Lewati ke konten

Semeru Meletus Dahsyat, Status Awas dan Pendaki Ranu Kumbolo Berebut Keluar dari Zona Merah

| 5 menit baca |Ekologis | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

Dalam hitungan jam, Semeru melonjak dari Siaga ke Awas dan memuntahkan awan panas sejauh 13 kilometer. Warga berlarian mengungsi, sementara 187 pendaki terjebak di Ranu Kumbolo tanpa sinyal dan tanpa tahu gunung sedang bererupsi. Mereka harus mengambil keputusan paling genting: turun saat itu juga, atau menunggu risiko datang.

#Semeru Bangkit Mengerikan dan Status Melompat ke Level Awas

Beberapa pria membawa barang bawaan di tengah erupsi Gunung Semeru, berusaha menyelamatkan harta yang masih bisa dibawa. | ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya

GUNUNG Semeru di Jawa Timur bergejolak hebat pada Rabu (19/11/2025). Aktivitas vulkaniknya meningkat drastis dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) hanya dalam beberapa jam—status tertinggi gunung api di Indonesia. Erupsi besar sedang terjadi dan data kegempaan mencerminkan intensitasnya.

Selama enam jam pada Jumat pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat 45 gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10–22 mm dan durasi 58–184 detik. Selain itu, lima kali gempa tektonik jauh juga muncul dengan amplitudo 4–8 mm dan durasi 25–53 detik.

“Untuk pengamatan kegempaan tercatat 45 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10–22 mm, dan lama gempa 58–184 detik,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Rudra Wibowo, yang disampaikan kepada Kompas, Jumat (21/11/2025).

Ia menambahkan bahwa asap kawah tidak teramati karena cuaca mendung dan tertutup kabut. “Semeru juga mengalami lima kali gempa tektonik ini menegaskan peningkatan aktivitas,” ujarnya.

Letusan dahsyat memuntahkan material hingga 2.000 meter ke udara, lalu awan panas guguran melesat 13 kilometer ke arah tenggara dan selatan. Ratusan warga langsung dievakuasi. BNPB mencatat tiga desa terdampak: Supit Urang dan Oro-Oro Ombo (Kecamatan Pronojiwo) serta Penanggal (Kecamatan Candipuro).

#Zona Larangan 20 Kilometer dan Sungai yang Berubah Jadi Jalur Bahaya

Karena status Awas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan larangan keras aktivitas manusia di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 20 kilometer dari puncak. Bahkan di luar radius itu, masyarakat tak boleh berada 500 meter dari tepi sungai karena lahar dan awan panas bisa meluas sewaktu-waktu.

“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” kata Rudra kepada BBC Indonesia.

Ia menekankan bahwa potensi awan panas, guguran lava, dan lahar harus diwaspadai di seluruh aliran sungai berhulu Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Dengan hujan masih turun di area lereng, risiko lahar meningkat. Sungai-sungai kecil—anak Besuk Kobokan—disebut dapat berubah menjadi jalur material vulkanik dalam hitungan menit.

Briefing keselamatan digelar sebelum rombongan pendaki dan kru meninggalkan Ranu Kumbolo yang sudah masuk zona merah—keselamatan adalah prioritas utama dalam setiap kondisi gunung api aktif. | Dok. TNBPTS

#187 Pendaki Terjebak di Ranu Kumbolo Tanpa Mengetahui Erupsi

Sementara lembah dan pemukiman panik, situasi tak kalah genting terjadi enam kilometer di utara Semeru: 187 orang sedang berada di area Danau Ranu Kumbolo. Mereka terdiri dari 129 pendaki, petugas TNBPTS, porter, serta pendamping PPGST.

Rizky Ardiansyah, pendamping PPGST, menggambarkan awal pendakian tampak normal. “Kita menikmati perjalanan… cuma dalam perjalanan sering gerimis, reda, gerimis lagi, reda,” ujarnya.

Rombongan berjalan bersama petugas TNBPTS Rudi Budi Doyo, yang memastikan tak ada tanda erupsi. “Waktu itu semuanya normal, tidak ada tanda-tanda Semeru akan meletus,” kata Rudi.

Tanda bahaya pertama justru bukan letusan, melainkan longsor di jalur Pos 2 Blok Watu Rejeng. Mereka mempercepat langkah untuk menghindar. Di tengah hujan semakin deras, petugas lapangan Budi alias Cak Benjor maju lebih dulu. Ia bertugas memeriksa panel surya yang menjadi sumber internet—jantung komunikasi darurat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Saat mencapai Tanjakan Cinta sekitar pukul 15.00, panel surya tak bekerja karena kabut pekat. “CCTV mati, jaringan mati… panel tidak terisi,” jelas Budi.

Pada saat itu petir menyambar langit, menutupi suara letusan Semeru. “Ada suara geledek, jadi kalaupun ada suara letusan kami kira itu suara geluduk,” kata Rudi mengenang momen yang ternyata bersamaan dengan erupsi besar.

#Sinyal Aktif, Panik Muncul, dan Perlombaan Melawan Waktu

Budi bergegas kembali ke basecamp Ranu Kumbolo dan menyalakan genset cadangan. Bar sinyal muncul, dan layar ponsel mulai penuh pemberitahuan—termasuk kabar resmi Semeru erupsi. Petugas lalu mendapat instruksi awal: semua pendaki harus turun ke Ranupani demi keamanan.

Saat itu 60 pendaki telah sampai di Ranu Kumbolo bersama tujuh pemandu dan 15 porter, sementara yang lain masih di jalur pendakian. Evakuasi awal direncanakan dengan tenang. Namun pukul 17.00, kabar lebih buruk datang: status Semeru naik ke Level IV — Awas.

“Kami dihubungi lagi, status Semeru naik ke level 4. Level Awas,” ujar Budi. Panik tak bisa dihindari, sebab informasi hanya diketahui petugas—pendaki lain tidak memiliki akses sinyal.
Petugas mendiskusikan strategi paling masuk akal:

  • menunggu seluruh pendaki berkumpul dengan risiko semakin larut dan semakin dekat ke bahaya, atau
  • mulai turun bertahap dalam kondisi hujan, kabut, dan jalur licin—tetapi masih ada waktu.

Keputusan turun secara rombongan terorganisir akhirnya diambil. Pendaki diminta rapat, mengikuti instruksi pemandu, tidak berlari, dan menghindari titik longsor sebelumnya. Nyawa menjadi taruhan bagi setiap langkah.

#Semeru Kembali Bergolak, Warga Diminta Menjauh

Dalam laporan Sabtu (22/5/2025) dini hari, Badan Geologi mencatat embusan asap pertama terjadi pada pukul 00.10 WIB. Cuaca di sekitar kawasan berubah-ubah dari cerah hingga hujan, dengan angin bertiup lemah ke arah tenggara dan selatan. Suhu tercatat stabil di kisaran 21–24 derajat Celsius ketika aktivitas vulkanik mulai meningkat.

Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang kembali memperlihatkan gejolak. Embusan asap setinggi kurang lebih 1.000 meter membubung dari puncak, terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih muncul dengan intensitas sedang hingga tinggi—pertanda aktivitas vulkanik sedang bekerja tanpa henti.

Aktivitas kegempaan juga mempertegas situasi. Badan Geologi merekam 157 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10–22 mm dan durasi 58–185 detik. Selain itu, terekam 17 gempa guguran, 19 gempa hembusan, satu gempa vulkanik dalam, enam gempa tektonik jauh, serta satu gempa getaran banjir dengan amplitudo 43 mm dan durasi mencapai 6.499 detik—durasi yang terbilang lama untuk ukuran getaran banjir.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah mengeluarkan imbauan tegas. Masyarakat diminta tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 20 kilometer dari puncak. Di luar jarak itu, warga tetap diminta menjauhi sempadan sungai minimal 500 meter, mengingat potensi awan panas dan lahar bisa meluncur sewaktu-waktu tanpa tanda awal yang jelas.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *