Lewati ke konten

Udara Surabaya di Tengah Padatnya Kendaraan Kota

| 5 menit baca |Sorotan | 16 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Mobilitas kendaraan yang terus meningkat di Surabaya memunculkan pertanyaan tentang kualitas udara kota. Warga mulai merasakan dampaknya, meski polusi sering hadir sebagai ancaman tak terlihat.

Kota Surabaya selalu dimulai dengan deru mesin kendaraan setiap pagi. Sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk logistik bergerak menuju pusat-pusat aktivitas kota. Di sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan Panglima Sudirman, arus kendaraan tampak padat sejak matahari belum sepenuhnya tinggi.

Mobilitas tinggi itu, tak lepas dari bagian dari denyut ekonomi kota. Surabaya sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia menampung berbagai aktivitas perdagangan, pendidikan, dan jasa yang menarik jutaan perjalanan setiap hari.

Di balik pergerakan kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti itu, kualitas udara tentu saja menjadi isu yang semakin mendapat perhatian.

Bagi sebagian warga, perubahan kualitas udara tidak selalu terlihat secara langsung. Tetapi bagi mereka yang menghabiskan waktu di jalan, polusi terasa cukup nyata.

Riyan, 29 tahun, misalnya. Seorang pengemudi ojek daring di Surabaya Timur, mengaku sering merasakan asap kendaraan yang lebih pekat pada jam sibuk. Menurutnya, kondisi tersebut biasanya terjadi pada pagi hari ketika masyarakat berangkat kerja atau pada sore hari saat arus pulang meningkat.

“Kalau pagi atau sore, apalagi di jalan besar, asap kendaraan terasa banget. Kadang mata juga perih kalau macet lama,” ujarnya, Ahad, 15 Maret 2026.

Riyan yang mengaku bisa menghabiskan hampir sepuluh jam sehari di jalan. Karena itu, ia kini lebih sering menggunakan masker ketika berkendara. Awalnya masker dipakai untuk menghindari debu jalanan, namun belakangan ia merasa perlindungan itu juga diperlukan untuk mengurangi paparan asap kendaraan.

Pengalaman Riyan menggambarkan situasi yang dialami banyak pekerja sektor informal di kota besar, mereka yang bekerja di jalan dan terpapar langsung kondisi udara perkotaan setiap hari.

Kepadatan kendaraan di Jalan Panglima Sudirman, Surabaya, mencerminkan tingginya aktivitas transportasi di kawasan pusat kota. Mobilitas yang terus meningkat ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap polusi udara perkotaan. Foto | Suara Surabaya

#Partikel Halus yang Tak Terlihat

Dalam berbagai penelitian lingkungan, sektor transportasi disebut sebagai salah satu sumber utama polusi udara di kawasan perkotaan. Gas buang kendaraan bermotor menghasilkan partikel debu halus yang dikenal sebagai PM2.5 dan PM10.

Kedua jenis partikel berukuran sangat kecil ini dapat bertahan di udara dalam waktu lama. Partikel ini kemudian terhirup oleh manusia, terutama di area dengan lalu lintas kendaraan yang padat.

PM10 merupakan partikel dengan diameter kurang dari 10 mikrometer, sedangkan PM2.5 lebih kecil lagi—kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya yang sangat halus, PM2.5 bahkan dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah manusia.

Penelitian mengenai kualitas udara di Surabaya menunjukkan bahwa konsentrasi partikel debu di udara cenderung meningkat seiring tingginya aktivitas kendaraan. Pada hari-hari dengan lalu lintas padat, kadar partikel tersebut dapat meningkat dibandingkan saat mobilitas kendaraan menurun.

Meski begitu, pemantauan kualitas lingkungan menunjukkan bahwa tingkat polusi udara Surabaya secara umum masih berada pada kategori sedang. Kondisi ini berarti kualitas udara masih relatif aman bagi sebagian besar masyarakat.

Namun kategori tersebut tetap menyimpan risiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit pernapasan.

Polusi udara sering disebut sebagai ancaman yang tidak terlihat. Tidak seperti sampah atau genangan air yang langsung tampak, kualitas udara yang buruk sering kali tidak disadari sampai dampaknya muncul pada kesehatan.

Paparan partikel halus dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, maupun infeksi saluran pernapasan. Karena itu, kualitas udara sering dijadikan salah satu indikator penting kesehatan lingkungan sebuah kota.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di kawasan permukiman Surabaya Selatan, Sri Hartini, 43 tahun, mengatakan ia mulai merasakan perubahan kondisi udara dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau dulu pagi masih terasa segar. Sekarang kalau keluar rumah dekat jalan raya terasa lebih panas dan kadang berdebu,” katanya.

Sri tinggal tidak jauh dari jalan utama yang sering dilalui kendaraan berat. Ia mengatakan debu dari jalan kerap masuk ke halaman rumah, terutama ketika lalu lintas sedang padat.

#Upaya Kota Menjaga Udara

Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya telah menjalankan sejumlah program untuk mengurangi dampak polusi udara. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperbanyak ruang terbuka hijau di berbagai wilayah kota.

Penanaman pohon di sepanjang ruas jalan menjadi strategi yang cukup sering terlihat. Pohon-pohon tersebut tidak hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga membantu menyerap sebagian polutan di udara.

Selain itu, kegiatan seperti car free day pernah menjadi salah satu upaya untuk menekan emisi kendaraan bermotor pada waktu tertentu. Pada hari pelaksanaan kegiatan tersebut, sejumlah ruas jalan ditutup sementara bagi kendaraan bermotor sehingga masyarakat dapat beraktivitas tanpa polusi lalu lintas.

Sejumlah penelitian mengenai pelaksanaan car free day di Surabaya menunjukkan bahwa pembatasan kendaraan dapat menurunkan konsentrasi partikel debu di udara secara signifikan dibandingkan hari biasa.

Meski demikian, sejumlah pengamat lingkungan menilai langkah tersebut masih perlu diperkuat dengan kebijakan yang lebih luas. Pengendalian emisi kendaraan bermotor, peningkatan kualitas transportasi publik, serta pembatasan kendaraan pribadi menjadi beberapa rekomendasi yang kerap muncul dalam diskusi kebijakan lingkungan perkotaan.

Di kota yang terus bertumbuh seperti Surabaya, peningkatan mobilitas hampir tidak dapat dihindari. Aktivitas ekonomi yang berkembang membuat jumlah kendaraan juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pertumbuhan ini membawa tantangan baru bagi kualitas lingkungan kota, terutama udara yang setiap hari dihirup jutaan warganya.

Bagi Riyan, persoalan polusi udara mungkin bukan isu yang selalu menjadi pembicaraan utama. Namun sebagai seseorang yang setiap hari bekerja di jalan, ia berharap kualitas udara kota tetap bisa dijaga.

“Yang penting udara jangan sampai makin parah,” katanya. “Soalnya kita tiap hari di jalan, jadi pasti kena langsung.”

Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan aktivitas kota yang terus bergerak, kualitas udara menjadi pengingat bahwa pembangunan kota bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga ruang hidup yang sehat bagi warganya.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *