Lewati ke konten

Hindari Ancaman Mikroplastik dalam Darah, ECOTON Ajak Warga Surabaya dan Jatim Kurangi AMDK

| 5 menit baca |Mikroplastik | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Di tengah lalu lintas Surabaya yang sibuk, sekelompok aktivis muda membentang poster besar, ajakan berhenti memakai air minum dalam kemasan. Temuan 23 bahan kimia plastik berbahaya dalam darah pemulung di Kabupaten Gresik menyalakan  pertanda keras. Dari Mulyorejo, seruan perubahan menggelinding, menantang budaya plastik sekali pakai.

#Seruan di Perempatan: Ketika Poster Bicara Lebih Keras dari Klakson

Di simpang jalan besar Mulyorejo, Surabaya, siang itu  memang tidak sedang turun hujan. Dua puluh aktivis dari ECOTON, GrowGreen, dan River Warrior,  serta mahasiswa Unair Kampus C tetap berdiri tegak. Poster-poster mereka  yang bertulisankan “Stop AMDK!”, “Plastik Bukan Teman Minum!”, “Selamatkan Darah Kita dari Racun!”.

Pesan yang tentu saja memotong kebisingan kendaraan seperti pisau. Sebagian pengendara memperhatikan dan mencari tahu.  Namun Alaika Rahmatullah dari Ecoton segera mengambil pengeras suara untuk menjelaskan.

Temuan 23 bahan kimia plastik berbahaya dalam darah pemulung Gresik jadi alarm keras. Ecoton menyerukan: hentikan ketergantungan pada AMDK dan plastik sekali pakai, demi kesehatan manusia dan lingkungan. | Foto: Ecoton

Dengan suara tegas, tak terburu, tapi cukup dalam untuk membuat pengendara menoleh. “Temuan senyawa kimia plastik dalam darah pemulung di Gresik itu peringatan keras. Kalau mereka terpapar, kita bisa juga. Hentikan penggunaan air minum dalam kemasan plastik,” ujarnya.

Alaika menjelaskan sambil sesekali menunjuk botol plastik bekas di tangannya, sebuah ironi kecil yang ia gunakan sebagai alat peraga.

“Lima puluh persen polimer mikroplastik dalam darah para pemulung itu PET dan ftalat, dua bahan utama pembuat botol AMDK. Jadi setiap kali kita minum dari botol plastik, ada risiko kecil yang lama-lama jadi besar,” tambahnya.

Di sampingnya, mahasiswa Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, Anjar Aji, ikut menggemakan suara.

“Botol plastik itu perjalanan panjang masalah. Benda ini mengotori sungai, memadati laut, lalu kembali ke tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik. Sudah saatnya Surabaya dan Jawa Timur menghentikan plastik sekali pakai, terutama botol air minum,” katanya lantang.

Poster-poster yang mereka bentangkan bukan sekadar ajakan ramah lingkungan. Itu tuntutan mendesak, terutama setelah riset terbaru mengungkap fakta yang terlalu berbahaya untuk diabaikan.

Aksi di Perempatan Mulyorejo Surabaya: aktivis dan mahasiswa menyerukan stop AMDK. PET, ftalat, dan senyawa berbahaya lain dari botol plastik kini ditemukan dalam darah manusia. | Foto: Ecoton

#23 Zat Berbahaya: Ketika Darah Bercerita Lebih Jujur dari Iklan AMDK

Penelitian biomonitoring yang dilakukan Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH), ECOTON, dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga terhadap 32 perempuan pemilah sampah di Gresik menghasilkan temuan yang membuat kening berkerut. Dari 65 senyawa kimia yang dianalisis dalam darah dan urin, 23 di antaranya adalah bahan kimia plastik berbahaya—semuanya ditemukan pada seluruh peserta.

Dan lebih mencengangkan lagi: kadar bahan-bahan itu jauh lebih tinggi pada kelompok pekerja. Sebelum membaca tabel risiko, orang mungkin mengira ini “sekadar debu dari tumpukan plastik.” Tapi tidak. Ini racun-racun yang menyerang sunyi, perlahan, menumpuk, dan akhirnya mengubah hidup.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
  • Ftalat (DEHP) pada pekerja dua kali lebih tinggi dari kelompok kontrol. Dampaknya? Gangguan hormon reproduksi, risiko menurunkan kesuburan, hingga potensi gangguan perkembangan janin.
  • Bisphenol A (BPA) jauh lebih ekstrem: 2,3 kali dari kontrol, 10 kali dari perempuan Korea, dan 7 kali dari perempuan Amerika Serikat. BPA terkenal dengan reputasinya sebagai pengganggu estrogen.
  • PAH, kelompok senyawa pemicu kanker, juga 2,8 kali lebih tinggi pada pekerja.
  • Flame retardants, senyawa perusak tiroid dan hati, 2–3 kali lebih banyak.

Seluruh peserta juga memiliki kadar timbal tinggi—neurotoksin yang bisa menurunkan kecerdasan, merusak hormon, hingga memicu risiko cacat pada janin.

Dr. Won Kim dari WIOEH tidak berputar-putar dalam pernyataannya: “Kondisi ini tidak boleh diabaikan. Paparan kronis terhadap senyawa seperti BPA dan ftalat dapat mengganggu metabolisme dan kesehatan reproduksi. Pemerintah harus turun tangan.”

Sementara itu, Dr. Lestari Sudaryanti dari Fakultas Kedokteran UNAIR menegaskan perlunya standar perlindungan pekerja yang lebih kuat. “Paparan setinggi ini sangat mengkhawatirkan, terutama bagi pekerja perempuan. Kita butuh regulasi ketat dan pengurangan paparan,” ujarnya.

Plastik tak hanya mencemari sungai—ia masuk ke tubuh kita. Ecoton mengajak masyarakat Surabaya & Jatim mengurangi air minum kemasan untuk mencegah paparan mikroplastik. | Foto: Ecoton

#Dari Sungai, Ke Udara, Ke Tubuh Kita: Akar Masalah yang Tak Lagi Bisa Ditutupi

Aksi para aktivis di Surabaya bukan hanya simbolik. Ini reaksi terhadap sistem yang macet di banyak sisi. Dr. Daru Setyorini, Direktur Ecoton menyebutkan bahwa 60% sampah plastik di Indonesia tidak terkelola.

“Ketika sampah plastik berakhir di sungai atau ruang terbuka, para pekerja yang memilahnya adalah pihak pertama yang terpapar. Temuan ini harus jadi alarm keras,” tegasnya.

Kita hidup di negara di mana plastik sekali pakai seperti tas kresek, styrofoam, dan botol air minum masih dianggap “praktis”. Padahal praktis untuk merusak kesehatan jauh lebih tepat.

Persoalan plastik bukan hanya tentang sampah yang menumpuk atau pemandangan sungai yang muram. Ia tentang darah manusia—darah pemulung, darah pekerja informal, bahkan darah kita.

Aksi di Mulyorejo hanyalah permulaan. Dari poster-poster yang berkibar itu, warga Surabaya dan Jawa Timur diajak memulai langkah paling sederhana namun paling penting, berhenti memakai plastik sekali pakai, terutama air minum dalam kemasan.

Dari jalanan Surabaya, suara itu sudah bergema. Pertanyaannya: apakah kita siap mendengarnya?***

Artikel Lain:

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *