Lewati ke konten

World Cleanup Day 2025 di Sidoarjo: Bersih Sehari, Kotor Lagi Seumur Hidup?

| 6 menit baca |Sorotan | 8 dibaca

SIDOARJO – Sidoarjo mendadak lebih ramai dari biasanya pada Sabtu pagi (20/9/2025). Ribuan warga tumpah ruah ke jalan. Ada pelajar dengan seragam olahraga, komunitas pecinta lingkungan, ASN dengan rompi dinas, bahkan emak-emak PKK yang biasanya sibuk arisan pun kali ini kompak memegang karung sampah.

Misi mereka sederhana: memungut sampah. Dari puntung rokok, plastik kopi saset, sampai botol air mineral yang entah sejak kapan tergeletak di selokan. Semua dikumpulkan, ditimbang-timbang, lalu tentu saja difoto rame-rame.

Yes, inilah momen World Cleanup Day (WCD). Gerakan bersih-bersih massal yang digelar serentak di seluruh dunia. Tahun ini, Sidoarjo ikut heboh. Ada panggung sambutan pejabat, drone berputar-putar merekam antusiasme, hingga slogan sakti mandraguna: “Sidoarjo Bersih, Sidoarjo Hebat!”

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sidoarjo, Fenny Apridawati, juga tampil memberi apresiasi. Katanya, kegiatan ini wadah penting untuk membangun kesadaran masyarakat. “Saya minta tolong kegiatan ini tidak hanya sekadar membersihkan, tetapi bagaimana menyadarkan masyarakat,” ucapnya.

Kedengarannya indah, tapi mari jujur sebentar: pidato itu mirip kaset rusak yang diputar ulang tiap tahun. Dialognya sama, endingnya juga ketebak: warga diminta sadar, pejabat difoto angkat sampah, lalu balik ke rutinitas.

 #Jargon Lama, Sampah Tetap Sama

Ingat jargon “Sidoarjo Bebas Sampah 2020”? Apa kabar? Yang bebas justru asap pembakaran liar di kampung-kampung. Sementara TPA Jabon makin menumpuk—tingginya sudah hampir 15 meter, setara gedung lima lantai.

Ada juga bank sampah yang sempat dielu-elukan. Katanya mau jadi solusi partisipatif warga. Nyatanya, banyak yang mandek, jadi papan nama doang, atau cuma tempat setor kardus dan botol bekas. Begitu pengelola bingung modal, Pemkab mendadak hilang, sibuk bikin program baru.

Belum lagi wacana larangan plastik sekali pakai. Bagus di media, tapi di lapangan? Minimarket masih bebas kasih kresek, pasar tradisional malah nggak pernah tersentuh aturan. Hasilnya: jadi berita heboh sesaat, lalu hilang tanpa jejak.

Kalau deretan kegagalan itu diingat, pidato Sekda di panggung jadi mirip re-run sinetron lama. Bedanya, kali ini pemainnya lebih segar, tapi jalan ceritanya tetap basi.

 #Bersih Sehari, Kotor 364 Hari

Kita harus jujur. Aksi bersih-bersih massal memang bagus. Minimal, sehari dalam setahun, warga sadar bahwa sampah itu nyata dan harus diurus.

Tapi persoalan utama bukan di hari itu. Melainkan di 364 hari berikutnya, ketika sampah kembali jadi raja. Besoknya, jalanan depan sekolah penuh plastik bekas jajanan. Kali Porong tetap menerima kiriman sampah rumah tangga plus limbah industri. Sungai-sungai kecil di kampung tetap tersumbat popok bayi sekali pakai.

Pasar tradisional? Jangan tanya. Plastik kresek hitam berserakan bercampur sayur busuk dan sisa ikan asin. Stadion Gelora Delta setiap kali ada laga bola berubah jadi festival plastik dadakan. Bersihnya selalu terlambat.

Pertanyaannya: apakah kita hanya rajin bersih-bersih kalau ada acara seremonial, sementara di hari biasa malah pura-pura lupa?

#Foto Instagram vs Sungai yang Bau

Fenomena lain yang khas: dokumentasi. Tiap kelompok yang ikut WCD pasti punya stok foto melimpah. Ada gaya jongkok sambil pegang sampah, ada pose ala pramuka, sampai selfie dengan ekspresi “aku cinta bumi”.

Di Instagram, Sidoarjo tampak keren: warganya kompak, kotanya bersih, lingkungannya terjaga. Caption pun penuh motivasi: “Mari mulai dari diri sendiri, kecilkan ego, besarkan kepedulian.”

Tapi coba jalan ke pinggir Kali Pelayaran. Yang ketemu justru gunungan sampah plastik. Air cokelat pekat dengan aroma amis menusuk hidung. Media sosial memang jago bikin ilusi, tapi bau busuk sungai tak bisa dihapus pakai filter VSCO.

 #Pemerintah Sidoarjo: Antara Bangga dan PR Besar

Tentu Pemkab bangga dengan gelaran ini. Bupati dan dinas hadir, ikut angkat karung sampah, dan tersenyum ke kamera. Sidoarjo ingin dikenal sebagai kota peduli lingkungan.

Tapi setelah itu, apa?

Faktanya, volume sampah Sidoarjo mencapai ratusan ton per hari. TPA Jabon sudah kewalahan. Kepala UPT TPA Jabon, Hajid Arif Hidayat, menyebut rerata sampah Agustus 2025 mencapai 570 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 40 persen adalah sampah anorganik tanpa nilai ekonomi: popok, styrofoam, kemasan metalizing.

Akhirnya, TPA Jabon jadi museum sampah modern: lengkap dari mie instan sampai popok bayi. Di desa, solusi klasik masih dipakai: bakar sampah di pekarangan, biarpun asapnya bikin sesak napas.

WCD memang penting, tapi jelas bukan solusi. Ia lebih cocok disebut peringatan tahunan ketimbang jawaban nyata.

 #Budaya Buang Sampah: Kita Semua Tersangka

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kalau mau jujur, bukan cuma pemerintah yang salah. Kita juga punya andil besar.

Ada orang yang ikut WCD dengan semangat, tapi sehari setelahnya masih buang bungkus permen dari jendela mobil. Ada yang nyinyir soal banjir di medsos, padahal got depan rumahnya penuh sampah hasil buang sendiri.

Di hajatan desa, plastik sisa nasi kotak berserakan. Di pasar malam, gelas plastik es tebu menumpuk. Di konser dangdut, botol air mineral berseliweran di lantai.

Inilah ironi: bersih-bersih sehari penuh, lalu balik ke kebiasaan lama. Budaya buang sampah sembarangan sudah kayak napas kedua.

 #Sidoarjo Bermimpi Jadi Kota Bersih

Visi besar sudah diumumkan: Sidoarjo ingin jadi kota bersih dan hijau. Bagus. Tapi mimpi butuh konsistensi.

Di Jepang, membuang sampah sembarangan hampir mustahil karena kontrol sosial ketat. Warga disiplin memilah. Salah buang, bisa ditegur tetangga.

Di Sidoarjo? Tong sampah memang ada dua: organik dan anorganik. Tapi isinya sama: campuran segala rupa. Bedanya cuma warna tongnya.

Kalau serius, Sidoarjo perlu sistem: edukasi sekolah, bank sampah aktif di tiap desa, plus aturan yang ditegakkan konsisten. Surabaya sudah mulai. Kenapa Sidoarjo tidak bisa?

 #Industri dan Bonus Limbah

Jangan lupa, Sidoarjo bukan cuma kota hunian. Ada banyak industri: makanan, konveksi, plastik, kimia. Artinya, volume sampah dan limbah juga besar—dan ribet.

Ironisnya, limbah industri jarang tersorot. Apa artinya ribuan warga bersih-bersih kalau tiap hari ada pabrik buang limbah ke sungai? Kali Surabaya sudah berkali-kali berubah warna—kadang hitam, kadang cokelat, aromanya lebih menyengat dari got depan pasar.

Belum lagi soal sampah impor. Menurut Mongabay (Maret 2025), sampah Eropa masih banyak masuk Indonesia, termasuk Jawa Timur. Banyak yang ngakunya bahan daur ulang, tapi faktanya residu tak bisa diolah.

Kalau dipikir, ini tragikomedi. Sidoarjo sudah punya simbol limbah raksasa bernama Lumpur Lapindo, yang sejak 2006 sampai 2025 masih setia menyembur. Bayangkan, kota dengan “kolam limbah nasional” itu masih harus ngurus tumpukan sampah 15 meter di TPA Jabon. Kalau ada kompetisi kota paling tahan banting menghadapi limbah, Sidoarjo mungkin juara dunia.

 #Antara Harapan dan Kenyataan

Meski begitu, jangan buru-buru pesimis. Acara seperti WCD tetap bermanfaat. Minimal jadi ajang edukasi massal. Anak sekolah bisa belajar: bumi tak otomatis bersih sendiri, perlu usaha.

Namun, kita harus realistis. Kalau tak ada tindak lanjut, WCD hanya akan jadi festival tahunan. Indah di foto, heroik di media, tapi gagal jadi solusi.

 #Dari Meme ke Aksi Nyata

Mungkin sudah saatnya berhenti menjadikan kebersihan sebagai momen tahunan. Kalau benar peduli, mari mulai dari hal kecil: bawa tumbler, kurangi plastik sekali pakai, dukung bank sampah di RT, atau minimal jangan buang sampah sembarangan.

Kalau tidak, kita hanya akan terus jadi bahan meme:

“Orang Indonesia kalau ada World Cleanup Day: heroik. Kalau tidak ada: malas ngurus sampah sendiri.”

Dan jujur saja, meme itu kadang lebih tajam daripada pidato pejabat.***

 

Masta’in, jurnalis tinggal di Sidoarjo berkontribusi atas penulisan artikel ini | Penyunting & Editor: Supriyadi

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *