Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Ketika Sampah Tak Lagi Diabaikan

| 4 menit baca |Sorotan | 52 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Muhammad Faizul Adhim Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Zero Waste Academy ECOTON di Desa Wringinanom memperlihatkan pengelolaan sampah berbasis warga bukan utopia, melainkan kerja kolektif yang tumbuh dari edukasi dan keteladanan.

Persoalan sampah di Indonesia kerap hadir sebagai masalah yang berulang, tetapi jarang ditangani hingga ke akar. Dari rumah tangga hingga tempat pemrosesan akhir, rantai persoalan sampah hampir selalu menyisakan celah: minimnya pemilahan, lemahnya edukasi, dan rendahnya keberpihakan kebijakan.

Para peserta saling berbagi pengalaman dalam mengelola sampah. Upaya yang dilakukan tak selalu berjalan mulus, sebagian masih terhambat oleh minimnya dukungan pemerintah daerah. | Foto: Faiz

Lembaga Kajian Lahan Basah, Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) telah lama menempatkan isu sampah sebagai salah satu fokus utama gerakannya. Ratusan kegiatan edukasi, advokasi, hingga kolaborasi lintas komunitas telah dijalankan. Namun, bagi ECOTON, perubahan nyata justru lahir ketika praktik baik tumbuh dan dirawat langsung oleh warga.

Momentum itu terlihat pada Rabu (28/1/2026), saat ECOTON membuka Zero Waste Academy di TPS3R Desa Wringinanom, Kabupaten Gresik.

Sejak pagi, peserta yang terdiri dari berbagai daerah – Surabaya, Malang, Kediri, Batu, Jombang, Tulungagung – berdatangan dengan satu tujuan, yakni belajar langsung dari desa yang berhasil mengelola sampah dari sumbernya.

Zero Waste Academy 2026 dibuka Direktur ECOTON Foundation, Dr Daru Setyo Rini, M.Si, bersama Camat Wringinanom Arditra Risdiansah, Kepala Desa Wringinanom Yoko, serta Ketua KSM TPST 3R Wringinanom Abdul Rokhim.

Dalam sambutannya, Daru menegaskan krisis sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan di hilir, seperti pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA). Menurut dia, perubahan harus dimulai dari sumber, yakni rumah tangga.

“Zero Waste Academy dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas sektor. Kami ingin pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pengelola TPS 3R belajar langsung dari praktik nyata, bukan sekadar teori,” ujar Daru.

#Belajar dari Rumah ke Rumah

Alih-alih memulai kegiatan di ruang kelas, peserta diajak menyusuri desa dan mengunjungi rumah-rumah warga yang telah terbiasa memilah sampah. Di titik inilah banyak peserta mengaku terkejut.

Warga Wringinanom tidak hanya bersedia memilah sampah, tetapi juga rutin membayar iuran pengelolaan. Praktik ini kontras dengan pengalaman sebagian peserta di daerah lain.

“Saya kaget melihat warga di sini mau memilah dan iuran. Di tempat saya, TPS Jalibar Kota Batu, mengajak warga memilah itu sangat sulit,” ujar Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati.

Ia menambahkan, bahkan di lingkungan warga mampu, iuran sampah kerap dianggap formalitas tanpa disertai kesadaran memilah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengelolaan sampah bukan semata soal fasilitas, melainkan proses edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

Usai pembukaan, peserta diajak mengunjungi rumah-rumah warga di Desa Wringinanom yang telah menerapkan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

Praktik ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara sederhana dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Salah satu warga, Titin, menyebut kebiasaan memilah sampah justru memudahkan aktivitas sehari-hari. “Memilah sampah itu mudah dan menguntungkan. Kami juga mendapat diskon untuk membeli produk refillin tanpa plastik sekali pakai,” katanya.

Dari rumah warga, peserta kemudian belajar langsung di TPST 3R Wringinanom. Mereka mempelajari alur pemilahan sampah spesifik, sistem pengolahan, hingga pencatatan administrasi. Salah satu metode yang menarik perhatian adalah teknologi pengomposan sederhana menggunakan lubang tanah, yang dinilai murah dan mudah diterapkan di desa.

Perwakilan DLH Kota Batu, Eni Maulida, menilai metode tersebut relevan untuk banyak daerah. “Teknologinya sederhana, biayanya rendah, tetapi dampaknya besar karena mampu mengurangi sampah yang berakhir di TPA,” ujarnya.

Pegawai TPS3R Wringinanom tampak sibuk bekerja mengelola dan memilah sampah, memastikan proses berjalan efektif dari sumber hingga pengolahan. | Foto: Faiz

#Keteladanan yang Menular

Cerita berbeda datang dari peserta asal Kota Kediri. Ketua RT di Kelurahan Mrican, Kota Kediri, Fitri Yunita, menceritakan bagaimana perubahan bisa dimulai dari satu rumah.

“Awalnya saya mengolah sampah sendiri. Sampah organik saya jadikan kompos, lalu dipakai untuk menanam sayur. Warga jadi penasaran karena melihat manfaatnya langsung,” ujarnya.

Dari keteladanan sederhana itu, kebiasaan memilah perlahan menyebar ke lingkungan sekitar.

Semangat serupa ditunjukkan Jayatun, warga Desa Wringinanom yang rumahnya menjadi salah satu lokasi kunjungan. Meski kesehariannya menjaga warung kopi, ia konsisten menyediakan tempat sampah terpilah untuk pelanggan.

“Saya memang suka memilah sampah. Lumayan buat menghibur diri di rumah,” katanya sambil tersenyum. Ia juga berkomitmen menjaga agar sampah di depan rumahnya tidak tercampur, meski berasal dari pengunjung warung.

Zero Waste Academy 2026 menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan semata urusan teknis, melainkan proses sosial yang membutuhkan ketekunan dan keteladanan.

Dari Wringinanom, peserta belajar bahwa perubahan dimulai dari individu yang mau mencoba, lalu menular menjadi gerakan bersama.

Dalam isu lingkungan, kegagalan sering kali hadir lebih dulu. Namun, seperti yang ditunjukkan warga Wringinanom, keberhasilan berpihak pada mereka yang memilih bertahan, belajar, dan terus bergerak, bahkan dari hal yang kerap diabaikan, yakni sampah.***

Muhammad Faizul Adhim, mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan, Angkatan 2023 Universitas Negeri Malang yang tengah menjalani studi independen di Ecoton, berkontribusi dalam artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *