Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Komitmen Bersama Hadapi Krisis Sampah

| 4 menit baca |Ekologis | 26 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Zero Waste Academy 2026 mempertemukan pemerintah daerah, desa, dan organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber di wilayah DAS Brantas.

Krisis sampah yang kian memburuk di berbagai daerah kembali menjadi sorotan dalam hari kedua Zero Waste Academy (ZWA) 2026 yang digelar ECOTON Foundation di Hotel Lotus, Kota Kediri, Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini diikuti perwakilan dari 12 kabupaten dan kota di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Jawa Timur.

Kepala DLHKP Kota Kediri Indun Munawaroh, Asisten II Sekretariat Daerah Kota Kediri Heri Purnomo, dan Direktur ECOTON Dr Daru Setyorini, MSi, hadir dan berdiskusi dalam rangkaian Zero Waste Academy 2026 di Kota Kediri. | Foto: Kurnia Rahmawati

Sebelumnya, peserta mengikuti pembelajaran lapangan di TPS3R Wringinanom, Kabupaten Gresik, untuk melihat praktik pengelolaan sampah berbasis sumber di tingkat desa. ZWA 2026 menjadi pelatihan pertama yang digelar ECOTON dengan melibatkan pemerintah daerah, pengelola TPS3R, serta pemangku kepentingan desa dari 12 wilayah di Jawa Timur.

Direktur ECOTON, Dr Daru Setyorini, MSi, menegaskan, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di hilir melalui proyek-proyek besar bernilai miliaran hingga triliunan rupiah. Menurut dia, pembenahan harus dimulai dari hulu, yakni dari perubahan pola produksi, konsumsi, dan penanganan sampah di tingkat sumber.

“Kondisi darurat sampah terjadi hampir di seluruh Indonesia. Jika hanya mengandalkan teknologi di hilir, biayanya akan sangat besar. Padahal, pengendalian timbulan sampah—terutama sampah organik—bisa dilakukan dari rumah tangga,” kata Daru.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah sejatinya juga menyangkut nilai etika dan moral. Dalam berbagai ajaran agama, termasuk Islam, pemborosan dan perusakan lingkungan merupakan hal yang dilarang.

#Kolaborasi Daerah dan Jaringan NGO

Dalam pelatihan ini, ECOTON menggandeng Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), sebuah jaringan yang terdiri atas sembilan organisasi nonpemerintah (NGO) nasional. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat tata kelola pengelolaan sampah berbasis prinsip reduce, reduce, reduce, kemudian reuse, baru recycle, serta mendorong tanggung jawab produsen dalam rantai produksi dan konsumsi.

ECOTON juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Gresik yang dinilai telah memiliki kebijakan dan forum koordinasi pemangku kepentingan pengelolaan sampah, sehingga komunikasi lintas sektor dapat berjalan lebih efektif. Selain itu, Pemerintah Kota Kediri turut memberikan sambutan dan dukungan terhadap pelaksanaan ZWA 2026.

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Kediri, Heri Purnomo, menyatakan, isu pengelolaan sampah memang menguras energi banyak pihak, termasuk di Kota Kediri sendiri.

“Masalah sampah selalu berulang dari tahun ke tahun. Pertanyaannya, seperti apa pengelolaan sampah yang ideal dan bisa diterapkan sesuai karakter daerah?” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menurut Heri, tantangan terbesar bukan semata pada teknologi, melainkan pada pola pikir masyarakat. “Otak kita sering dijejali hitung-hitungan untung rugi ala kapitalisme. Padahal, peran terbesar ada pada kesadaran bersama, termasuk aparatur dan pegawai pemerintah,” kata dia.

Komitmen bersama memperkuat tata kelola sampah ditunjukkan oleh Kepala DLHKP Kota Kediri Indun Munawaroh, Asisten II Setda Kota Kediri Heri Purnomo, dan Direktur ECOTON Dr Daru Setyorini, MSi, di sela kegiatan Zero Waste Academy 2026. | Foto: Kurnia Rahmawati

#Kediri dan Tantangan Timbulan Sampah

Heri juga memaparkan kondisi pengelolaan sampah di wilayahnya. Sepanjang 2025, total timbulan sampah di Kota Kediri tercatat mencapai 41.261 ton, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 36.480 ton.

Selain sampah organik, sampah plastik masih menjadi persoalan serius. Persentasenya diperkirakan berada di kisaran 25 hingga 30 persen dari total timbulan sampah. Setiap hari, Kota Kediri menghasilkan sekitar 160 hingga 167 ton sampah dengan dinamika yang cukup tinggi.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Indun Munawaroh, mengatakan saat ini, Kota Kediri memiliki 38 unit TPS3R yang berperan dalam pengurangan dan pengolahan sampah.

Tingkat reduksi sampah yang berhasil dicapai berada di kisaran 17 hingga 20 persen. Artinya, sekitar 32 ton sampah per hari masih berpotensi untuk direduksi lebih lanjut jika pengelolaan di tingkat sumber diperkuat.

“Kota Kediri memang kecil, tapi selalu ngangeni. Jarak dekat, biaya hidup terjangkau. Namun tantangan sampah tetap besar. Karena itu, diskusi pengurangan dan pengelolaan sampah harus terus dilakukan,” ujar Indun.

ZWA 2026 juga dihadiri perwakilan dinas lingkungan hidup dan badan perencanaan pembangunan daerah (Bappeda) dari sejumlah wilayah, antara lain Kota Batu, Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang, Kota Surabaya, dan Kabupaten Sidoarjo.

Ke depan, peserta dijadwalkan mengunjungi kawasan zero waste di Kelurahan Mrincan, Kota Kediri, untuk mempelajari pendekatan daur hidup sampah secara langsung. ECOTON berharap, pembelajaran ini dapat direplikasi di daerah masing-masing sebagai bagian dari upaya menuju pengelolaan sampah yang adil dan berkelanjutan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *