SEBENARNYA, tiga, dua, atau bahkan satu tahun lalu, Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) sudah berteriak sekeras-kerasnya: “Hei, mikroplastik berbahaya!”
Tapi ya, seperti biasa, suara sains sering kalah nyaring dari suara mesin politik dan industri.
Waktu itu, banyak yang menanggapinya seperti lelucon. Mikroplastik? Ah, itu kan cuma plastik kecil. Tapi sekarang, plastik itu sudah ada di mana-mana, di sungai, di laut, di udara, di piring makan, bahkan di dalam tubuh kita sendiri.
Sementara kekuasaan masih sibuk berdebat soal ekonomi hijau dan investasi hijau, tubuh manusia pelan-pelan berubah jadi landfill biologis.
#Dari Sungai ke Paru-Paru: Jalur Karier Mikroplastik
Dulu mikroplastik dianggap urusan laut. Tapi hasil Ekspedisi Sungai Nusantara membuktikan, hampir semua sungai besar di Indonesia sudah “beraroma plastik”. Dari Sungai Brantas, Citarum, sampai Mahakam, semuanya membawa partikel plastik yang ujungnya entah ke laut, atau… ke lambung kita sendiri.
Yang lebih gawat, 80% air sungai di Indonesia digunakan sebagai bahan baku air minum PDAM. Jadi bisa dibilang, setiap tegukan air adalah cheers kecil dengan partikel plastik. Minum air putih terasa sehat, tapi siapa sangka, ada plastik mikro yang ikut numpang masuk ke tubuh kita.
“Kami menemukan mikroplastik di hampir semua sampel air sungai yang diuji. Partikel-partikel ini berukuran sangat kecil, bahkan lebih kecil dari diameter rambut manusia, dan bisa dengan mudah masuk ke tubuh lewat air minum maupun udara yang kita hirup,” ungkap Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium ECOTON, dalam sebuah wawancara.
Tak berhenti di situ, Rafika juga menambahkan, “Tiap orang Indonesia berpotensi menghirup sekitar 90 partikel mikroplastik per jam. Bayangkan kalau dikalikan sehari, seminggu, atau setahun, tubuh kita bisa jadi tempat penampungan plastik mini tanpa sadar.”
Jadi kalau kamu merasa napasmu agak plastik-plastik gitu, bukan perasaanmu saja. Bisa jadi, udara yang kamu hirup memang sedang menawarkan bonus partikel polimer di setiap hembusannya.

#Makan Plastik Setiap Bulan, Gratis Tanpa Sadar
Menurut data Environmental Science & Technology (2024), masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi 15 gram mikroplastik per bulan. Itu setara dengan ukuran satu kartu ATM — kecil sih, tapi coba bayangkan kalau tubuhmu benar-benar menelan satu kartu plastik setiap 30 hari. Bedanya, saldo yang berkurang bukan di rekening, tapi di kesehatan.
“Sumbernya dari mana?” tanya Rafika. “Dari ikan yang sudah menelan plastik, dari air yang disaring PDAM, dari udara penuh debu plastik, bahkan dari sabun muka yang masih mengandung microbeads. Semua itu akhirnya kembali ke tubuh manusia.”
Tak heran, 80% ikan konsumsi di Indonesia, termasuk Mujair, Nila, Bandeng, Bader, hingga Wader, sudah positif mengandung mikroplastik. Dalam setiap gigitan pepes ikan, ada kemungkinan kamu sedang menelan sisa-sisa kantong plastik, sedotan, atau serpihan kemasan deterjen yang hanyut dari sungai.
“Kami menemukan partikel plastik di saluran pencernaan sebagian besar ikan air tawar yang dijual di pasar tradisional,” kata Rafika lagi. “Dan kalau plastik itu ada di perut ikan, maka sangat mungkin sebagian ikut masuk ke tubuh manusia saat ikan dikonsumsi tanpa pembersihan sempurna.”
Jadi, kalau kamu sedang bangga makan makanan lokal hasil tangkapan nelayan, ingatlah: yang lokal bukan cuma ikannya, tapi juga plastiknya. Sebuah kolaborasi tanpa batas antara manusia, industri, dan sampah.

#Tubuh Manusia: Museum Plastik Gratis
Yang paling menakutkan bukan hanya mikroplastik ada di luar tubuh, tapi juga di dalam. Penelitian terbaru menemukan partikel plastik di darah, ASI, cairan ketuban, urin, dan feses manusia.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBahkan di otak dan testis. Mikroplastik terdiri dari lebih 14.000 bahan kimia, termasuk senyawa EDC (Endocrine Disruption Compound), zat yang bisa mengacaukan hormon dan sistem imun. Ia bisa meniru kerja hormon, mengubah sinyal kimia tubuh, dan menyebabkan gangguan reproduksi.
Sifatnya yang suka menempel membuat mikroplastik ini jadi semacam GrabCar bagi polutan lain: logam berat, bahan kimia organik, bahkan racun berbahaya. Mereka numpang di tubuh kita lewat proses bioakumulasi (menumpuk di jaringan) dan biomagnifikasi (naik level di rantai makanan).

#Saatnya Negara Tidak Ikut-Ikutan Jadi Plastik
Artinya, semakin tinggi kamu di rantai makanan, semakin plastik pula dirimu. Tapi jangan khawatir, bukan cuma individu yang berpotensi jadi plastic, negara juga bisa, kalau terus kaku dan tak mau bergerak.
Cerita Daru Setyarini, Direktur ECOTON, jadi pengingat bahwa lembaga ini tidak berhenti hanya pada riset atau kampanye viral di media sosial. “Kami mengusulkan penetapan Baku Mutu Mikroplastik, semacam standar batas aman kandungan plastik dalam air, udara, dan makanan. Karena kalau kita tidak tahu batasnya, bagaimana bisa melindungi masyarakat dari paparan?” ujarnya.
Langkah konkret itu tidak asal diserahkan, tapi diarahkan langsung ke empat lembaga kunci:
Komisi IV DPR RI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Masing-masing punya peran vital, mulai dari membuat regulasi, mengawasi implementasi, hingga melindungi kesehatan publik dari ancaman mikroplastik yang kini sudah sampai ke darah manusia.
Usulannya pun sangat jelas dan masuk akal:
- Pemerintah wajib menguji kadar mikroplastik di air sungai, bahan baku PDAM, ikan konsumsi, dan udara.
- PDAM harus transparan dalam laporan kadar mikroplastik pada air yang didistribusikan ke masyarakat.
- Industri kosmetik harus menghentikan penggunaan microbeads, partikel kecil yang jadi sumber mikroplastik primer.
- Dan yang tak kalah penting, dibentuk Badan Penanggulangan Mikroplastik Nasional, supaya pengawasan tak cuma berhenti di seminar dan konferensi.
“Kita butuh lembaga yang benar-benar punya taring, yang bisa menindak, bukan sekadar meneliti,” tambah Daru.
Negara lain seperti Korea Selatan dan California (AS) sudah lebih dulu menetapkan standar baku mutu mikroplastik. Sementara itu, Indonesia, penyumbang polusi plastik ke-3 di dunia, masih sibuk debat data dan definisi.
Kalau pemerintah terus diam, jangan kaget kalau evolusi berikutnya bukan tentang kecerdasan buatan, tapi tentang manusia berbahan plastik alami.
Dan kalau itu terjadi, mungkin nanti di kartu identitas kita, kolom “golongan darah” akan berubah menjadi “jenis polimer”.
ECOTON sudah mengingatkan sejak lama, tapi suara mereka tenggelam di antara tumpukan limbah dan kepentingan. Kini, ketika mikroplastik sudah masuk sampai ke darah, mungkin baru kita sadar: bukan cuma laut yang tercemar, tapi juga nurani.***