Kesadaran menjaga lingkungan tumbuh dari laku sehari-hari mahasiswa: menanam di halaman rumah, merawat tanah kosong, hingga memastikan tak ada sebutir nasi tersisa di piring.
Kepedulian lingkungan kerap dibayangkan sebagai kerja besar, aksi massa, advokasi kebijakan, atau kampanye publik. Bagi sejumlah mahasiswa yang sedang studi independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), kesadaran itu justru tumbuh dari ruang paling dekat, rumah, halaman, dan kebiasaan kecil yang dijalani berulang.

Seperti yang dijalani Dewi Puspita Sari, mahasiswa perempuan Program Studi Penyuluhan Pertanian Universitas Negeri Jember angkatan 2023. Ia memulai langkahnya dari halaman rumah. Bagaimana ia mengoleksi dan membudidayakan bibit tanaman.
Dewi menyebutkan bibit tanaman yang kerap ia tanam bukan hanya tanaman buah. Tapi juga sayuran, tanaman obat, hingga bunga.
Aktivitas itu mula-mula ditujukan untuk diperjualbelikan. Seiring waktu, pembibitan berubah menjadi kebiasaan yang berorientasi pada kepedulian lingkungan. “Menanam bukan hanya soal panen, tapi soal menjaga tanah tetap hidup, ” ucap Dewi, Kamis, (5/1/2026).
Dewi berasal dari Mojokerto Jawa Timur ini, memiliki pendapat, tanaman berfungsi lebih dari sekadar penghias pekarangan. Akar-akar tanaman membantu meningkatkan daya serap air tanah dan meminimalkan risiko banjir di lingkungan tempat tinggalnya.
“Halaman yang hijau juga mencegah lahan kosong berubah menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Udara terasa lebih sejuk, ruang hidup menjadi lebih layak, “ terangnya.
Dari sisi ekonomi, Dewi juga merasakan manfaat langsung bertanam. Hasil panen buah dan sayur mengurangi pengeluaran rumah tangga. Terutama kenanga, kata Dewi, dimanfaatkan untuk keperluan ziarah. Sebagian hasil panen dibagikan kepada tetangga.
“Ini sebuah cara saya sederhana memperkuat hubungan sosial, “ kata Dewi. “Mungkin bisa dibilang sebagai amal jariyah keluarga,” ujarnya.
Konsistensi Dewi dalam berkegitan menanam tidak lepas dari dukungan orangtua. Sejak kecil, ia dibiasakan bercocok tanam. Dari sana tumbuh kedekatan emosional dengan alam. Ia belajar, tanaman juga memiliki batas.
“Tanaman perlu ruang untuk tumbuh sehat. Terlalu banyak bahan kimia atau sayatan pisau justru menyakiti, seperti manusia,” kata Dewi.
Cerita lain datang dari Devin Jauhar Bernadien, mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya angkatan 2023. Kisahnya bermula dari kenakalan masa kecil di kampung halaman di Lamongan, Jawa Timur. Bersama kawan-kawan sekelas sekolah dasar, ia pernah mencuri bibit tanaman, mangga, jambu klutuk, juga jambu air milik tetangga. Tindakan yang kala itu bisa dianggap konyol oleh orang dewasa.
Bibit itu mereka tanam di tanah kosong milik orangtuanya. Kemudian bersama kawan-kawan itu, ia merawatnya sambil bermain. Tidak ada target besar yang ia pikirkan, apalagi kesadaran ekologis yang dirumuskan. Hingga tanaman-tanaman itu sekarang berbuah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Kami panen besar, makan sampai kenyang. Rasanya senang sekali,” kata Devin.
Enam tahun berlalu, tanaman hasil “curian” itu tetap tumbuh subur dan berbuah lebat. Saat reuni, Devin dan kawan-kawan kembali ke tempat itu. Mereka bertemu dengan tetangga pemilik bibit yang dulu diambil diam-diam.
“Beliau sudah merelakan. Bahkan buahnya sekarang bebas diambil warga,” ujarnya.
Lahan yang dulu panas dan gundul kini berubah menjadi ruang rindang dan sejuk. Kenakalan sosial beralih rupa menjadi kebaikan lingkungan. Devin menyebutnya seperti hala diungkapkan Dewi, sebagai amal jariyah, lahir tanpa rencana, tumbuh karena keikhlasan.

#Sepiring Nasi dan Etika Kehidupan
Jika Dewi dan Devin berbicara tentang tanah dan tanaman, Muhammad Rizky Fathoni, mahasiswa Ilmu Kimia Universitas Bojonegoro angkatan 2023, memulai kepeduliannya dari meja makan. Prinsip hidupnya tegas: tidak boleh ada satu butir nasi tertinggal di piring.
“Itu sudah jadi prinsip hidup saya,” kata Rizky, asal Bojonegoro ini.
Prinsip itu ditanamkan orang tuanya sejak kecil. Bagi Rizky, nasi bukan sekadar makanan, melainkan hasil kerja panjang, petani, tanah, air, dan waktu. Menyisakan makanan berarti menyia-nyiakan seluruh proses itu.
Karena keyakinan itu, Rizky kerap menegur orang-orang di sekitarnya ketika melihat nasi tersisa. Teguran yang mungkin terasa remeh, tetapi baginya penting. Ia melihat pemborosan pangan akan memunculkan waste food (sampah makananan) sebagai bagian dari persoalan baru terhadap krisis lingkungan. Dan itu kerap tidak disadari.
Pengalaman di Wonosalam, Jombang, memperkuat sikap Rizky. Saat makan bersama mahasiswa lintas kampus, Universitas Negeri Malang dan Universitas Trunojoyo Madura, Rizky meminta temannya menghabiskan nasi goreng yang tersisa.
“Saya hanya mengingatkan. Kalau kita tidak menghargai makanan, berarti kita juga tidak menghargai alam,” ujarnya, sambil mengatakan, sisa nasi goreng yang dibeli itu ia habiskan.
Di Ecoton, kisah-kisah seperti ini menemukan ruang refleksinya. Tidak semua kepedulian lingkungan lahir dari aksi besar. Sebagian tumbuh dari kebiasaan yang dijaga, yaitu menanam, merawat, tidak menyisakan.
Perubahan, dalam cerita para mahasiswa ini, bekerja perlahan. Perubahan itu berakar di halaman rumah, di tanah kosong, dan di sepiring nasi, tentu saja secara pelan, tetapi nyata.***