik Genangan Berkurang, Ketahanan Kota Diuji

| 5 menit baca |Sorotan | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri, Editor: Supriyadi

Perbaikan drainase membuat genangan di Surabaya berkurang. Namun tekanan perubahan iklim, pertumbuhan kota, dan perilaku warga menjadi ujian baru ketahanan sistem pengendalian air perkotaan.

Hujan deras yang mengguyur Surabaya beberapa tahun terakhir tidak lagi selalu berujung kemacetan panjang akibat banjir. Di banyak ruas jalan utama, air kini lebih cepat surut. Aktivitas kota kembali berjalan dalam hitungan jam, bukan hari seperti satu dekade lalu.

Perubahan itu bukan terjadi secara kebetulan. Pemerintah Kota Surabaya dalam beberapa tahun terakhir memperkuat sistem drainase melalui normalisasi saluran, pembangunan rumah pompa, serta pembesaran kapasitas jaringan air. Dalam laporan resmi pemerintah kota, jumlah titik genangan yang sebelumnya mencapai sekitar 220 lokasi sejak 2021 berhasil ditekan menjadi sekitar 138 titik.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, pemkot telah menyiapkan pembangunan sejumlah rumah pompa baru di beberapa kawasan strategis. “Jadi di (dekat) Gereja Bethany, kawasan Semolo dan Nginden, itu kita bikin rumah pompa,” ujar Hidayat Syah dalam laman resmis Pemerintiah Kota Surabaya, Sabtu (31/1/2026).

Penambahan rumah pompa menjadi strategi utama. Sistem gravitasi dinilai tidak lagi cukup untuk kota pesisir dengan elevasi rendah seperti Surabaya. Karena itu, pompa berfungsi mempercepat aliran air menuju laut ketika curah hujan tinggi datang bersamaan.

Sementara itu, sebelumnya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam laporannya, pembangunan drainase menyebut pengendalian banjir memang tidak bisa hanya mengandalkan saluran air. Rumah pompa diperlukan agar air tidak tertahan terlalu lama di daratan.

“Rumah pompa itu untuk menarik pembuangan ke sungai yang terdekat, sehingga kita butuh aliran-aliran itu. Karena kalau dia (air) itu mengikuti aliran sungai, tidak dipotong untuk lari ke sungai yang terdekat, maka dia akan lebih jauh larinya ke sungai,” kata Eri pada Jumat, 27 Oktober 2023

Pembangunan drainase sepanjang lebih dari 56 kilometer di ratusan titik sepanjang 2025 juga memperlihatkan perubahan pendekatan, genangan tidak hanya ditangani di jalan utama, tetapi masuk hingga kawasan permukiman.

Secara detail hasilnya mulai terlihat. Namun pertanyaan yang muncul kemudian bukan lagi apakah sistemnya bekerja, melainkan apakah sistem itu cukup menghadapi masa depan.

Infografis alur sistem drainase Surabaya yang menunjukkan perjalanan air hujan dari permukiman menuju saluran lingkungan, saluran primer–sekunder, hingga dipompa ke sungai atau laut untuk mencegah genangan. Grafis: Shella

#Sistem Teknis dan Batas Kapasitasnya

Secara teknis, drainase Surabaya bekerja berlapis. Air hujan dari permukiman masuk ke saluran lingkungan, mengalir ke saluran sekunder, lalu menuju saluran primer sebelum akhirnya dipompa ke sungai atau laut.

Menurut penelitian teknik sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), genangan sering terjadi bukan karena satu kegagalan besar, melainkan akumulasi hambatan kecil di tiap lapisan sistem. Kapasitas saluran yang tidak lagi sesuai debit banjir rencana menjadi penyebab utama genangan di beberapa kawasan.

Umboro Lasminto, akademisi teknik sumber daya air ITS yang terlibat dalam kajian drainase perkotaan, menjelaskan bahwa kota berkembang lebih cepat dibanding kapasitas infrastruktur airnya.

“Drainase kota itu didesain berdasarkan asumsi hujan tertentu. Ketika pola hujan berubah dan permukaan resapan berkurang, sistem lama otomatis bekerja di luar batas rancangannya,” ujarnya dalam berbagai kajian teknik hidrologi perkotaan.

Masalah lain muncul dari perubahan tata ruang. Pertumbuhan permukiman padat mengurangi area resapan alami. Air hujan yang dulu terserap tanah kini langsung menjadi limpasan permukaan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kajian urban flooding di Indonesia menunjukkan urbanisasi cepat, perubahan penggunaan lahan, serta sistem drainase yang tidak mengikuti perkembangan kota menjadi faktor utama meningkatnya risiko banjir perkotaan.

Artinya, meskipun infrastruktur diperbaiki, tekanan terhadap sistem juga meningkat secara bersamaan.

Pekerjaan pembangunan dan perbaikan saluran drainase di salah satu ruas jalan Surabaya sebagai upaya meningkatkan kapasitas aliran air hujan dan mengurangi risiko genangan di kawasan permukiman. Foto: Shella

#Iklim Baru dan Peran Warga Kota

Tantangan terbesar drainase Surabaya hari ini justru datang dari faktor yang sulit dikendalikan, yaitu perubahan iklim. Intensitas hujan ekstrem di kawasan Asia Tenggara dilaporkan meningkat akibat pemanasan global, membuat episode hujan lebat menjadi lebih sering dan lebih intens.

Bagi kota pesisir seperti Surabaya, hujan deras yang turun dalam durasi singkat menjadi ujian berat. Sistem drainase harus menampung volume air besar dalam waktu bersamaan, sesuatu yang tidak selalu dipertimbangkan dalam desain lama.

Ahli perencanaan drainase perkotaan menilai solusi ke depan tidak cukup hanya memperbesar saluran. Pendekatan baru seperti sustainable urban drainage system—menggabungkan ruang hijau, kolam retensi, dan area resapan—menjadi strategi penting untuk kota modern.

Namun persoalan teknis hanyalah satu sisi cerita. Faktor perilaku masyarakat tetap menjadi variabel paling menentukan. Sampah rumah tangga yang masuk ke selokan kecil kerap menjadi titik awal gangguan sistem.

Ir. Erna Purnawati, praktisi teknik lingkungan yang pernah terlibat dalam perencanaan drainase Surabaya, menegaskan keberhasilan sistem sangat bergantung pada partisipasi warga. “Kami juga butuh kerja sama masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya dalam laporan ITS News.

Di sinilah paradoks kota modern muncul. Infrastruktur bisa terus ditingkatkan, tetapi satu saluran kecil yang tersumbat dapat memperlambat seluruh aliran air.

Surabaya hari ini tampak berada di jalur yang benar, genangan berkurang, sistem semakin rapi, dan respons kota terhadap hujan semakin cepat. Namun tantangan baru terus muncul—dari hujan ekstrem hingga kepadatan kota yang meningkat.

Drainase, pada akhirnya, tak hanya dibilang sabagai proyek teknik. Pengelolaan air kota adalah kerja kolektif antara perencanaan kota, adaptasi iklim, dan kebiasaan warganya. Selama air masih diberi ruang untuk mengalir, Surabaya mungkin tetap mampu menjaga ritme kotanya. Tetapi ketika ruang itu menyempit, genangan akan selalu menemukan jalannya kembali.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *