Lewati ke konten

530 Ton Sampah Sehari: Jombang Nyaris Jadi Museum Terbuka Aroma Tak Sedap

| 3 menit baca |Sorotan | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

JOMBANG – Kalau ada lomba kabupaten paling produktif menghasilkan sampah, Jombang di Jawa Timur ini tampaknya bisa masuk tiga besar. Setiap hari, bumi santri ini menyumbang sekitar 530 ton sampah—angka yang bikin ngeri sekaligus membingungkan.

Bukan karena volume sampahnya, tapi karena hanya 157 ton yang berhasil dikelola. Sisanya? Ya, menumpuk manis di TPA Gedangkeret, Desa Banjardowo. Tempat yang barangkali sudah pantas dijadikan cagar budaya “pengabdian tanpa akhir kepada plastik dan sisa makanan.”

#Dari “Beriman dan Bertaqwa” ke “Berminyak dan Berbau”

Sekretaris DLH Jombang, M. Amin Kurniawan, bilang, kondisi ini “hampir sama dengan tahun lalu”. Artinya, bukan makin baik, tapi sudah terbiasa. Dan seperti banyak hal di birokrasi kita, yang penting stabil.
Tak ada peningkatan signifikan jumlah penduduk, tapi volume sampahnya tetap luar biasa. Entah karena masyarakat makin konsumtif, atau karena pemerintah makin hemat solusi.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Jombang, M. Syarif Hidayatulloh alias Gus Sentot, ikut angkat suara. Ia mendorong agar Pemkab mencari solusi konkret, bahkan kalau bisa, “mengolah sampah jadi energi terbarukan.”
Wah, keren. Tapi kita semua tahu, di republik ini, istilah “energi terbarukan” sering kali cuma berarti “rencana yang diulang-ulang”.

#TPA: Tempat Penimbunan Angan

Sebenarnya, TPA Gedangkeret bukan sekadar tumpukan sampah. Ia adalah monumen diam dari kebijakan setengah hati. Truk-truk datang saban hari, membawa sisa kehidupan warga kota—bungkus mi instan, botol air mineral, dan janji-janji kampanye yang ikut terurai.

TPA itu kini ibarat perut birokrasi: menampung apa saja tanpa proses pencernaan. Pemerintah bilang “masih dalam pengelolaan”, tapi faktanya, sebagian besar hanya dipindah dari bak ke bukit.

Lucunya, jargon pengelolaan sampah berbasis desa juga sudah digaungkan lama. Tapi di lapangan, yang berbasis itu justru kebiasaan buang sampah ke sungai. Sungai yang mestinya sumber kehidupan, kini jadi perpanjangan tangan dari bak sampah rumah tangga.

#Ketika Sampah Lebih Konsisten dari Kebijakan

Coba piker, 530 ton per hari berarti lebih dari 190 ribu ton per tahun. Itu bukan angka kecil. Kalau sampah-sampah itu bisa bicara, mungkin mereka akan protes karena sudah bosan ditumpuk tanpa arah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Namun, di tengah semua itu, yang paling ironis justru ini, Sampah di Jombang ternyata lebih konsisten dari kebijakan pengelolaannya. Ia datang setiap hari, tepat waktu, tanpa menunggu rapat koordinasi lintas sektor.

Gus Sentot benar, SDM harus ditambah dan desa harus dilibatkan. Tapi tanpa niat politik yang benar-benar sampai akar, kita cuma ganti istilah dari “penumpukan” jadi “penataan”. Dari bau jadi aroma pembangunan berkelanjutan.

#Energi Terbarukan dari Kata-kata Lama

Sampah, kalau dikelola, bisa jadi energi. Tapi kalau tidak, ia jadi simbol:
bahwa kita pandai bicara tentang masa depan hijau, tapi lupa menyingkirkan plastik dari belakang rumah.
Bahwa setiap kali kita menutup hidung di dekat tumpukan sampah, yang sebenarnya bau bukan hanya sisa makanan—tapi juga sistem yang tak pernah benar-benar bersih.

Kalau kata warga setempat, “Kalau bau bisa dijadikan listrik, Jombang sudah terang dari dulu.”

Dan mungkin, mereka tidak sepenuhnya salah.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *