Timbunan limbah cangkang kerang di pesisir Kenjeran memperlihatkan ironi ekonomi laut: sumber penghidupan sekaligus ancaman lingkungan akibat pengelolaan yang terhenti dan minim keberlanjutan.
Pesisir Kenjeran di Surabaya sejak lama dikenal sebagai ruang hidup masyarakat nelayan sekaligus pusat aktivitas pengolahan hasil laut. Di kawasan ini, kerang bukan sekadar komoditas pangan, tetapi denyut ekonomi keluarga pesisir. Hampir setiap hari warga membersihkan hasil tangkapan di sekitar permukiman, memisahkan daging dari cangkangnya sebelum dipasarkan.
Namun aktivitas ekonomi yang berlangsung stabil itu menyimpan persoalan yang perlahan membesar. Limbah cangkang kerang terus menumpuk di sepanjang garis pantai, terutama di kawasan Pantai Kenjeran. Hamparan cangkang membentuk lapisan keras yang mengubah kontur alami pesisir. Dalam beberapa titik, tanah pantai bahkan tertutup hampir sepenuhnya oleh sisa produksi tersebut.
Fenomena ini bukan kejadian baru. Penelitian di wilayah Kedung Cowek mencatat, limbah cangkang kerang tidak masuk dalam sistem pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir kota. Akibatnya, limbah dibiarkan menumpuk di sekitar lokasi pengolahan. Produksi kerang yang berlangsung setiap hari membuat jumlah cangkang terus bertambah tanpa mekanisme pengurangan yang jelas.
Data penelitian menunjukkan skala persoalan yang tidak kecil. Studi Asri Sawiji dan Rizqi Abdi Perdanawati pada 2017 memperkirakan timbunan cangkang kerang dari kawasan Nambangan hingga Cumpat mencapai 13.823 ton dengan volume sekitar 14.800 meter kubik. Sementara itu, produksi limbah harian diperkirakan mencapai 2.000–2.500 kilogram per hari.
Angka tersebut menggambarkan satu hal, limbah yang awalnya dianggap sisa biasa telah berubah menjadi tekanan ekologis permanen. Cangkang kerang memiliki sifat sulit terurai secara alami, sehingga penumpukan berlangsung bertahun-tahun. Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya persoalan estetika lingkungan, tetapi juga perubahan fisik kawasan pesisir.
Ironinya, keberhasilan ekonomi masyarakat justru menjadi sumber masalah baru. Semakin tinggi hasil tangkapan, semakin besar pula timbunan limbah yang dihasilkan.

#Lingkungan dan Kesehatan dalam Ancaman Diam
Persoalan limbah cangkang kerang tidak berhenti pada perubahan lanskap pesisir. Dampak lanjutan muncul pada kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sisa bahan organik yang masih menempel pada cangkang menimbulkan bau amis menyengat, terutama saat suhu udara meningkat.
Bau tersebut bukan sekadar gangguan kenyamanan. Penumpukan limbah berpotensi menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit. Debu halus dari pecahan cangkang dapat memicu gangguan pernapasan, sementara kondisi lingkungan lembap meningkatkan risiko penyakit kulit bagi warga sekitar.
Kampung Nelayan Kerang Cumpat menjadi contoh nyata situasi tersebut. Kawasan yang berbatasan langsung dengan laut ini memperlihatkan dua wajah sekaligus: keberlimpahan hasil laut dan kerentanan kesehatan lingkungan. Kapal nelayan bersandar di dekat permukiman, sementara di sisi lain tumpukan cangkang bercampur sampah plastik dan limbah rumah tangga memenuhi tepian jalan.
Dalam wawancara lapangan, seorang warga, Mariyatul (40), mengingat masa ketika limbah sebenarnya pernah dikelola. “Dulu sudah pernah dapat alat penghancur cangkang kerang, tapi sekarang sudah tidak bisa dipakai,” ujarnya. Ia juga menceritakan bahwa cangkang sempat diolah menjadi keramik dan batako, bahkan memiliki pembeli tetap. Namun program tersebut berhenti karena tidak ada keberlanjutan.
Kisah itu menunjukkan pola yang sering berulang dalam pengelolaan lingkungan: program hadir sebagai proyek sesaat, bukan sistem jangka panjang. Ketika alat rusak atau pendampingan berhenti, masyarakat kembali pada cara paling mudah—membuang limbah ke laut.
Masalah menjadi lebih kompleks karena limbah cangkang hadir bersamaan dengan sampah plastik. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau Badan Riset dan Inovasi Nasional mencatat sekitar delapan juta ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahun secara global. Di tingkat lokal, fenomena ini tercermin dari kebiasaan sebagian warga yang memilih membuang sampah langsung ke laut karena minimnya fasilitas pengelolaan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa krisis lingkungan pesisir bukan hanya persoalan perilaku masyarakat, melainkan kegagalan sistem pengelolaan yang tidak hadir secara konsisten.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Dari Limbah Menjadi Sumber Ekonomi Baru
Padahal, penelitian menunjukkan cangkang kerang bukan limbah tanpa nilai. Kandungan kalsium karbonat di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengolahan air, termasuk bio-koagulan untuk proses penjernihan. Studi Evi dan rekan-rekan pada 2020 membuktikan potensi tersebut dalam pengolahan air tanah terpolusi.
Artinya, persoalan di Kenjeran sebenarnya bukan kekurangan solusi, melainkan absennya ekosistem pengelolaan yang berkelanjutan. Limbah dapat berubah menjadi sumber ekonomi baru jika didukung teknologi sederhana, pelatihan, dan akses pasar.
Pendekatan ini juga menjadi bagian dari kegiatan Analisis Kualitas Lingkungan (AKL) yang dilakukan mahasiswa kesehatan masyarakat Universitas Airlangga. Melalui kajian tersebut, kondisi lingkungan dinilai tidak hanya dari aspek ekologis, tetapi juga kesehatan masyarakat. Hasil pengamatan menunjukkan perlunya intervensi terpadu, pengolahan limbah kreatif, fasilitas pengelolaan sampah, serta edukasi lingkungan berkelanjutan.
Mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya melalui komunitas EcoInsight_id juga mencatat, persoalan limbah pesisir sering terjebak dalam dilema klasik. Masyarakat membutuhkan aktivitas ekonomi harian, sementara sistem pengelolaan limbah belum mampu mengikuti laju produksi.
Pendekatan pemberdayaan menjadi kunci. Pengolahan cangkang menjadi bahan bangunan, media filtrasi air, hingga produk kerajinan dapat membuka peluang usaha baru. Jika dikelola secara kolektif, limbah justru dapat meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa merusak lingkungan.
Namun upaya tersebut membutuhkan kehadiran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan secara berkelanjutan. Program bank sampah yang pernah berjalan di Kampung Cumpat, misalnya, berhenti karena kurangnya pendampingan. Padahal, keberhasilan pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada kesinambungan, bukan seremoni sesaat.
Dalam konteks pembangunan kota pesisir, Kenjeran sebenarnya memiliki potensi besar. Kawasan ini dapat menjadi model ekonomi sirkular berbasis hasil laut—tempat di mana produksi, pengolahan, dan pengelolaan limbah berjalan dalam satu sistem.
Masalah limbah cangkang kerang akhirnya memperlihatkan pelajaran penting: krisis lingkungan sering lahir bukan karena masyarakat abai, melainkan karena kebijakan berhenti di tengah jalan. Ketika dukungan teknis dan sosial menghilang, masyarakat kembali pada pilihan paling praktis.
Pesisir Kenjeran hari ini adalah potret ironi pembangunan. Di satu sisi, laut memberi kehidupan. Di sisi lain, sisa dari kehidupan itu sendiri perlahan menekan ruang hidup masyarakat.
Jika pengelolaan limbah tidak segera dibenahi, angka 13 ribu ton timbunan cangkang hanya akan terus bertambah—menjadi monumen diam dari kegagalan mengelola keberlimpahan. Tetapi jika inovasi dan pemberdayaan dijalankan secara serius, cangkang kerang justru dapat berubah menjadi simbol transformasi ekonomi pesisir yang berkelanjutan.***

*) Wahyu Baitullah, mahasiswa Biologi, Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.