Lewati ke konten

Udara Tak Lagi Gratis: Kita Kini Beli Filter untuk Menyaring Mikroplastik yang Kita Ciptakan Sendiri

| 6 menit baca |Ekologis | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

MIKROPLASTIK, yang dulu kita kira cuma berenang di laut atau nyangkut di perut ikan, ternyata juga bisa beterbangan di udara. Parahnya lagi, partikel ini bisa masuk ke paru-paru lewat napas sehari-hari. Jadi, kalau kamu merasa sehat padahal tiap hari hirup “plastik halus”, selamat datang di era udara sintetik.

Sebuah unggahan di Instagram @levoit_indonesia bikin banyak orang mendadak was-was. Katanya, mikroplastik bisa ikut terbawa asap dan limbah ke udara, lalu kita hirup tanpa sadar. Kolom komentar pun langsung ramai, antara yang panik, pasrah, sampai yang bercanda sarkas soal evolusi jadi manusia plastik.

#Ketika Udara Jadi Plastik Halus

Mungkin selama ini kita nggak kebayang. Setelah melihat unggahan akun resmi @levoit_indonesia, hal itu membuka realita baru. Ternyata mikroplastik bukan cuma masalah laut dan sampah. Mereka juga mengambang di udara, dihembuskan bersama asap dan debu limbah industri. Ketika partikel-partikel ini terhirup, sebagian bisa menumpuk di paru-paru dan mengganggu sistem pernapasan manusia.

“Mikroplastik nggak cuma dari laut aja, tapi juga dari limbah dan asap yang naik ke udara. Kalau terhirup, bisa ngendap dan ganggu paru-paru kita,” begitu tulis caption dalam unggahan tersebut.

Netizen pun langsung panik massal. Akun @nur_mdv3 berkomentar, “Ngeri banget, apalagi punya anak kecil harus bener² hati² dan wajib banget pakai Levoit air purifier.” Sementara yang lain menambahkan, “Serem bgt, harus sedia Levoit biar udara di rumah fresh dan sehat .”

Yang bikin lucu, di tengah komentar serius itu muncul juga netizen dengan teori survival mode, “Gak apa-apa manusia itu pandai menyesuaikan diri, mungkin ini jalan kita menuju kehidupan baru. Paling ringan kayak zombi lah.” — akun @n29_nurjanah.

Komentar itu semacam sindiran manis buat dunia yang makin absurd. Di satu sisi kita takut polusi, di sisi lain kita berdamai sambil menyalakan purifier dan berharap paru-paru tetap loyal.

Identifikasi mikroplastik pada Sampel udara di 18 Kota Indonesia Mei-Juli 2025. Kota tertinggi adalah Jakarta Pusat disusul Jakarta Selatan, Bandung, Semarang, Kupang, Denpasar, Jambi, Surabaya, Palembang, Pontianak, Aceh Utara, Sumbawa, Palu, Sidoarjo, Gianya, Solo, Bulukumba dan Malang. Grafik diatas menunjukkan bahwa kadar Fragmen 53,26% jenis Fiber 46,14% dan jenis film 0,6% (Sumber: Ecoton, 2025) | Foto: Ecoton

#Dari Hujan Plastik ke Bisnis Udara Bersih

Fenomena hujan mikroplastik ternyata bukan sekadar isu global, tapi sudah menyapa langsung udara Indonesia. Beberapa riset menunjukkan partikel plastik bisa terbawa angin, melayang di atmosfer, lalu jatuh bersama air hujan. Hujan yang dulu dianggap berkah kini ikut membawa serpihan plastik hasil gaya hidup modern.

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) pada Mei–Juli 2025 melakukan penelitian tentang kontaminasi mikroplastik di udara ambien di 18 kota/kabupaten Indonesia.

Hasilnya cukup mencengangkan, lima kota dengan tingkat kontaminasi tertinggi adalah Jakarta Pusat (37 partikel/2 jam/9 cm²), Jakarta Selatan (30), Bandung (16), Semarang (13), dan Kupang (13).

Begitu pun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut memperkuat temuan ini. Menurut M. Reza Cordova, air hujan di Jakarta kini mengandung partikel mikroplastik yang berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka.

Dalam setiap satu meter persegi air hujan, ditemukan 15 partikel mikroplastik berbentuk serat dan fragmen, dengan jenis polimer poliester, nilon, polietilena, polipropilen, dan polibutadien dari ban kendaraan.

Temuan BRIN tersebut sejalan dengan hasil penelitian ECOTON dan SIEJ, yang menempatkan udara Jakarta sebagai wilayah dengan tingkat kontaminasi mikroplastik tertinggi dibandingkan kota-kota lain yang diteliti.

“Tingginya mikroplastik di udara Jakarta berdampak pada kadar mikroplastik dalam air hujan, karena air hujan menyerap material di atmosfer sehingga partikel plastik ikut tertangkap dan larut di dalamnya,” ungkap Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON.

Ia menambahkan, dua jenis mikroplastik dominan yang ditemukan adalah serat (fiber) dan fragmen, di samping jenis filamen yang lebih halus.

Fenomena ini membuat isu udara bersih semakin relevan—dan, tentu saja, membuka peluang bisnis baru. Di tengah keresahan publik soal kualitas udara, Levoit Indonesia masuk dengan narasi khas dunia modern: “solusi cepat dan stylish” lewat air purifier.

Dalam unggahannya di Instagram @levoit_indonesia, mereka menyebut pentingnya penggunaan penyaring udara dengan HEPA filter, yang diklaim mampu menangkap partikel mikroskopis seperti mikroplastik, debu halus, dan polutan udara rumah tangga lainnya.

Di Indonesia, Ecoton sebelumnya juga sudah menemukan mikroplastik di air hujan, sungai, bahkan air minum isi ulang. Semua ini memperlihatkan bahwa partikel kecil itu kini ada di mana-mana—dari laut, ke awan, hingga ke paru-paru manusia.

Dalam konteks itu, unggahan Levoit terasa ironis sekaligus relevan. Di satu sisi, ia memberi edukasi soal bahaya udara yang tak terlihat. Di sisi lain, ia menjual ketenangan lewat teknologi penyaring udara. Udara bersih kini bukan sekadar hak alami, tapi komoditas baru—yang bisa dibeli, dikontrol, dan diukur lewat angka partikel per kubik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Emg paling betul itu pakai Levoit dan wajib punya sih kata aku di rumah masing-masing ,” tulis salah satu netizen di kolom komentar. “Ngeri banget  apalagi punya anak kecil harus bener-bener hati-hati dan wajib banget pakai Levoit air purifier,” tambah akun lainnya.

Sementara di tengah kepanikan itu, komentar seorang warganet bernada sarkas tiba-tiba terasa paling jujur:

“Gak apa-apa manusia itu pandai menyesuaikan diri, mungkin ini jalan kita menuju kehidupan baru. Paling ringan kayak zombi lah.”

Begitulah, di era hujan plastik ini, napas bersih tak lagi gratis. Udara yang dulu bebas kini disaring, dibungkus, dan dijual kembali—dengan tagline menenangkan: “Breathe Better, Live Better.”

 

#Netizen langsung menyambutnya bak wahyu.

“Emg paling betul itu pakai Levoit dan wajib punya sih kata aku di rumah masing-masing ,” tulis akun @cttncndy0.

“Ngeri bgt, sedih litany sudah harus punya @levoit_indonesia air purifier sih ini, biar udara di rumah makin sehat,” tambah @vi._.ana.

Tapi, di sela kepanikan itu, ada satu komentar yang tiba-tiba menohok arah lain: “Semua gara-gara Bahlil.” — tulis @abdzr_adns.

Entah bercanda atau satire, komentar itu seperti menyatukan dua dunia: isu lingkungan dan politik yang memang sering berkelindan. Kalau udara udah tercemar, tinggal tunggu siapa yang disalahkan duluan, menteri, polusi, atau karma industri.

Levoit mungkin tak salah ketika mereka bilang udara rumah harus dijaga. Tapi di balik narasi “bersihkan udara” itu, ada ironi yang lebih besar: manusia sekarang harus membeli alat untuk bisa bernapas bersih di planet yang dulu udaranya gratis.

Isu mikroplastik di udara seharusnya bukan cuma soal “produk penyaring”, tapi juga peringatan keras soal gaya hidup dan produksi plastik berlebihan. Dari bungkus makanan, deterjen, kosmetik, hingga asap pembakaran sampah—semua berkontribusi pada udara yang kini penuh partikel sintetis.

Kita bisa saja beli purifier canggih, tapi kalau kebijakan lingkungan masih longgar, hasilnya tetap seperti bersihkan kamar sambil jendela dibuka ke jalanan berdebu. Udara bersih jadi simbol kelas sosial baru—yang mampu beli filter, bisa bernapas lebih tenang.

Unggahan @levoit_indonesia seolah jadi cermin kecil: di tengah dunia yang makin kotor, kita kini berkompetisi bukan hanya soal mobil listrik atau skincare organik, tapi juga soal siapa yang paling higienis menghirup udara.

Karena di zaman sekarang, napas pun bisa jadi komoditas.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *