Lewati ke konten

Melawan Stigma, Film ‘Maira’ Potret Papua Lewat Mata Masyarakat Adat

| 3 menit baca |Rekreatif | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua lahir dari perjalanan panjang menjelajah pedalaman, melibatkan komunitas lokal, serta merekam hubungan masyarakat Papua dengan hutan.

Proses produksi film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua tidak berlangsung mudah. Sutradara Anggi Frisca harus menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika mencari lokasi syuting di wilayah pedalaman Papua yang sulit dijangkau.

Dalam tahap pengembangan cerita, Anggi bersama tim bahkan harus berjalan kaki menelusuri sejumlah kawasan hutan. Perjalanan itu mempertemukan mereka dengan masyarakat adat yang jarang tersorot dalam produksi film nasional.

Langkah mereka terhenti ketika berjumpa dengan warga dari suku Mairasih, salah satu sub-suku besar di wilayah Kaimana, Papua Barat. Pertemuan itu meninggalkan kesan kuat bagi Anggi.

“Pertama kali saya melihat satu suku di Papua dengan baju adat kulit kayu warna putih, itu kan jarang banget,” kata Anggi mengenang kepada Tempo, 13 Januari 2026.

Dari pengalaman yang ia jalani, kemudian terinspirasi menciptakan karakter Maira dalam film ini. Meski begitu, Anggi menegaskan kisah yang diangkat bukan dokumentasi tentang satu kelompok adat tertentu.

Menurut dia, film tersebut merupakan cerita fiksi yang lahir dari berbagai pengalaman dan ingatan selama sering berkunjung ke Papua.

“Makanya secara cerita aku tidak membicarakan ini adalah tentang geografis Kaimana, tapi ini adalah Papua,” ujarnya.

#Melibatkan Komunitas Lokal Papua

Salah satu pendekatan yang diambil dalam produksi film ini Anggi melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Founder at Aksa Bumi Langit itu menyebut sekitar 70 persen sumber daya manusia dalam produksi berasal dari komunitas di Papua.

Langkah itu dilakukan agar masyarakat tidak hanya menjadi objek pengambilan gambar, tetapi juga bagian dari proses kreatif.

“Kita mau ada pertukaran pemikiran dan melibatkan mereka semua hadir sehingga mempunyai rasa di film ini,” kata Anggi.

Akan tetapi, proses membangun kepercayaan dengan masyarakat adat tidak berlangsung singkat. Tim produksi harus menjalani pendekatan yang bersifat persuasif dan kekeluargaan.

Menurut Anggi, proses itu bahkan berlangsung selama sekitar tiga pekan sebelum kegiatan produksi benar-benar dimulai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Kami sampai upacara dua kali kayak musyawarah dulu, setelah itu buka makan-makan lagi, diskusi lagi,” ujarnya.

Pendekatan yang ia lakukan itu, akhirnya membuka jalan bagi tim film untuk bekerja bersama masyarakat setempat. Warga menerima kehadiran mereka karena tema yang diangkat berkaitan erat dengan hutan, ruang hidup yang sangat penting bagi masyarakat Papua.

“Bagaimana peran hutan itu penting dan hutan bagian dari hidupnya teman-teman Papua,” kata Anggi.

#Budaya Papua Hadir dalam Film

Selain lanskap alam, film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua juga menghadirkan berbagai unsur budaya lokal. Mulai dari busana adat, lagu daerah, hingga lukisan prasejarah yang menjadi bagian dari visual cerita.

Anggi juga memasukkan unsur legenda yang pernah ia dengar dari warga di salah satu kampung di Papua. Legenda itu berkisah tentang burung garuda raksasa yang sayapnya begitu besar hingga menutupi sebuah kampung.

“Jadi dulu aku sempat dengan cerita burung garuda yang sayapnya besar banget sampai menutupi kampung,” katanya.

Sementara untuk musik latar, Anggi mempercayakan penggarapannya kepada Joan Wakum, penyanyi asal Papua yang dikenal lewat ajang Indonesian Idol. Ia membawakan lagu berjudul Sa Pu Kampung.

Lagu yang dirilis tahun 2025 itu, menyuarakan hubungan erat masyarakat Papua dengan tanah dan hutannya. Liriknya bahkan menggunakan bahasa lokal Mairasi.

“Lagu ini tentang hutan ini hutan kita, ini tanah kita, jangan ambil hutan kita,” kata Anggi.

Film yang dibintangi Aldifi Tegarajasa dan Elisabet Sisauta, dengan Chandar Sembiring sebagai produser, mulai tayang 5 Februari 2026.

Selain penayangan di jaringan bioskop, rumah produksi Aksa Bumi Langit juga menginisiasi gerakan nonton bareng di berbagai daerah di Indonesia agar pesan film ini dapat menjangkau lebih banyak penonton. Ayo menonton! ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *